
Dalam keheningan malam, hanya hembusan nafas dari kedua orang pria yang duduk saling berdampingan terdengar. Rangga bercerita panjang lebar sedangkan Ernest, menjadi seorang pendengar.
"Kau tidak perlu bertanya seberapa besar Aku mencintai Anastasya dan seberapa ingin diri ini memilikinya." Rangga menarik nafas dalam. "Tapi takdir seolah tak pernah merestui kami untuk bersama." Rangga seperti putus asa. Dirinya hanya menatap kosong ke depan. Berbicara tentang masa lalu yang seakan tak pernah ia lupakan sampai detik ini.
"Aku masih mengingat jelas wajahnya saat kami pertama bertemu." Tiba-tiba bibir Rangga tersenyum. Ia membayangkan seperti apa wajah Anastasya dulu. "Aku melihatnya di pusat perbelanjaan. Dia bekerja di sana. Wajahnya, senyumnya, sampai sekarang pun aku masih ingat." Helaan nafas kembali terdengar.
Di tempat duduknya, Ernest hanya diam dan mendengar. Ia juga tak ingin bertanya apa lagi menyelah. Ernest Rasa jika sang Paman hanya membutuhkan teman untuk berbicara dan mendengar seluruh keluh kesahnya. Rupanya, Anastasya yang merupakan Ibu dari Natasya bukan hanya memiliki hubungan masa lalu dengan Ayahnya tetapi juga Rangga, yang merupakah sahabat dari Ayahnya.
"Saat Nenekmu menerima Ibumu yang memang dari kalangan biasa untuk dinikahi oleh Ayahmu, nyatanya itu tak serupa dengan Ibuku. Orang tua Paman menentang keras hubungan kami. Bukan hanya menentang tapi terus berusaha untuk memisahkan kami." Rangga menjeda ucapan. Kali ini ia menoleh pada Ernest yang tak sedang menatapnya.
"Ernest, kau sudah dewasa dan aku pun sudah mengangapmu seperti putraku sendiri. Maka dari itu tak ingin ada masa laluku yang ku tutupi."
Ernest Kini menatap Rangga, hingga keduanya saling berpandangan.
"Maksud Paman?."
"Mendiang Kakakmu Abigail, dia bukanlah putra Ayahmu dengan Anastasya." Rangga lebih dulu menghela nafas sementara Ernest menyimak dan memahami setiap ucapan dari sang Paman. "Tetapi Abigail adalah putra Anastasya denganku."
Ernest terkesiap. Lebih tepatnya syok.
"Sebentar, maksud paman?." ernest kebingungan, pria itu tak mengerti.
"Ya, sebelum menikah dengan Ayahmu Anastasya sempat berhubungan denganku. Disitulah Anastasya hamil, namun Ayahmu lah yang kuminta untuk bertanggung jawab."
Kebenaran macam apa lagi ini?. Belum reda rasa terkejutnya tentang masa lalu Paman serta Ayahnya, Ernest justru kembali disuguhi oleh kenyataan yang lebih mengejutkan dari sebelum-sebelumnya.
"Maaf tapi ketahuilah, Nak. Pasti ada alasan di balik kejadian yang ada." Rangga sadar, kejujurannya pasti membuat Ernest mulai membencinya. "Aku yakin jika selama ini Ayahmu tidak pernah menceritakannya, itu sebab yang membuatmu terkejut."
__ADS_1
Ernest tak menjawab seolah membenarkan.
"Hubungan kami memang rumit, tetapi setelah Ayahmu menikah dengan Ibumu lalu Anastasya meminta untuk diceraikan, mungkin pada titik itulah mereka berfikir jika prahara yang hadir akan berakhir. Akan tetapi, nyatanya tidak. Aku rasa kedua orang tuamu justru berkubang dengan penyesalan sama seperti diriku. Anastasya memilih pergi, tanpa membawa apa pun juga menolak semua pemberian dari Ayahmu."
Sesaat hening. Kedua pria itu seperti disibukkan dengan fikiran masing-masing.
"Maka dari itu, pertemuan ini seperti benar-benar dimanfaatkan kembali oleh orang tuamu untuk menebus kesalahan mereka, ya meski pun sejatinya orang tuamu tak bersalah. Jika kehadiran orang tuamu diterima Anastasya dengan tangan terbuka, tetapi sepertinya tidak denganku. Aku sadar, karna kesalahan di masa lalu lah yang mungkin membuat Anastasya kesulitan untuk menerimaku, tetapi aku tidak akan menyerah secepat ini." Seperti itu kiranya tekad Rangga. Dalam diam, Ernest menelah seluruh cerita Rangga. Dirinya sudah tau sekarang. Dari hubungan keluarganya dengan Ibu dari Natasya tersebut juga kehidupan di masa lalu mereka.
Rangga masih saja bercerita sementara Ernest tetap menjadi pendengar. Pria tampan itu tak menyangka, Jika sang Ayah memiliki kisah cinta yang rumit dan mungkin.. Menegangkan. Dari kisah cinta sang Paman, Ernest dapat mengambil sebuah kesimpulan. Di mana dalam setiap hubungan harus ada perjuangan sebelum pada akhirnya timbul penyesalan.
💗💗💗💗💗
Akhir pekan. Ernest rupanya sudah merancang agendanya sendiri di luar dunia pekerjaan. Pagi ini, pria berambut gondrong itu sudah terlihat rapi dengan celana bahan dan kemeja semi formal yang menutupi tubuh tinggi sempurnanya. Pria itu ingin menikmati akhir pekan dengan mencari udara segar dan.. Berkunjung kerumah Natasya.
Ernest sendiri tak memberitahukan perihal kemana tujuannya pada sang Ibu. Sementara ini dirinya ingin lebih dulu merahasiakan. Toh ini pun hanya agenda berkunjung biasa, tidak lebih.
"Kau di mana?." Ernest menghubungi sang Sekretaris selepas kuda besi yang ia kendarai berhenti di depan pintu gerbang rumah yang ingin ia datangi.
"Saya di rumah, Tuan. Ini akhir pekan, Apa Tuan membutuhkan sesuatu?." Suara dari seberang terdengar. Natasya pasti kebingungan. Pasalnya saat libur kerja Ernest sama sekali tak pernah menghubunginya.
"Ya, sekarang buka pintu gerbang rumahmu. Aku ingin masuk."
"Hah?." Terdengar suara seperti seseorang sedang berlari dan benar saja, Natasya terlihat menengok dari tirai jendela kamar dan Ernest bisa melihatnya.
"Cepat buka sebelum aku tabrak pintu pagarnya."
"Ba-baik, tunggu sebentar." Tubuh Natasya menghilang dari kaca seiring panggilan telefon yang diputus sepihak. Di belakang kemudi Ernest tergelak. Ia mengacungkan jempol kearah penjaga keamanan kediaman Natasya. Rupanya mereka sempat bersekongkol. Ernest menolak saat dibukakan pagar dan meminta agar sang pemilik rumah yang membukanya.
__ADS_1
Ernest lekas memasang wajah datar begitu melihat Natasya tergopoh keluar dari pintu rumah dan berlari menuju pagar.
Ernest terdiam. Di dalam mobil saat ini fokusnya benar-benar tertuju pada Natasya. Gadis itu berpenampilan sangat berbeda dari hari biasa saat bekerja. Wajar saja mengingat ini hari libur serta kedatangannya yang tanpa pemberitahuan.
Natasya yang setengah berlari membuat rambut panjangnya yang tak terikat bergoyang indah kesana kemari. Serta pakaiannya.., tanpa sadar Ernest meneguk ludah saat Sang sekretaris hanya mengenakan kaos berwarna putih dan celana jins pendek yang memperlihatkan sepasang paha yang putih mulus.
"Siial." Ernest mengumpat. Apakah ia datang diwaktu yang tak tepat?.
Pintu pagar terbuka lebar, Natasya sengaja membukanya selebar mungkin agar sang Tuan tidak semakin banyak bicara.
Mobil yang dikendarai Ernest melaju pelan. Begitu berada tepat di samping Natasya berdiri, kuda besi itu terhenti.
Kaca mobil diturunkan, dan seraut wajah Ernest pun terlihat.
"Selamat pagi, Natasya," sapa Ernest dengan menaikkan sudut bibir.
Natasya sendiri menelan salivanya susah payah.
"Pa-pagi juga, Tuan," jawab sang gadis seraya menganggukkan kepala.
"Natasya, lain kali kau bisa berpakaian lebih tertutup saat membuka pagar untuk tamu." Selepas berucap, Ernest menutup kaca mobil dan melajukkan kembali kuda besinya menuju garasi.
Di tempatnya, Natasya terpaku dengan mulut setengah mengangga. Begitu memahami ucapan sang atasan, ia pun meneliti penampilan.
"Hah, pakaianku?." Gadis itu meringis. Hendak menyesal pun percuma. Ia lekas menutup kembali pagar dan berlari menuju pintu samping. Rasanya ia tak sanggup untuk masuk lewat pintu depan dan bertemu lagi dengan Ernest dengan pakaian seperti ini. Malu.
Tbc.
__ADS_1