CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Peringatan Pertama


__ADS_3

Brakk..


Pintu rumah yang semula tertutup rapat itu kini didobrak. Hingga menghasilkan suara yang memekakkan telinga dan membuat si empunya rumah terperanjat.


Retno yang hendak membaringkan tubuh lelahnya sontak bangkit. Tergesa perempuan paruh baya itu keluar dari kamar untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


Tubuh Retno gemetar. Kini dihadapannya sudah berdiri beberapa pria berwajah sangar dengan tubuh kekar. Bukan hanya satu, tetapi ada lima pria yang membuat Retno teramat ketakutan.


"Ibu, ada apa ini?" Anak gadis Retno yang tadinya sudah terlelap, ikut bangun. Ia pun terkejut saat rumahnya disambangi beberapa pria menyeramkan yang spontan membuatnya ketakutan hingga memeluk erat tubuh sang ibu.


Retno hanya bisa menggeleng. Bibirnya membeku, tak mampu berucap walau hanya sepatah kata.


"Kemana saudaramu membawa pergi tuan Praja dan nona Isabel. Cepat katakan!" Satu pria berucap dengan tangan menggebrak meja.


Retno dan sang putri terperanjat. Kedua perempuan itu kian mengeratkan dekapan. Suasana mulai mencekam saat dua pria lain justru berjalan mendekatinya.


"A-apa maksud anda. Sa-saya tidak tau apa-apa."


"Bohong!" Suara pria itu menggelegar. Begitu memekakkan telinga. "Cepat jawab atau kau akan mendapat hukuman yang setimpal."


Retno masih terdiam. Perempuan paruh baya itu masih membaca situasi.

__ADS_1


Saudara? Tuan praja, Nona Isabel. Apa benar yang mereka maksud adalah Ratih?


"Cepat katakan!!"


"Sa-saya benar-benar tidak tau apa-apa tuan. Demi tuhan, saya bersumpah."


Brakk


Lagi-lagi pintu rumah Retno seperti hendak dihancurkan paksa, namun kali ini wajah Arum-lah yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh para suruhannya.


"N-nyonya Arum," gumam Retno dengan bibir gemetar.


"Kenapa? Kau terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba ke istana reotmu ini?" Arum menyerigai. Seperti serigai mengejek lebih tepatnya.


"Stop! Aku tak ingin mendengar alasanmu, yang aku tanyakan adalah dimana saudara perempuanmu itu membawa kabur suamiku. Di mana? Kau pasti mengetahuinya 'kan. Jadi cepat katakan sebelum aku berbuat nekat."


Retno kebingungan. Tubuhnya gemetar luar biasa dengan peluh dingin yang mulai membanjiri tubuh.


"Demi tuhan Nyonya. Sa-saya tidak tau apa-apa." Begitulah adanya. Retno memang tak tau apa pun tentang kepergian saudara perempuan bersama kedua majikannya. Ratih hanya pernah membahas perihal brankas mendiang nyonya Laura yang sengaja ia wariskan pada putrinya, tetapi tidak pernah menyinggung apa pun perihal rencana kepergian mereka.


Braak.

__ADS_1


Arum yang mulai geram seolah tak puas dengan jawaban yang keluar dari bibir Retno, menendang sebuah kursi yang berbahan anyaman Rotan hingga membentur dinding.


"Bohong." Arum mendekati Retno dan putrinya yang masih saling mendekat. Arum menarik tubuh putri Retno cukup kencang hingga dekapan keduanya terlepas.


"Aww." Putri Retno memekik kesakitan saat satu tangan Arum menarik kuat rambut panjang gadis beliai itu. Retno terbelalak. Sepasang matanya berkaca-kaca. Putrinya terlihat begitu kesakitan, namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa selain mengiba.


"Jangan, nyonya. Saya mohon, jangan sakiti putri saya nyonya," mohon Retno seraya menangkupkan kedua tangan.


"Kenapa? Tidak tega melihat putrimu kuperlakukan seperti ini?" Tanya Arum dengan bibir menyerigai pada Retno. Ia masih belum puas sebelum membuat gafis belia itu sampai menangis. Arum pun mencengkeram kulit kepala putri Retno hingga spontan membuat wajah gadis itu mendongak akibat hentakan yang cukup keras di bagian kepalanya.


"Nyonya! Jangan nyonya, saya mohon." Retno meratap. Ia tak sanggup jika sang putri mendapatkan perlakuan yang begitu menyakitkan.


"Maka jawab yang jujur, ke mana mereka pergi!" Arum benar-benar meninggikan suaranya namun juga belum melepaskan tangannya dari rambut putri Retno.


"Demi tuhan saya tidak tau nyonya. Saya berani bersumpah. Saya tidak tau kemana mereka pergi." Retno kini sudah berlutut. Para pria suruhan Arum hanya bis tersenyum sinis. Mereka seperti mendapat hiburan tersendiri saat memandang kedua perempuan yang terlihat begitu ketakutan itu.


Arum benar-benar geram. Bagaimana mungkin perempuan itu masih bersikap menutupi keberadaan saudaranya saat sang putri sendiri sudah begitu kesakitan. Atau jangan-jangan benar jika retno memang tak mengetahui apa pun tetang rencana kepergian mereka, sama seperti dirinya?


Sial.


Arum menghempaskan tubuh putri Retno ke lantai. Dia menghela nafas kasar berulang. Emosimya benar-benar memuncak saat ini.

__ADS_1


"Baik. Ini peringatan pertama dariku, tapi ingat! Setelah ini jangan harap aku bisa berbaik hati. Nyawa kalian ada dalam gengamanku. Sekali lagi kau berkata 'tidak tau', maka jangan harap kau masih bisa melihat hari esok." Selepas berucap Arum berbalik badan dan pergi dengan sikap angkuh. Bukankah itu kompensasi yang tepat fikirnya. Sebab, kepergian Isabel dan Praja, sudah menjadi momok tersendiri untuknya. Jujur, Arum diliputi ketakutan yang mendalam. Ia taku jika Isabel mencari bala bantuan dan berniat untuk balik menyerangnya. Jadi wajar, jika semenjak kepergian Suami beserta putri tirinya, Arum tak bisa lagi bernafas lega. Ia mulai terpuruk, diliputi ketakutan dan juga tak merasa leluasa untuk bergerak.


Tidak. Arum tak ingin hidupnya hancur saat ini. Ia tak terima jika semua yang sudah ia dapat dengan susah payah, harus musnah kembali. Ia tak ingin hidup miskin. Ia tak mau kembali menjadi gelandangan seperti dulu. Ia tidak sudi. Tidak.


__ADS_2