
Senja ini Anastasya pulang dari toko bunga lebih awal dari biasanya. Selepas memeriksa stok bunga dan membaca laporan keluar masuknya barang dari orang kepercayaannya, perempuan itu memilih pulang. Natasya pun sempat menghubungi, mengatakan jika ingin di buatkan beberapa masakan untuk makan malam.
Anastasya sendiri hanya meng-iyakan, lagi pula sudah sering putrinya meminta hal seperti ini. Gadis yang memang cukup pemilih untuk urusan makanan itu selalu menginginkan menu makanan yang bervariasi setiap harinya yang tentu dibuat sepenuhi hati oleh Ibunya.
Sama seperti dirinya, sang putri cukup menyukai daging olahan namun bukan dari produk instan melainkan hasil kreasi kedua tangannya. Sosis, nuget, baso, sampai siomay, Anastasya selalu membuat stok cukup banyak di dalam kulkas. Sedangkan Natasya sendiri memang tergolong gadis yang kurang bermain-main di dapur. Ia hanya melihat dan sedikit membantu kerja sang Ibu. Bukannya tak ingin namun saat ia terjun langsung yang ada justru mengacau pekerjaan Ibunya.
Anastasya tersenyum. Memang dirinya tak memaksakan putrinya untuk bisa memasak seperti dirinya, namun sang putri pun punya keahlian lain. Natasya rupanya pintar membuat kue. Kering atau pun basah, gadis itu cukup menguasainya. Terkadang setiap akhir pekan, putrinya itu akan berkutat di dapur untuk mencoba resep kue baru yang ia dapat dari internet, dan rasanta pun tergolong enak sebab ada seorang pelayan yang selalu mendampingi.
Selepas beristirahat sejenak, Anastasya terjun langsung ke dapur. Ia akan memasak sesuai pesanan putrinya.
"Dia bilang aku harus memasak lebih banyak dari biasanya, memangnya kenapa?. Klau untuk kita berdua dan para pekerja di rumah ini, bukankah porsi yang biasanya saja sudah lebih dari cukup?." Anastasya bermonolog. Saat bibi pelayan datang perempuan itu meminta tolong untuk mempersiapkan bahan sebelum menuju proses pengolahan. Ia ingin sebelum waktu makan malam nanti apa yang diinginkan sang putri sudah terhidang.
Saat salah satu dari beberapa menu yang dimasak itu matang, Natasya sudah tiba di dapur dengan memakai pakaian kerjanya saat berangkat tadi pagi. Rupanya gadis itu sudah pulang bekerja, tapi apa itu?.
Selepas mengucap salam dan mencium punggung tangan serta pipi sang Ibu, Natasya justru menaruh sebuah kotak bekal makan di wastafel, dan pandangan Anastasya tertuju pada benda berwarna merah muda tersebut. Dahinya mengernyit, sedikit bingung sebab pagi tadi dirinya tak membuatkan bekal untuk sang putri.
"Nak, pagi tadi kau membawa bekal, bukankah kita sudah sarapan bersama?."
Natasya yang tersadar jika diperhatikan oleh sang ibu, mengulum senyum.
"Em, itu bekal yang diberi oleh Tuan Ernest. Meski sudah kenyang, aku tidak enak untuk menolak sebab beliau bilang jika bekal itu Nyona Zara yang membuat."
Anastasya mengangguk patah-patah. Kemudian menarik nafas dalam. Rupanya ia pun senang atas perhatian yang diberikan oleh mantan madunya itu kepada putrinya.
"Kenapa, apa Ibu keberatan aku memakannya?." Terbesit rasa tidak nyaman atas keterdiaman Ibunya.
__ADS_1
"Oh, tidak. Ibu justru senang sebab Zara juga memperhatikanmu."
Natasya tersenyum lebar, aura kebahagian serasa melingkupinya.
"Ibu, sore ini bolehkah aku membuat kue kering untuk camilan?."
"Camilan, boleh saja, kenapa tidak." Tetapi kenapa membuatnya sore-sore seperti ini?. Tidak seperti biasanya.
Meski dipenuhi tanya namun Anastasya tak ingin memperpanjang. Ia biarkan keinginan sang putri agar gadis itu senang.
Natasya terlihat masuk ke kamar dan sepuluh menit berselang gadis itu sudah menukar pakaian kerjanya dengan kaos dan celana pendek. Rupanya gadis itu ikut bergabung dengan Ibunya di dapur untuk membuat kue.
Anastasya memasak dibantu dengan bibi pelayan, begitu pun dengan Natasya. Entah kue apa yang hendak dibuat sang putri namun sepertinya gadis itu terlihat antusias dan melalui prosesnya dengan sepenuh hati.
Dres rumahan yang melekat ditubuh Anastasya terlihat begitu pas membungkus tubuhnya. Meski di rumah pun Anastasya selalu menjaga penampilan. Meski hanya mengunakan pakaian atau stelan rumahan, namun apa pun yang dikenakan perempuan itu akan terlihat elegan dan mahal meski berbahan murahan. Anastasya sendiri mengakui akan hal itu. Ia juga berfikir apa karna sang Ibu yang merupakan mantan model model itu memang dianugerahi paras dan tubuh nyaris sempurna sampai pada saat beliau tampil apa adanya pun sudah membuat orang lain terpesona dibuatnya. Ibunya mempunyai daya pikat tersendiri meski hanya duduk diam tanpa berniat memikat orang lain.
Berbagai menu masakan yang sedari tadi diolah, sudah terhidang di meja. Begitu pun camilan buatan Natasya yang sudah dikemas di beberapa wadah kaca. Tampak mengugah selera dan membuat siapa pun yang melihat untuk mencicipi.
Anaatasya sudah menunggu putrinya. Duduk dan mulai mengisi piring buah hatinya dengan beberapa sendok nasi putih.
"Wah, kelihatannya enak." Natasya yang baru muncul dengan stelan berwarna Navy itu menghampiri sang Ibu. Lagi, Anastasya mengernyitkan dahi saat penampilan sang putri pada makan malam bersamanya ini cukup berbeda. Stelan, putrinya mengenakan stelan sedangkan saat makan biasanya ia hanya akan memakai piyama tidur atau pun kaos dan jelana pendek.
Meski hanya stelan biasa, berwarna Navy dengan sebawah lutut namun mampu membuat penampilan putrinya yang memang sudah cantik itu semakin menawan. Lagi, Anastasya tak ingin memperpanjang, terlebih saat seorang pelayan datang dan mengabarkan jika ada tamu yang datang.
"Ibu, biar aku saja. Ibu duduk dan mulai makan. Em, mungkin saja itu temanku yang datang," cegah Natasya saat Ibunya berniat untuk menemui sang tamu di depan.
__ADS_1
"Baiklah. Jika dia temanmu atau orang yang sudah kita kenal, ajaklah untuk makan malam bersama kita," titah Anastasya pada sang putri.
"Baik, Ibu."
Dengan tersenyum, Natasya meninggalkan Ibunya. Ia berjalan ke depan sementara sang Ibu melanjutkan kembali aktifitasnya yang terjeda. Menambahkan lauk serta sayur yang ia masak ke piring putrinya.
"Ibu."
Panggilan sang putri hanya dibalas dengan gumaman, ia masih sibuk membubuhkan nasi serta pelengkap ke dalam piringnya.
"Ibu, lihatlah siapa yang datang."
Lagi, pandangan Anastasya masih tertuju pada hidangan di atas meja.
"Hem, memangnya siapa yang datang?. Ayo ajaklah makan bersama de---" Anastasya tak mampu menyelesaikan kalimat saat pandangannya terarah pada sang putri dan sesorang yang kini berdiri di sampingnya. Tenggorokkannya seakan tercekik. Begitu pun dadaanya yang mendadak sesak seakan sulit untuknya bernafas.
"Selamat malam."
Suara seseorang itu mampu membuat tubuh Anastasya bergeyar. Tadinya ia sempat berfikir jika yang ia lihat hanya ilusi tetapi suara itu.
"Ibu, Tuan Rangga datang berkunjung, dan sesuai ucapan Ibu tadi maka aku mengajak beliau untuk makan malam bersama kita. Ibu tidak keberatan 'kan?."
Suara riang putrinya memecahkan lamunan Anastasya. Sungguh ia menyesal, kenapa tadi sempat memerintahkan sang putri untuk mengajak tamunya makan malam. Sedangkan jika sudah begini mana mungkin ia akan mengusir tamu yang sudah dibawa putrinya sampai meja makan.
Tbc.
__ADS_1