CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Cari Pengganti


__ADS_3

"Nak Ernest."


Anastasya dibuat terkejut dengan kedatangan putra dari sang mantan suami ke kediamannya. Perempuan itu berdiri, melangkah mendekat dengan pandangan tertuju pada sosok pria tampan yang sedang duduk di salah satu sofa ruang tamu.


"Selamat pagi, Nyonya." Ernest bangkit, dia mengulurkan tangan pada Ibunda sekretarisya untuk dijabat.


"Selamat pagi juga, Nak." Tanpa sadar Anastasya memangil Ernest dengan sebutan 'Nak' saat tangan keduanya saling berjabat.


Ernest tentu terkejut namun berusaha untuk terlihat tenang dan berpura tak mendengar.


"Duduklah, sepertinya Tasya masih berada di kamar." Anastasya mempersilahkan tamu putrinya untuk kembali duduk dan memanggil salah seorang pelayan untuk memangil Natasya agar turun menjumpai tamunya.


Sementara itu Ernest hanya mengulum senyum. Ia bahkan sudah bertemu Natasya begitu pun Natasya yang sudah mengetahui akan kedatangannya. Akan tetapi ia memilih diam saja, berpura tak tau apa-apa.


Anastasya terdiam, melempar senyuman saat pandangannya bertemu dengan Ernest. Perempuan itu kebingungan meski sekedar untuk membuka pembicaraan. Mereka masih saling belum mengenal dekat. Bertemu pun hanya beberapa kali dan tak terlibat pembicaraan dekat apa lagi hanya berdua.


"Nyonya, apakabar. Senang rasanya dapat bertemu kembali dengan anda meski saya datang tanpa diundang." Diakhir kalimat Ernest sempat tergelak. Anastasya yang semula tegang berangsur tenang. Rupanya Ernest sedang berusaha memecah kecanggungan.


"Baik, kabar Bibi sangat baik," jawab Anastasya antusias. "Tak apa, jika ingin datang tak usah menunggu undangan. Datanglah, pintu rumah kami selalu terbuka menerima kedatangan Nak Ernest kapan pun."


Hem, senang rasanya. Ernest tentu berbangga diri, rupanya tak susah untuk bisa masuk ke rumah Natasya atau mungkin sampai masuk ke keluarga mereka. Oops.


Tanpa sadar pria tampan itu mencubit pahanya sendiri.


Sadar, bodoh!. Ini masih terlalu dini.


Ernest merutuki isi fikirannya sendiri, dan tak lama berselang pelayan yang semula sempat ia lihat kembali datang dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan.


"Mari, Tuan," ujar sang pelayan mempersilahkan.

__ADS_1


"Terimakasih."


Anastasya menatap ke arah tangga yang menghubungkan lantas dasar dengan lantai ke dua kediamannya, di sana Natasya belum terlihat.


Kenapa lama sekali.


Anastasya terlihat resah, berbanding terbalik dengan Ernest yang terlihat santai dan malah terlihat meminum jus segar buatan pelayan serta mengunyah camilan yang terhidang. Duh, bisa-bisanya. Padahal di rumah, kantor atau pun tempat lain, Ernest jarang mengonsumsi camilan yang disajikan oleh pelayan keluarga Natasya, sebab pola hidup sehat yang dijalani Ernest beserta saudara kembar dan juga Ayahnya. Akan tetapi tampaknya pada hari ada pengecualian.


"Bibi, kuenya enak," ucap Ernest yang tak sungkan memuji camilan yang ia lahap.


Anastasya tentu terbelalak. Jarang, sangat jarang sekali para tamu yang berkunjung memuji makanan yang disajikan untuk sekadar pemanis bibir, dan sekarang kata-kata pujian tersebut bahkan keluar dari mulut seorang pria muda berdarah biru.


Aanastasya meneguk ludah. Ya, pria muda itu adalah putra dari Arka dan Zara. Keduanya memiliki sifat dan hati yang begitu bersih, jadi tidak mengejutkan jika sifat dari mereka menurun pada buah hati.


"Terimakasih, Nak. Bibi pelayan pasti sangat senang mendengar pujianmu."


Derap langkah kaki terdengar dari arah tangga, Natasya sudah terlihat dengan pakaian yang berbeda dari yang digunakan tadi saat membuka pintu gerbang untuk Ernest. Sang atasan tentu mengulum senyum, lekas memalingkan wajah agar senyum yang terlukis dibibirnya tak mampu dilihat oleh sang pemilik rumah.


Natasya mengulas senyum, menundukkan kepala pada Ernest dan menyapanya.


"Selamat datang, Tuan."


"Ya," jawab Ernest diiringi sebuah seringai yang diartikan Natasya sebagai sebuah ejekan. Ya mungkin Ernest menyadari jika pakaiannya kini sudah berganti menjadi lebih sopan.


Asem kau.


💗💗💗💗💗


Natasya tak mampu menolak saat Ernest meminta untuk ditemani berkeliling ke sekitaran kediamannya yang memiliki halaman cukup luas. Sudah dikatakan jika Natasya bukanlah putri dari orang sembarangan, jadi wajar bila meskipun Ayahnya sudah meninggal namun kehidupannya tak pernah kekurangan.

__ADS_1


Di bagian belakang rumah nan luas rupanya terdapat kolam renang dan juga beberapa gazebo yang sepertinya kerap kali digunakan untuk melepas penat.


"Wah, aku tak mengira jika bukan hanya bagian dalam rumahmu saja yang mewah tetapi bagian luarnya pun juga." Ernest berpendapat saat kedua insan itu masih berjalan menyusuri pinggiran kolam renang untuk menuju kearah gazebo.


"Ya seperti inilah, Tuan. Saya rasa jika Ayah pun sangat memikirkan kenyaman kami saat membuatnya." Natasya hanya bisa menjawab demikian. 'Membangunnya', hah hati Natasya bahkan serasa pedih saat mengucapnya. Sekarang ia sadar, saat pembagunan rumah ini mungkin saja sang Ayah masih berperang dengan penyakit yang bersarang di tubuhnya.


"Ayahmu pasti pria yang sangat baik." Ernest melirik pada sang sekretaris. Keduanya sudah berada di sebuah gazebo. Duduk saling berdampingan dengan menatap pada air kolam yang tenang tertimpa sinar mentari.


"Tentu saja, dan sampai sekarang pun saya masih merasa jika beliau masih ada di antara kami." Gadis itu mengerjap, lalu tertunduk namun beberapa detik kemudian tersenyum seolah mengatakan pada Ernest jika dirinya baik-baik saja.


"Maaf jika kata-kataku membuatmu sedih."


"Tidak masalah," jawab Natasya yang langsung memasang wajah senang dan diiringi dengan senyuman. "Bukankah setiap insan di dunia kelak akan tiada, hanya tinggal menunggu waktu saja. Tetapi aku bersyukur memiliki seorang Ayah hebat, seperti Ayah Kenan."


Ayahnya, cinta pertamanya. Dari sang Ayah Natasya mendapatkan segalanya. Kasih sayang, Pendidikan yang ia suka, dan apa pun yang ia inginkan. Semua ia dapatkan meski pun apa yang ia pinta terbilang tak menyulitkan sang Ayah untuk mendapatkannya. Ya, Natasya putri yang begitu baik bagi Kenan. Cerdas, cantik seperti Ibunya dan tak banyak kemauan. Natasya adalah permata bagi Kenan. Gadis kecil nan lincah itu benar-benar mengantikan buah hati pertamannya yang sudah tiada. Natasya adalah belahan jiwanya sampai saat terserang rasa sakit pun ia masih berfikir keras untuk memberikan kehidupan yang layak meski pun dirinya sudah tiada.


"Kau terlihat sangat menyayangi mendiang Ayahmu?."


"Tentu saja, Tuan. Beliau Ayahku, sudah pasti aku sangat menyayanginya." Pertanyaan Ernest tentu terdengar aneh di telinga Natasya.


"Sama seperti Ibumu, tentu beliau juga masih mencintai Ayahmu meski pun sudah tiada?."


"Tentu saja, Tuan." Natasya mulai kesal. Setelah membahas dirinya, kenapa sekarang sampai ke Ibunya?.


"Apa kau tidak berfikir, jika setelah ditinggal Ayahmu, Ibumu juga membutuhkan sosok penganti. Em maksudmu, sosok pria yang mengantikan Ayahmu. Maaf, jika lancang. Ah, lupakan. Anggap saja jika apa yang kutanyakan baru saja, tak pernah kau dengar." Ernest kembali menatap ke arah kolam renang namun tidak pada Natasya yang justru menatap Ernest dengan pandangan dalam.


Ah, benarkan gadis itu marah atau merasa tersinggung. Ernest masih fokus pada pandangan semula, begitu pun dengan Natasya yang masih menatap lekas pada sang atasan.


Kiranya seperti apa tanggapa Natasya selanjutnya. Apakah gadis itu murka atau justru berfikir jika ucapan Ernest memang ada benarnya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2