CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Keinginan Rangga


__ADS_3

Bukankah sebuah keberhasilan butuh dirayakan?.


Dewa keberuntungan mungkin sedang berpihak pada Rangga. Selepas keputusan Anastasya untuk menerima maksud baikknya, Ia beserta perempuan yang ia cinta serta putrinya mengunjungi pusat perbelanjaan untuk sekadar berjalan-jalan.


Rangga bukan hanya bahagia saat melihat Anastasya tersenyum senang, namun saat Natasya terlihat riang dan bergerak aktif di area khusus permainan layaknya bocah, diam-diam Rangga juga merasakan hatinya mengembang, dilingkupi kebahagiaan luar biasa.


Ya tuhan, rupanya seperti ini kehidupan Kenan dulu. Berdiri diantara istri dan putri yang ia sayangi


"Tasya, ayo sudah. Kau tidak lelah?." Anastasya bertanya pada sang putri yang sedang asik melempar bola ke dalam ring. Ia menatap tak enak pada Rangga yang duduk menunggu, tak jauh dari arena bermain anak.


Sementara yang di tatap hanya tersenyum dan seperti berkata jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Oh, maaf. Rupanya aku terlalu asik bermain sampai lupa diri." Gadis itu tergrelak dan menyudahi permainan. Huh lelah, tapi senang. "Tuan, maaf," sambung Natasya saat dirinya sudah berada di hadapan Rangga.


"Tidak masalah. Jika kalian senang, aku pun ikut senang."


Anastasya menunduk. Ia merasakan debar dalam tubuhnya yang tak biasa. Meski sudah tak lagi muda, namun ia tak menyakal akan adanya gelayar-gelayar aneh yang menjalar dalam tubuh saat Rangga sedang memberi perhatian meski hanya melalui ucapan.


"Ayo, kita berjalan-jalan lagi." Rangga yang begitu antusias pada malam ini, tampak mengiring dua wanita itu kesebuah toko pakai dan tas bermerk dari negara XX. Natasya dan Anastasya yang memang memiliki uang banyak, memang sudah sering membeli barang dengan brand tersebut namun kali ini terasa berbeda sebab ada orang lain yang khusus membawa mereka datang kemari.


Tidak ada perlakuan istimewa, ketiganya berbelaja dan berbaur denga para pembeli lain. Rangga merasa jika Anastasya pun tak akan mau dan justru tak nyaman saat toko yang mereka datangi di tutup untuk pengunjung lain demi hanya untuk melayani dirinya serta putrinya.


Rangga tau, Anastasya paling tak suka diperlakukan seberlebihan itu.


"Ayo, pilih saja yang kalian mau," titah Rangga pada kedua perempuan yang tak jauh dari hadapannya. Sementara kedua perempuan itu saling pandang. Natasya seperti sungkan namun dari isyarat pandangan sang Ibu seakan meminta pada anak gadisnya tersebut untuk tak menolak permintaan Rangga.


Beberapa pramuniaga bergerak sigap. Menawarkan produk terbaik dan menjelaskan beberapa kelebihan dari koleksi barang yang terpajang.

__ADS_1


Natasya yang memang masih muda tentu memiliki selera berbeda dengan sang Ibu. Tas dan sepatu kece dari brand ternama negara XX yang memiliki harga cukup fantastis menjadi pilihan. Tak berbeda dengan Sang Ibu, pilihan Anastasya tertuju pada tas merk XX dan dres cantik dengan brand sama yang juga memiliki harga fantastis. Selera ibu dan anak itu memang tak kaleng-kaleng, dan Rangga tentunya sama sekali tak masalah dengan jumlah tagihan yang ia bayar.


"Ayo, kita ke toko perhiasan." Selepas membayar, Rangga lekas menarik tangan Anastasya meninggalkan toko fashion.


"Tidak usah, ayo kita pulang saja," tolak Anastasya. Akan tetapi, Rangga abai dan tak memperdulikan. Pria itu terus menggandeng Anastasya menuju toko yang dimaksud. Sementara Natasya hanya berjalan mengekori sang Ibu dan kekasih barunya. Gadis itu sesekali meringis, menatap geli pada Rangga dan Ibunya yang bergadengan mesra di depannya bak seorang kekasih. Jiah, bukannya mereka memang sepasang kekasih?.


Beruntung keduanya masih terlihat awet muda. Jadi tidak terlalu menyita perhatian para pengunjung lain, atau mungkin saja mereka sudah mengira jika keduanya pasangan suami istri.


Jika Ibu dan Tuan Rangga menikah, apa mungkin Ibuku mau membuatkan adik?.


Cepat-cepat Natasya menjitak kepalanya sendiri. Kenapa belum-belum dirinya sudah berfikir sejauh itu.


Tak ingin ketinggalan Ibunya yang sudah melangkah jauh di depan, gadis itu pun setengah berlari untuk mendekati Ibunya serta kekasih barunya. Ya meski pun harus menjaga jarak.


💗💗💗💗💗


Gadis itu tau, Rangga memang berada. Tentu saja untuk ukuran barang seperti ini terhitang tak ada arti baginya. Akan tetapi jika belum apa-apa saja sudah memberikan barang-barang semahal ini, justru dirinya beserta sang Ibu lah yang tak nyaman.


Baik Ibu dan dirinya tadi sudah terang-terangan menolak namun Rangga terus memaksa. Alhasil, dengan perasaan tak menentu keduanya pun menerima.


Saat diperjalanan pulang pun Natasya mendengar pembicaraan diantara kedua orang tuanya jika Rangga tak ingin menunda-nunda dan menginginkan pernikahan secepatnya digelar. Di jok samping pengemudi, berkali-kali Anastasya menoleh ke arah sang putri yang duduk di kursi penumpang seolah meminta persetujuan.


Sebentar. Meski dirinya mengizinkan tetapi ia pun juga bituh waktu. Keingin Rangga untuk segera mempersunting sang Ibu membuatnya galau.


Ponsel yang tergeletak di atas nakas berdering. Malas rasanya untuk mengangkat panggilan namun setelah membaca sebaris nama yang tertulis di layar membuat gadis itu dengan cepat menekan icon berwarna hijau.


"Ya, hallo."

__ADS_1


Tak disangka, malam seperti ini Ernest menghubunginya. Dan tak disangka jua, rupanya pria itu tau dengan apa yang sudah terjadi diantara Ibunya dan Rangga. Dapat dipastika jika Rangga sudah menceritakan semua pada Ernest yang sudah dianggap seperti putra sendiri. Sejak hubungan masalalu antara Rangga dan Anastasya diketahui oleh mereka, kedua insan itu semakin dekat dan tak ragu untuk berbagi cerita satu sama lain.


"Lalu apa pendapatmu tentang keinginan paman untuk segera mengesahkan hubungan?." Suara Ernest di seberang tak ayal membuat Natasya menghela nafas dalam.


"Entahlah, aku belum bisa memberi pendapat."


"Bukankah tujuan baik seharusnya memang disegerakan?."


Natasya memejamkan mata. Sekarang Ia bahkan tak dapat berfikir dengan jernih.


"Entahlah, biar Ibuku saja yang memutuskan."


"Hei, keputusan ini bukan hanya milik Ibumu. Ibumu tidak hidup sendiri, beliau punya kau. Aku rasa jika kau ragu, Ibumu pun pasti akan menundanya, dan kau tau apa konsekuensinya menunda pernikahan mereka?." Suara Ernest di telefon seperti meninggi. Mungkin kah pria itu sedang menahan emosi setelah mendengarkan ucapan Natasya?.


Natasya terhenyak. Ia kemudian membayangkan andaikata pernikahan Ibunya ditunda sebab dirinya yang terkesan alot memberi restu.


Ibu menyayangiku. Andaikan diriku bimbang untuk mengiyakan, sudah pasti Ibu pun belum siap untuk menerima pinangan Tuan Rangga. Ibu berarti diriku sama saja dengan menahan keinginan mereka untuk bersatu. Bukankah diriku terlihat sangat egois?.


"Halo, Natasya. Kau masih di sana?."


"Ya, Tuan. Saya dengar."


Ernest seperti sedang menghela nafas.


"Lalu apa keputusanmu?."


"Maaf, saya belum bisa menjawabnya sekarang, Tuan." Tak berlama-lama. Selepas menyelesaikan ucapan, Natasya memutuskan panggilan. Tidak sekarang, mungkin malam ini dirinya bisa berpikir dan mencari keputusan demi kebaha Ibunya dan juga dirinya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2