
Kendaraan yang kemudikan seorang sopir melaju kencang, membelah jalanan untuk mengantarkan sang Tuan lebih cepat menuju rumah. Selepas satu jam bertamu ke kediamana Natasya, Ernest berpamitan. Pria tampan itu meninggalkan kediaman mewah milik sekretaris pribadinya itu dengan sejuta tanya.
"Terimakasih." Ernest berbicara pada sang supir saat pria itu membuka pintu untuknya. Ernest lekas membuka pintu utama begitu sampai rumah dan berniat untuk istirahat.
Kediaman megah itu sepi. Ernest berfikir jika kedua orang tua beserta adiknya belum kembali dari acara yang digelar oleh perusahaan.
Semoga Ayah tidak marah padaku yang memilih pergi sebelum acara berakhir.
Ernest memasuki kamar. Lekas memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak ingin berlama-lama, pria tampan itu berdiri dan menikmati kucuran angin dingin yang mulai membasahi tubuhnya. Tapi, siial. Kenapa wajah Natasya justru terbayang.
Rumah mewah? Putri konglomerat? Dan ibu yang masih awet muda?.
Ernest lekas menyudahi ritual mandi. Ia lekas menatik handuk dan melilitkannya di tubuh sebelum keluar dari kamar mandi.
Apa sebaiknya aku harus mencari tau lebih dalam tentang siapa sebenarnya Natasya?. Tapi untuk apa?.
Ernest berdecak. Kenapa fikirannya mendadak kacau sepulang mengantarkan Natasya ke rumahnya. Bukan, bukan itu lebih tepatnya, hanya saja dirinya terkejut begitu mendapati keadaan yang ada dari seorang Natasya.
"Apa mungkin aku harus menghubungi Langit dan meminta padanya untuk menelusuri semuanya?." Ernest tampak berfikir. "Tapi kalau langit bertanya untuk apa, lalu aku harus jawab apa?."
Pria yang hanya menutupi tubuhnya dengan selembar handuk itu, menghela nafas dalam. Ia bahkan mengabaikan keadaan rambut gondrongnya yang basah tanpa perduli mengeringkannya.
Dia bahkan mendengar jika Ibu Natasya memiliki toko bunga.
Toko bunga?.
"Hei, bukankan Emely mengenal Natasya?." Ernest seperti tersadar. Ia bahkan langsung bangkit dari posisinya ketika mengingat jika adiknya mengenal Natasya.
"Sepertinya aku harus bertanya padanya. Tapi bagaimana jika bocah itu bertanya macam-macam?." Emely pasti kepo. Begitulah isi fikuran Ernest. Tidak mungkin jika adiknya yang cerewet itu akan diam saja saat dirinya menanyakan sesutu hal, terlebih itu tentang wanita.
__ADS_1
"Hah, sepertinya selain bertanya pada Emely aku pun harus meminta pada Ernest untuk mencari tau tentang latar belakang Natasya dan keluarganya." Pada akhirnya itulah keputusan Ernest. Bukan hanya ingin mengorek informasi dari Emely tetapi juga pada Langit. Meski tak tau pasti akan tujuannya namun dengan mengetahui lantar belakang Natasya secara pasti, sepertinya memang menjadi suatu keuntunganbaginya.
💗💗💗💗💗
Di tempatnya berdiri Emely memandang penuh tanya pada sang Kakak yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya yang terbuka. Ernest masuk ke kamar untuk mencarinya?. Memang ada kepentingan sampai kak Ernest repot-repot masuk ke kamarku?.
"Kakak, ada apa?." Gadis itu bertanya begitu sang Kakak mengayunkan langkah untuk makin mendekat ke arahnya.
"Em, aku ingin bertanya sesuatu hal padamu," jawab Ernest yang kemudian menjatuhkan bobot tubuh di sofa tunggal yang letaknya di sisi kanan ranjang sang adik.
"Tentang?." Emely memasang mimik bingung.
"Natasya."
Natasya.
"Memangnya dia kenapa?."
"Duduklah, tidak baik bicara saat berdiri seperti itu."
Emely patuh. Ia duduk di tepi ranjang dengan sepasang mata menatang lekat sang Kakak. Diam-diam Emely pun penasaran. Kenapa tiba-tiba sang Kakak membawa nama Natasya dalam pembicaraan mereka, terlebih berbicara saat mereka hanya berdua seperti ini.
"Memang ada apa dengan Natasya?." Ah, Emely kian diliputi rasa penasaran. Sejak pertemuan di toko bunga saat itu, Emely dan Natasya berteman baik. Terlebih saat Natasya di terima bekerja di perusahaan keluarganya dan menjabat sebagai Sekretaris pribadi Ernest. Mereka kerap bertukar kabar, hanya saja karna kesibukan diantara keduanya membuat hubungan yang terjalin sedikit merengang.
"Bukankah kalian berteman, bahkan sebelum Natasya bekerja padaku?."
"Hei, tentu saja. Aku bahkan yang menawarka dia untuk kerja padamu, Kakak!." Emely menjawab dengan sedikit meninggikan nada bicara.
"Tidak perlu berteriak, Em. Kakak tidak tuli."
__ADS_1
"Maaf, lalu apa yang ingin Kakak tanyakan?." Nada bicara Emely melunak. Seperti Kakak adik yang kerap beradu mulut, Ernest dan Emely terbilang cukup sering mengalami hal tersebut. Akan tetapi hanya bertujuan untuk menggoda, terlebih memang sifat Emely yang tergolong cerewet dan mau menang sendiri ketika berurusan dengan kedua kakak kembarnya.
Ernest diam. Dirinya seperti sedang menyusun kata-kata sebelum keluar dari mulutnya.
"Di mana pertama kalianya kau dan Natasya dipertemukan?."
"Toko bunga," jawab Emely yang masih mengingat jelas pertemuan dirinya dan Natasya di toko bunga milik Ibu dari temannya tersebut.
"Toko bunga milik keluarga Natasya?."
Emely menganggukkan kepala.
"Ya, Kakak pasti ingat saat Kak Erich dan Kak Isabel berkunjung sekaligus berbulan madu di rumah ini?." Gadis itu bertanya pada sang Kakak yang duduk di hadapannya, dan saat pria itu mengangguk maka Emely pun melanjutkan ucapan yang sempat terpenggal. "Kak Erich selalu menyuruhku mencari bunga untuk di berikan pada Kak Isabel. Nah, aku bingung. Sampai seorang teman merekomendasikan toko bunga yang cukup hits di kalangan para pecinta bunga. Di situlah aku bertemu dengan Natasya, ya meski diawal aku dipertemukan lebih dulu dengan Ibunya dari pada dia."
Jawaban Emely tak ayal membuat pria berambut gondrong itu berfikir dalam. Mungkinkan sebelum bekerja padanya Natasya membantu Ibunya berjualan bunga?.
"Sebelum menjadi sekretaris pribadi Kakak, dia membantu Ibunya di toko bunga. Dia juga bilang jika sesungguhnya Ibunya melarang saat dirinya meminta izin untuk bekerja, tapi Tasya terus memohon sampai Ibunya pun mengizinkan. Lagi pula, sayang juga Kak jika kemampuan yamg dia miliki tidak olah dengan baik. Terlebih dia juga salah satu lulusan terbaik di universatas XX saat itu. Luar biasa 'kan?."
Meski diam namun kepala Ernest pun mengangguk seolah membenarkan. Dari cara kerja, wawasan dan pembawaan, Natasya memang sudah terlihat menonjol dari staf perempuannya yang lain, dan Ernest mengakui akan hal itu. Terlebih jika dibandingkan dengan sekretarisnya dulu, Sandara sungguh tidak ada apa-apanya dengan Natasya.
Hei kenapa aku jadi membandingkan mereka berdua?.
"Hayo...., kenapa tiba-tiba menanyakan Natasya padaku?. Kakak suka padanya?. Hayo ngaku." Emely tersenyum lebar sementara wajahnya tersenyum menggoda.
"Apaan sih!." Pria itu bangkit dan berniat menjauh dari hadapan sang adik.
"E, jangan pergi. Jawab pertanyaanku dulu?." Emely menatap kecewa pada sang Kakak yang hampir mencapai pintu kamarnya.
"Pertanyaan apa, tidak penting." Ernest benar-benar berlalu sementara Emely yang semakin tak terima berteriak kecang menyebut nama sang Kakak.
__ADS_1
"Kak Ernest, jawab dulu. Awas ya, pasti akan kuadukan pada Ibu."
Meski mendengar. Ernest hanya tersenyum tipis dan tetap mengayunkan langkah untuk meninggalkan kamar Emely. Derap langkahnya berlanjut menuruni setiap anak tangga, guna menemui langit yang sudah menunggunya di lantai dasar.