CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Dibalik Serangan


__ADS_3

Pria tampan berbadan tegap yang berdiri di depan jendela dengan raut wajah cemas, seketika menghela nafas lega saat melihat beberapa mobil mewah memasuki gerbang utama kediamannya. Cukup lama pria itu berdiri menunggu, menatap kearah jendela kaca yang tepat berhadapan dengan gerbang yang menjadi akses keluar masuknya kendaraan.


"Ayah, paman," gumam Erich yang spontan setengah berlari untuk menyambut keluarganya.


Wajah Tegas Arka terlihat saat pintu sedan hitam itu terbuka, diikuti Sam yang keluar dari sisi pintu lainnya.


Kali ini Zara tak ikut serta. Arka-lah yang melarang dengan alasan keselamatan. Langit juga Ernest berada di kendaraan lain. Kedua pria muda yang sama tampannya itu pun lekas masuk mengikuti langkah orang tuanya.


Semula Erich ragu, sekaligus sangsi apakah sang Ayah bersedia untuk datang saat dirinya membutuhkan. Kesibukan menjadi alasan utama Erich. Perusahan butuh sang ayah sedangkan beberapa hari lalu Arka baru saja kembali ke ibukota. Pasti banyak sekali hal yang akan pria itu kerjakan. Merampungkan beberapa agenda yang terbengkalai selepas beberapa hari memilih libur demi menemaninya.


Beberapa pria itu duduk berkumpul, memenuhi sofa yang berada di ruang tengah. Erich meminta salah satu orang kepercayaannya untuk mendekat. Melaporkan informasi yang didapat selama beberapa hari melakukan pengintaian.


"Mereka terkesan mengulur. Saat kami datang untuk meminta kejelasan setiap harinya, nyonya Arum enggan menampakkan diri dan hanya diwakilkan orang kepercayaannya. Awalnya kami diam, namun selang beberapa hari kami diliputi kecurigaan. Keterdiaman mereka kami takutkan hanya sebuah tak tik belaka, merakit amunisi yang akhirnya digunakan untuk mengecoh lawan. Kami mulai bergerak, memantau setiap pergerakan penghuni rumah termasuk pelayan dan pengawal yang bekerjaan di kediaman Nyonya Arum."


Arka dan lainya tampak khidmat mendengarkan.


"Kecurigaan kami memang benar adanya, Nyonya Arum mengumpulkan bala bantuan. Membayar jasa pengawal juga pembunuh bayaran guna memperkukuh benteng pertahanan. Mereka berniat menyerang saat kita lenggah tanpa adanya persiapan."


Arka menghela nafas dalam. Ia melirik kearah Sam dan Langit yang tampak berfikir dalam.


"Sam, langit, bagaimana. Kau punya solusi untuk masalah ini?" Arka mengajukan pertanyaan pada Sam dan Langit. Sebagai kepala pengawal Arka yakin jika Sam punya strategi jitu untuk bisa menghadapi rencana licik lawan.


"Mengecoh atau terkecoh? Hem.., Bukankah kaum picik perlu dilayani dengan cara licik?" Sam menyerigai. Untuk beberapa saat pria itu terdiam, hingga berucap, "Sebagai antisipasi, kita buat seolah rumah ini sepi tanpa penghuni. Tak ada aktifitas yang mencolok seperti hari biasanya. Untuk bahan makanan akan di stok agar cukup hingga beberapa hari ke depan. Tapi usahakan untuk seminim mungkin menyajikan makanan dengan aroma menyengat yang akan menimbulkan kecurigaan lawan. Pengawal terbaik tuan Arka pun akan kami datangkan untuk membantu. Untuk berjaga-jaga kita akan membagi pengawal menjadi dua kelompok. Satu kelompok tetap berada di rumah utama untuk melindungi Tuan muda dan lainnya. Sementara sebagian lagi berada di paviliun belakang untuk menjaga para pelayan sekaligus memantau keadaan sekitar. Bagaimana?"


Arka berfikir sejenak kemudian menjawab, "Ya, aku setuju. Bagaimana dengan kalian?" Tanya Arka pada putra kembarnya juga yang lainnya.


"Setuju," jawab mereka serempak.


"Baik, kita mulai jalankan sekarang." Tak lagi menunggu, mereka lekas bergerak. Mengomando para pengawal sekaligus mencari bala bantuan sebelum petang menyapa.


💗💗💗💗💗

__ADS_1


Rencana Sam kini mulai dijalankan. Jika dilihat sekilas dari luar sama sekali tak ada aktifitas dari rumah megah tersebut. Bahkan beberapa lampu ruangan pun senganja dipadamkan.


Di sudut ruangan dengan cahaya remang, seorang gadis terduduk di lantai dengan wajah sengaja ditutup oleh telapak tangan. Gadis itu tengah menangis, tetapi sebisa mungkin ia tahan untuk tak mengeluarkan suara.


Gadis itu tak mengira jika masalah pribadi keluarganya harus menyeret banyak jiwa seperti ini. Rasa bersalah selalu saja melingkupinya saat keluarga Erich lagi-lagi terjun ke medan perang untuk melindunginya.


Bukan merasa bangga, Isabel justru merasa tidak nyaman. Tidak mengira jika semua akan menjadi serumit ini. Berawal dari kenekatannya untuk menemui Retno seorang diri, justru membawanya pada masalah sebesar ini. Ingin rasanya Isabel berteriak, menyerah dan merelakan semua miliknya untuk dinikmati Arum. Akan tetapi terlambat, percuma sebab semua sudah berjalan sejauh ini.


"Isabel, apa yang sedang kau lakukan?"


Telapak tangan yang menutupi wajah itu disingkirkan oleh sepasang tangan besar seorang pria yang kini berlutut di hadapannya.


"Kau menangis?"


Gadis itu terdiam. Ia menatap lekat mata Erich yang juga sedang menatapnya.


"Percayalah, semua akan baik-baik saja." Jemari kokoh itu bergerak mengusap bulir bening yang membasahi wajah sang gadis. Isabel tertegun, menikmati sentuhan hangat diwajahnya yang terasa begitu nyaman.


"Maaf," lirih Isabel yang masih bisa didengar oleh Erich.


"Untuk?"


"Semuanya."


Erich menghela nafas dalam. Menggengam erat jemari Isabel untuk saling menguatkan.


"Berdoalah. Semoga tuhan mengiri langkah dan perjuangan kita."


Isabel mengangguk. Ditengah situasi yang terhimpit nyatanya Erich tak pernah sekali pun menyalahkannya. Erich begitu tulus membantunya, membuat gadis itu menyesal sebab pernah menolak bantuan dari sang pria.


💗💗💗💗💗

__ADS_1


Ketegangan melingkupi seluruh penghuni kediaman Erich yang kini berkumpul di sebuah ruangan yang aman. Sebuah kamera pengintai menangkap gerak gerik segerombolan pria misterius dari sebuah layar datar yang sengaja dihubungkan.


Arka, Sam dan yang lain tampak serius menatap adegan demi adegan yang dipertontonkan benda berlayar datar tersebut. Sesekali Sam berbicara melalui sambungan interkom yang terhubung dengan langit, putranya yang kini melakukan pengintaian dari dalam paviliun, bangunan berukuran sedang yang letaknya tepat di samping rumah utama.


"Awasi setiap pergerakan. Jangan lengah. Saat mereka mendekat, kerahkan pasukan untuk menekat dan kepung tanpa mereka sadari," intrupsi Sam, pada Langit.


"Baik, ayah." Sambungan pun terputus.


Isabel yang berdiri di samping Erich merasakan seluruh tububnya gemetar saat para pria yang mengelilingi rumah Erich tampak menguyurkan jarian dari dalam tangki yang gados itu yakini sebagai bahan bakar.


Gadis itu ketakutan. Ingin sekali ia berlari keluar dan menahan pergerakan mereka. Memohon agar mereka tak bertindak jauh dengan membakar rumah orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang tengah bergulir saat ini. Namun apalah daya, mungkin semua sudah terlambat saat korek api di arah ke dinding yang sudah basah oleh cairan bahan bakar.


Tanpa sadar Isabel langsung mendekap Erich yang tepat berdiri di sampingnya. Wajahnya menubruk dada bidang sang pria, memejamkan mata sebab tak kuat melihat adegan yang selanjutnya akan terjadi.


Erich terkesiap. Tubuhnya membeku saat wajah Anastasya bersembunyi di dada bidangnya. Gadis itu menangis. Erich bisa merasakan pakaiannya mulai basah oleh air mata gadis yang sedang mendekapnya.


Erich mengalihkan pandangan ke arah layar. Kawanan penyelinap itu sudah terkepung. Tak mampu melawan sebab jumlah mereka yang kalah banyak dengan para pengawal yang dipersiapkan Sam. Pria itu menghela nafas lega saat kawan tersebut berhasil disergap.


Sepasang mata Erich terpejam. Menikmati kehangatan yang menjalar saat tubuh seorang gadis menghimpit tubuhnya. Lagi-lagi ada gelayar rasa asing yang mendadak muncul saat dirinya berdekatan dan nyaris tanpa batas dengan Isabel. Tangan yang semula diam itu, kini mulai bergerak. Terangat untuk membalas mendekap Isabel yang sedari tadi berlabuh di tubuh bagian depannya.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," ucap Erich menenangkan seraya mengusap puncak kepala gadis dalam dekapan, hingga tanpa sadar ucapannya itu mengalihkan padangan seluruh orang yang berada di ruangan yang spontan tertuju padanya.


Sam dan Arka tercengang. Pemandangan yang tersaji di depan mata membuat para pria dewasa itu terperangah. Erich sendiri masih tak menyadari. Tetap melanjutkan aktifitas mengelus rambut Isabel bermaksut untuk menenangkan.


"Ehem."


Erich terkesiap. Pandangannya kini teralih pada Arka yang memelototinya tajam, begitu pun dengan Sam yang mengarah tatapan menghunjam.


Eh, kenapa menatapku seperti itu? Memang apa salahku?


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2