
Di salah satu meja Vip di salah satu kafe, dua orang pria sedang duduk berbincang. Salah satu pria tampak banyak berbicara sementara seorang yang diajak bicara hanya memjawab seperlunya.
Pria yang tak lain adalah Rangga dengan salah seorang klien, tengah menunggu Arka yang tak juga terlihat batang hidungnya selepas dua jam menunggu.
"Ya Tuhan, di mana sebenarnya dia?." Geram Rangga dengan suara pelan. Ia melirik ke arah klien yang tak ada lelahnya berbicara. Berbicara ini dan itu yang bagi Rangga amat membosankan.
"Tuan Rangga, bagaimana apa kita masih akan menunggu Tuan Arka?." Selepas memeriksa arloji yang melingkar di pergelangan tangan, pria paruh baya itu bertanya pada sang rekan. Sesungguhnya ia pun sudah lelah menunggu. Kopi yang dipesan, bahkan sudah tiga kali diisi ulang. Perutnya bisa kembung jika harus menambah satu gelas kopi lagi.
"Em, bagaimana jika kita tunggu sepuluh menit lagi. Bila Arka masih belum datang, maka tidak ada cara lain, kita harus menunda meting penting kali ini." Sebagai seorang sahabat tentu Rangga bisa mentoliler keterlambatan Arka, akan tetapi kali ini lebih dari cukup kelonggaran waktu yang diberikan. Mungkin saja pria itu sedang terjebak macet atau ...
"Selamat siang Tuan-tuan, maaf sudah menunggu." Arka muncul dan menyapa. Bibirnya menyungingkan senyum lebar. Senyum yang sangat cerah hingga menyaingi sinar mentari.
Rangga menatap jenggang, namun tetap membalas sapaan Arka begitu pun dengan satu rekan bisnisnya.
"O, tidak apa. Mari bergabung bersama kami, Tuan Arka." Rekan itu mempersilahkan Arka untuk duduk, dan Arka pun memilih sebuah kursi yang letak berdampingan dengan Rangga.
"Terimakasih, Tuan Hanggoro." Masih dengan senyum lebar yang tak menciut, Arka menjatuhkan bobot tubuh. Sesekali pria itu melirik ke arah Rangga yang seolah ingin melahapnya hidup-hidup meski tak bersuara sedikit pun. Pria itu hanya menatap Arka tajam dan tanpa berkedip.
"Hei, berkediplah. Kau membuatku takut," goda Arka.
"Kau bahkan membuatku jamuran," sembur Rangga, tak terima. "Menunggumu dua jam, duduk dan minum empat gelas kopi, kau fikir itu enak?." Arka terbahak, namun sebisa mungkin ditahan. Interaksi kedua sahabat ini memang mengunakan suara cukup pelan dan saling berdekatan, klien mereka bahkan tidak menyadari dan asik mengaduk kopinya sendiri.
"Memang apa yang kau lakukan sampai terlambat selama ini?." Rangga tak tahan. Entah alasan apa yang membuat Arka terlambat selama ini.
"Rahasia."
"Beedebah siialan!." Rangga sontak menutup mulut saat klien menatap ke arahnya. Oops sepertinya ia keceplosan.
__ADS_1
Arka mengulum senyum. Saat seorang pelayan datang, ia pun lekas meminta buku menu dan memesan minuman.
Rangga memperhatikan raut wajah Arka yang cerah. Tersenyum terus seolah tanpa beban.
Apa mungkin dia baru saja menghilangkan hormon stres?. Ya tuhan, jika benar berarti dia baru saja...
"Wajahmu terlihat segar." Rangga kembali memancing ucapan.
"Ah, kau saja yang terlambat menyadarinya." Arka menjawab acuh.
"Jika melihat wajahmu secerah, dan hati sesenang ini, aku jadi curiga."
"Hem." Arka kini menatap Rangga, sementara yang ditatap tersenyum miring. "Hei apa maksudmu, mengapa menatapku seperti itu?."
"Jangan katakan jika kau baru saja menaklukan Zara." Saat berucap Rangga sempat melirik ke arah klien. Hah, pria itu justru sibuk mengutak atik ponsel. Ah, jangan-jangan pria itu mendengar dan membiarkan dirinya dan juga Arka menyelesaikan pembicaraan?.
Inggin rasanya Rangga menerndang tubuh Arka hingga terjungkal. Tak habis fikir, disituasi sesibuk ini masih sempatnya sang sahabat memadu kasih dengan istrinya. Tapi apalah daya, mereka berada di tempat umum yang tak memungkinkan untuk melakukan hal yang merusak martabat.
Rangga berdecak. Ia sebal, ingin rasanya meremukan tulang dalam tubuh, andai tidak ada orang.
"Tuan-tuan, bisa kita mulai pembicaraannya?." Suara dari klien meyadarkan dua sahabat yang sepertinya sedang bersitegang. Arka dan Rangga serempak menggangguk, dan memulai pembicaraan kerja sesuai yang sudah direncanakan dari awal.
💗💗💗💗💗
Gelap sudah menghiasi langit ketika Rangga memasuki kediamannya. Sebuah rumah megah yang hanya dihuni dirinya beserta seirang pelayan dan tukang kebun.
Semenjak memutuskan kembali ke ibu kota, Rangga memang tak membawa serta ibunya. Biarlah paruh baya itu tinggal di singapura menikmati masa tuanya.
__ADS_1
Sunyi mulai menyergap. Di dalam rumah besar ini, Rangga seperti hidup seorang diri. Tanpa teman dan seseorang untul berbagi juga berkeluh kesah.
Rasa penat dan gerah disekujur tubuh membuatnya lekas melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama, sebab tujuh menit kemudian pria itu sudah keluar dengan lilitan handuk yang membungkus area pusar sampai lututnya.
Tubuh kekar Rangga masih terjaga, tetap seperti dulu saat masih menjalani hari-harinya bersama Anastasya.
Ah, Anastasya. Satu nama yang sejatinya tak pernah mampu dilupakan oleh Rangga, meski sudah berpuluh tahun mereka tak lagi bertatap muka.
Pria berkulit kecoklatan itu mengusap sisa air di rambut dengan handuk. Mengeringkannya hingga tak ada lagi titik air yang menetes di bahunya.
Rangga memilih mengunakan pakaian santai dan berbahan nyaman. Saat tak ada aktifitas lagi dirinya memang memilih untuk tidur. Mengistirahatkan diri juga mengembalikan stamina untuk esok hari.
Begitu merebahkan tubuh di atas ranjang, tiba-tiba pria itu teringat akan sesuatu. Ia pun bangkit, duduk bersandar pada punggung ranjang sementara tangannya bergerak menjangkau laci nakas, dan membukanya.
Terlihat pria tampan berjambang itu menghela nafas dalam sebelum mengeluarkan sebuah benda dari dalam laci. Sebuah bingkai foto, yang sudah begitu lama ia simpan. Simpan dari orang lain dan akan ia tatap begitu lama ketika rindu.
"Anastasya," gumamnya selepas menatap sebuah gambar wajah seseorang yang tak berhasil ia lupakan diseumur hidup.
Di sana, rupanya Rangga masih menyimpan foto Anastasya ketika mengikuti ajang pencarian bakat di Agensi model milik keluarganya. Anastasya remaja yang baru saja mengenal dunia permodelan. Wajahnya masih begitu segar. Tak banyak menggunakan polesan make up dan pakaian alakadarnya. Ya, tuhan. Hanya seperti itu saja sudah membuat Rangga tergila-gila.
Rangga menghela nafas berat. Satu tangannya bergerak untuk mengusap permukaan bingkai kaca, yang menggambarkan pipi kemerahan Anastasya.
"Andai waktu bisa terulang kembali, pasti akan ku lalui apa pun agar tidak melepaskanmu. Maaf, maafkan aku yang bodoh ini, hingga membuatmu pergi dan tak berniat untuk kembali. Aku tau, sampai detik ini pun kau tidak akan bisa memaafkanku. Kau pasti sangat membenciku dengan seluruh jiwa ragamu." Seperti sedang berbicara dengan Anastasya, Rangga seolah sedang menumpahkan seluruh keluh kesah. "Saat aku melihatmu, aku seperti tak yakin. Berulang kali aku menampar pipi, takut jika semua hanya mimpi. Tapi yang kurasakan, sakit. Di situ aku sadar jika apa yang kulihat nyata. Aku melihatmu, tapi kenapa kau berlari ketakutan saat aku mulai menyapa?."
Rangga terus berbicara. Begitulah hampir setiap malam yang ia lakukan. Berbicara pada foto Anastasya. Meminta maaf dan menyesali semua waktu dalam kebersamaan mereka di waktu dulu yang berakhir sia-sia.
Tbc.
__ADS_1
Jangan bosen dulu ya. Kita urai satu persatu. Di sini bukan hanya yang muda saja yang bercinta, tapi yang tua pun juga. Untuk Anastasya dan Rangga berjodoh atau tidak?. Yuk, ikuti terus. Jangan sampai ada yang terlewat. Karna sedari awal memang dua insan itu memang ingin aku ..... 😄😄😄. Terimakasih. Salam sayang untuk yang sudah baca 💗