
Isak lirih dari bibir seorang gadis memenuhi ruang Vvip yang senyap, di mana nampak tubuh seorang pria tengah berbaring di atas ranjang perawatan.
"Maaf," ucap sang gadis dengan wajah sendu.
"Berhentilah menangis. Sudah kubilang, jika aku baik-baik saja." Meski menahan rasa sakit, pria itu berusaha tersenyum guna meredam kecemasan dari wajah gadis yang hampir satu jam ini menangisinya.
"Karna aku, kau terluka," sesal gadis cantik itu amat merasa bersalah. Seharusnya ia yang saat ini terbaring tak berdaya di atas ranjang perawatan dan bukan dia, sosok pria yang datang bak hero untuk melindunginya.
Masih teringat jelas di benak Isabel, di mana muncul tiba-tiba seorang pria berpakaian serba hitam juga memakai topi dan masker datang menyergapnya. Akan tetapi, Erich yang bergerak gesit, rupaya mampu menarik tubuh Isabel hingga terlepas dari belenggu pria misterius itu. Merasa terancam, sebab salah sasaran, pria misterius itu justru menarik pisau lipat yang terselip di pinggang dan secepat kilat hendak menusuk bagian dada Erich. Rupanya Erich tak diam, ia coba menangkis namun sedikit terlambat. Senjata tajam itu memang tak menusuk jantung, namun bergeser hingga melukai lengan kanan Erich cukup dalam.
Erich menghela nafas dalam. Ia menatap lembut wajah Isabel yang lembab oleh air mata. Sungguh malang, gadis seusia Isabel harus merasakan getirnya hidup dan masalah yang beruntun. Takdir seolah tak lelah memberinya ujian. Hingga mungkin gadis itu lupa seperti apa rasanya bahagia.
"Bukankah sudah kukatakan jika orang-orang Arum masih berkeliaran. Posisimu masih tidak aman. Jadi stop mengatur rencana yang justru menjadi bomerang untukmu sendiri." Erich kembali memperingatkan.
Isabel mengangguk pelan sebagai jawaban. Benar, mungkin dirinya memang harus menyerah sekarang. Membiarkan semuanya menjadi milik Arum, guna menyelamatkan hidupnya. Lelah, Isabel lelah dengan kehidupannya. Hidup dalam bayang-bayang Arum yang entah sapai kapan akan terlepas.
Tubuh Erich bergerak. Isabel sontak mendongak, bergerak sigap andaikata pria itu membutuhkan bantuan.
"Apa anda menginginkan sesuatu?" Isabel sempat melihat bibir pria itu mendesis seolah tengah menahanan sakit saat tubuh itu sedikt saja digerakkan. "Pasti sakit." Isabel hanya bisa menatap nanar luka yang sudah terbalut kain perban pada lengan pria tersebut. Namun beberapa detik kemudian Isabel lekas membuang pandangan. Gadis itu malu, juga tak nyaman. Selepas kejadian tim medis yang bertugas lekas menanggalkan pakaian atas Erich hingga meninggalkan kaos tipis tanpa lengan yang membalut tubuh bagian atasnya.
Isabel bahkan terkesiap saat pertama kali memasuki ruangan. Tubuh kekar Erich terekspos. Menampakkan beberapa otot tubuh Erich yang mencuat, namun tak berlebihan.
__ADS_1
Isabel gemetar. Hendak menyentuh luka Erich namun urung dilakukan. Gadis itu tau batasan, untuk tidak menyentuh tubuh pria dewasa, kecuali ayahnya.
"Haus, aku haus. Tolong bantu aku untuk minum," titah Erich dengan wajah memohon. Entah pria itu tengah benar-benar haus atau sekedar modus belaka.
"Baik," jawab sang gadis kemudian sigap meraih segelas air putih yang berada di atas meja nakas, lantas mendekatkannya ke bibir sang pria. Sejenak pandangan keduanya saling berpaut, Isabel buru-buru mengalihkan pandangan guna menetralisir detak jantungnya yang mendadak tak beraturan.
Berbeda dengan Isabel, Erich justru menatap wajah gadis itu lekat. Senyum tipis terukuir di bibir sensualnya. Menikmati wajah serba salah Isabel yang begitu manis di matanya.
Glek
Erich meneguk air di dalam gelas menyisakan separuh isi.
Isabel mengangguk lalu mengembalikan gelas bekas minum ke tempatnya semula.
"Jika kau lelah, pulanglah. Seorang supir akan mengantarmu kembali ke rumahku." Pria itu masih menatap wajah sang gadis lekat.
Isabel kembali tertunduk. Gadis cantik yang tak lagi menggunakan wig dan kumis tipis itu kembali merasa bersalah akibat tragedi beberapa saat lalu yang sialnya lagi-lagi harus menyeret orang asing untuk masuk dalam pusaran masalah pelik keluarganya.
Retno kemudian Erich, lalu setelahnya siapa lagi?
"Maaf. Seharusnya sayalah yang berada di atas ranjang ini dan bukan anda." Meski terluka dibagian lengan, namun nyawa pria itu bisa saja menghilang andai terlambat sedetik saja untuk mengelak.
__ADS_1
Pria itu nampak menghela nafas berat. Jujur, ia pun merasa lega saat tau jika dirinyalah yang terluka dan bukan Isabel.
"Berhentilah mengucap hal seperti itu. Aku baik-baik saja." Pandangan pria itu beralih kearea lengannya yang terluka. "Seperti luka ini yang akan cepat sembuh selepas diobati. Maka dari itu, tetap berada dirumahku untuk bisa merawatku sampai luka ini sebuh. Ya, hitung-hitung sebagai rasa terimakasihmu karna aku sudah menolongmu." Demi apa kalimat itu terucap begitu saja dari bibir Erich tanpa filter. Setelah berucap Erich bahkan sempat terkejut dengan kata-kata yang ia rangkai sendiri. Hendak menarik pun percuma, gadis di depannya bahkan sudah mendengar semuannya.
Isabel tentu terperangah. Akan tetapi sebagai rasa penyesalannya yang teramat, gadis itu pun menganggukkan kepala seraya berucap, "Baik, saya akan merawat anda sampai luka itu sembuh."
Erich menarik sudut bibir. Tentunya begitu senang dengan jawaban yang diberikan Isabel. Huh, mungkin pria itu tak menyesal. Bukan hanya satu tusukan, mendapatkan sepuluh tusukan pun, dia akan Rela.
💗💗💗💗💗
Aksi penusukan yang melibatkan Erich seketika menggemparkan seisi bandara. Para penjaga keaman tempat bergerak sigap, begitupun kedua sopir pribadi Erich yang sejatinya masih berada di tempat kejadian pun lekas menyisir dan melakukan pencarian pada tersangka yang langsung kabur selepas melakukan aksi.
Beberapa pengawal Erich yang masih berada di rumah utama melakukan hal sama. Menyebar kearah bandara dan sekitarnya agar tak kehilangan jejak. Beruntung tidak sampai tigapuluh menit pencarian, pelaku pun dibekuk.
Duduk diatas kursi bak psakitan, pria berbadan kekar dengan seluruh wajah tampak memar itu hanya bisa pasrah saat beberapa pengawal kembali menghadiahinya dengan bogem mentah.
Biarlah. Mungkin luka kesakitan yang ia terima pun sepadan dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Maafkan saya nona Isabel," gumam sang pria, sebelum akhirnya hilang kesadaran.
Tbc.
__ADS_1