
"Maaf semuanya, aku datang terlambat."
Suara seseorang yang baru muncul di antara mereka membuat tubuh Anastasya menegang. Tangan yang sedari tadi ia gunakan untuk menyendok makan, mendadak lunglai tak bertenaga.
Tidak, Aku harap bukan dia yang datang.
Semua orang di meja makan terdiam. Ruangan mendadak hening seiring langkah kaki bersepatu milik seseorang yang terdengar mendekat.
Arka dan Zara saling pandang. Kehadiran seseorang tersebut tak ayal membuatnyav terkejut luar biasa. Tidak, mereka bahkan tak mengundang Rangga untuk datang. Tetapu pada nyatanya?.
"Sekali lagi maaf, aku terlambat." Pria yang tak lain adalah Rangga itu, menarik sebuah kursi lantas mendudukinya. Anastasya menelan ludah, geram pada keadaan saat satu-satunya kursi kosong letaknya tepat di sampingnya dan dengan tersenyum lebar, Rangga bergabung tanpa rasa sungkan.
"Em Rangga, kami senang kau datang." Lewat gerakan tangan Arka meminta seorang pelayan untuk mempersiapkan makanan Rangga. Ya, Tuhan. Bagaimana ini. Arka dan Zara kembali saling pandang.Keduanya tak enak hati begitu melihat Anastasya yang kurang nyaman dengan kehadiran Rangga di antara mereka. Akan tetapi ia pun tak mampu berbuat apa-apa. Mengusir Rangga secara halus pun tak akan mungkin sebab Rangga adalah orang terdekat bagi mereka.
Makan malam kembali berlangsung dengan khidmat. Emely terlihat begitu senang, berbeda dengan Anastasya yang tak lagi berselera. Sementara Ernest, disela makan dirinya kedapatan mencuri-curi padang ke arah Natasya yang posisinya tepat di hadapannya. Sungguh sesuatu yang kebetulan atau kah memang suatu kesengajaan?.
Arka dan Zara, pasangan suami istri yang memang selalu romantis diberbagai kesempatan itu, terlihat tenang dan menikmato makan dari piring masing-masing. Sesekali Arka meminta pada sang istri untuk diambilkan sesuatu dan dengan penuh perhatian, Zara pun melayaninya.
"Anastasya, kau mau ini?. Atau mau aku ambilkan yang lain?." Entah mendapatkan keberanian dari mana, Rangga yang sedari tadi bahkan tak berani menyapa cinta masa lalunya, kini justru menawarkan sesuatu. Terlebih dengan nada suara dan gestur seperti seseorang yang sudah mengenal lama. Ya, dulu memang begitu, tapi sekarang?.
"Ti-tidak, te-terimakasih. Aku bisa mengambilnya sendiri." Anastasya menolak. Ia bahkan tergagap untuk menjawab tawaran sang pria.
Di tempatnya, Natasya terdiam tetapi berfikir dalam. Ia pun memandang sekilas pada sosok pria yang duduk di samping Ibunya.
__ADS_1
Bukankah beliau Tuan Rangga?.
Rangga Wiratama, siapa yang tak mengenal beliau. Pebisnis sekaligus pewaris Agensi model ternama di kota. Selain itu dia juga berhubungan dekat dengan keluarga Atmadja. Seringnya mengunjungi pusat gedung Atmadja group, membuat Natasya bisa mengenali pria tersebut.
Anastasya, tadi dia memanggil nama Ibu 'kan?. Kenapa bisa, Ibu bahkan tidak pernah bercerita jika mengenal beliau.
"Tapi, dulu kau sangat menyukai makanan ini." Olahan ikan, Rangga masih bisa mengingat jika Anastasya menyukai semua olahan berbahan dasar ikan.
"Ta-tapi."
"Ayolah, sedikit saja." Sebelum Anastasya dapat menolak, Rangga sigap mengambil satu potong makanan dan memindahkannya ke piring Anastasya. "Ayo makan. Kau tau, masakan Zara tetap seperti dulu. Sangat lezat dan kau tak akan rugi untuk memakannya," sambung Rangga. Kini pandanga sang pria tertuju pada gadis yang duduk di samping Anastasya. Dia Natasya. "Nak, kau juga mau ini?. Olahan ikan. Apa kau juga menyukainya seperti Ibumu?."
Anastasya nyaris tersedak ludahnya sendiri sementara sang putri menganggukkan kepala.
"Ya, Tuan. Saya menyukainya."
"Baiklah, akan aku ambilkan." Seperti menggantikan peran pelayan. Rangga singgap memindahkan potongan olahan ikan kepiring Natasya.
"Ya, tuhan. Kalian sudah seperti keluarga bahagia saja," gumam Arka yang hanya mampu didengar oleh Zara. Zara pun spontan menyikut bahu sang suami, takut jika gumamannya di dengar oleh Anastasya.
Selepas makan malam, kini berganti dengan tiup lilin serta pemberian kado. Memang terkesan sederhana namun inilah permintaan Emely dalam setiap tahunnya. Ia tak ingin sebuah pesta, ia hanya memita makan malam dan memberi donasi kepada orang-orang yang membutuhkan.
Selepas potong kue dan ucapan selamat dari kedua orang tua Emely, beberapa tamu yang diundang kembali menikmati kudapan atau saling berbincang.
__ADS_1
"Natasya, bisa kita bicara sebentar?." Ernest bertanya pada sang Sekretaris ketika gadis tersebut sedang berbicara dengan Anastasya dan juga Ibunya. Natasya menatap pada sang Ibu seolah meminta izin. Begitu anggukan kepala ia dapat, sang gadis pun mengikuti langkah Tuannya.
"Sayang, Emely mencarimu. Tolong temui dia, sepertinya putri kita membutuhkan bantuanmu." Arka dari arah belakang menghampiri sang istri yang masih berbicara dengan Anastasya.
"Memangnya Emely membutuhkan apa?." Zara seperti terganggu. Pasalnya ia masih ingin bertemu rindu dan berbicara banyak dengan Anastasya. Tapi kenapa Emely tiba-tiba mencari.
"Entahlah, kau temui saja dia."
"Baiklah, tunggu sebentar." Zara kembali menatap Anastasya sepeninggal sang suami. "Kak Ana, aku tingga sebentar ya. Nikmati saja acarannya dan aku akan kembali sesaat lagi." Meski berat, Zara pun meninggalkan Anastasya seorang diri.
Sadar jika dirinya kini sendiri, Anastasya pun menghela nafas dan ingin meninggalkan tempat. Ia ingin ke tempat lain, mungkin udara di luar lebih segar, begitu fikirnya.
"Anastasya." Suara berat seorang pria memang, yang seketika membuat bulu kuduknya berdiri. Seseorang tersebut ada di belakang tubuhnya namun seluruh tulang dalam tubuhnya seolah membeku dan kesusahan meski hanya untuk berbalik badan.
Rangga terdiam. Ingin ia memangil sekali lagi namun reaksi sang perempuan yang sama sekali tak ingin melihatnya, cukup membuatnya kecewa.
Untuk beberapa saat keduanya terpaku di tempat. Sampai Rangga nekat untuk membuka suara.
"Apa kabarmu, Anastasya. Lama, kita tak bertemu."
Hening. Beberapa tamu, pemilik rumah dan seorang pelayan pun tak terlihat melintas. Anastasya yang masih tak membuka suara membuat Rangga gergetan dan membuka mulutnya kembali.
"Aku tau, kau masih marah padaku, Anastasya. Tetapi perlu kau ketahui, aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi, dan kejadian seperti ini sudah kuimpi-impikan sejak lama." Rangga terus berbicara sementara Anastasya tetap diam. Bukan, bukan sengaja ingin diam, namun bibirnya serasa kelu dan membatu. Begitu susah untuk sekadar bicara dan menjawab ucapan Rangga.
__ADS_1
"Bicaralah, Tasya. Kenapa hanya diam?." Deru nafas Rangga terdengar naik turun. Mungkinkah pria itu sedang menahan tangis?. "Kau boleh menyebitku tak tau diri, kau juga boleh melebeliku sebagai pria paling beerengsek, tapi perlu kau ketahui, Anastasya, selama ini aku terus berharap bisa bertemu denganmu dan kembali membangun hubungan kita seperti dulu."
Satu titik bening menetes dari sudut mata Anastasya. Perempuan itu menangis tanpa sepengetahuan Rangga. Air mata itu lolos begitu saja, tak mampu dicegah meski sekuat tenaga menahannya.