CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Pertemuan Zara Dan Andara


__ADS_3

"Keluarlah, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."


Sandy, berdiri di belakang tubuh sang istri yang duduk di kursi meja rias, hingga Andara bisa melihat dengan jelas wajah pria itu tetap dengan raut datar seperti biasa. Memang seperti itulah kehidupan pernikahan Sandy dan Andara. Hambar dan dingin. Kiranya hubungan pernikahan yang mereka lakoni hanyalah sebuah formalitas semata. Saling tak cinta, itulah kenyataannya.


Andara mendongak, memandang wajah sang suami seraya bertanya, "Siapa?."


"Temui saja lebih dulu, dan kau akan tau jawabnya."


Andara terdiam. Dari nada bicara sang suami yang terdengar ketus, apakah memiliki hubungan dengan tamu yang mendatangi rumahnya sekarang. Dibuat penasaran? Tentu saja. Akan tetapi Andara pun enggan untuk bertanya lebih banyak. Hanya akan menciptakan bibit pertengkaran saja.


Sepasang suami istri itu mulai keluar kamar. Andara mengekori langkah sang suami di depannya. Wajahnya semula terlihat biasa saja, namun begitu sudah berada di ruang tamu dan melihat wajah dari kedua tamunya, langkah Andara sontak terhenti.


Kedua tangan perempuan itu terkepal.Wajahnya merah padam dengan sorot mata mengancam.


"Andara, merekalah tamu-tamu kita." Sandy yang mulai terlihat tenang, memperkenalkan tamunya pada sang istri. "Arka dan Zara."


Wajah tak bersahabat masih jelas terlihat dari seorang Andara. Perempuan itu seakan tak menginginkan kedua tamu itu memasuki kediamannya.


"Tak perlu memperkenalkan diri. Lagi pula untuk apa kalian datang kemari?." Andara berdiri dengan melipat kedua tangan di dada. Ia membuang pandangan, seakan tak sudi untuk melihat ke arah dua tamunya.


"Andara, kau ini bicara apa? Mereka ini tamu-tamu kita!." Sandy meninggikan nada suara menjawab ucapan tak bermoral Andara.


"Tamu kita kau bilang?." Andara tersenyum mengejek. "Bukan, tapi lebih tepatnya adalah tamu-tamumu. Aku sama sekali tak memiliki urusan dengan mereka."

__ADS_1


"Benarkah kau tidak memiliki urusan sama sekali dengan kami?."


Andara dan Sandy terdiam saat ucapan seorang pria yang menjadi tamunya tiba-tiba menyela.


"Kami akan pergi dari tempat ini, dan selepas itu kami bisa dipastikan jika kalian dan putrimu itu akan membusuk di penjara." Arka lantang berucap. Gestur tubuhnya tetap santai. Ia tak gentar untuk mengancam meski tengah berada di kandang sang lawan.


Andara tercekat begitu pun dengan Sandy. Aura dingin seorang Arka rupanya kembali mengingatkan Sandy akan peristiwa yang membawa serta dirinya lebih dari dua puluh tahun lalu.


"Ingat! Aku tidak pernah main-main akan ucapanku. Bukan sekedar gertak sambal. Kali ini aku akan benar-benar mengusutnya sampai tuntas. Hukum memang bisa dibeli, tapi kau ingat. Kekayaan keluarga ayahmu tak sebanding dengan denganmu. Jika Ayahmu saja bisa menyuap para oknum aparat, apalagi aku." Arka tergelak. Meremehkan keluarga Andara yang nyatanya memiliki harta tak lebih banyak darinya.


"Bagaimana Nyonya Andara Wongso, apa kau masih berani mengatakan jika sama sekali tak memiliki urusan dengan kami, em lebih tepatnya dengan Istriku, istri kesayanganku?."


Andara terdiam. Tubuhnya memanas saat pandangannya dengan Zara saling bersitatap. Wajah cantik nan lembut itu sangat menyebalkan di mata Andara. Terlebih saat ia mengetahui kenyataan jika suami perempuan itu memperlakukannya dengan baik, tidak seperti dirinya dengan Sandy.


"Sayang, bisakan memberi izin kami berbicara hanya berdua saja." Zara memohon pada Arka untuk berbicara pada Andara secara personal.


"Sayang," mohon Zara seraya menangkupkan ke dua tangan.


Arka sejenak menatap pada Andara dan Sandy. Pasangan suami istri itu madih terdiam. Tak menunjukan respon apa pun.


"Baiklah. Tapi ingat, jika sampai kau tergores sedikit saja, maka aku tak segan-segan untuk membuat perhitungan."


💗💗💗💗💗

__ADS_1


Sikap yang ditunjukan Andara beberapa waktu lalu nyatanya berbanding terbalik saat dirinya berada di sebuah ruangan yang hanya berisikan dirinya dan Zara di dalamnya.


Entah ruangan apa yang keduanya tempati kini. Mungkin saja ruang kerja Andara, begitu fikir Zara sebab di ruangan tersebut terdapat beberapa rak koleksi novel dan majalah juga album foto Andara seorang diri.


Sementara Andara duduk di hadapan, hanya meja sebagai pembatas. Zara dibuat terkejut saat Andara menyulut lintingan tembakau kemudian menghisapnya. Terlihat begitu menikmati setiap tarikannya.


"Kau suka merokok? Em, maksudku bisa merokok?."


Sungguh pertanyaan Andara yang membuat Zara sontak menggeleng.


"Tidak."


"Aku tau, kau perempuan baik dan berkelas. Jadi mana mungkin akan menyentuh barang seperti ini." Entah apa maksud ucapan dari Andara. Entah itu sebuah pujian atau justru ejekan.


"Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu."


Andara masih terlihat menikmati aktifitasnya. Menghisab lintingan tembakau hingga membuang kepulan asap dari dalam mulutnya.


"Aku sudah tau."


"Maksudmu?."


Andara menghela nafas. Sesungguhnya ia sudah tau akan tujuan Zara dan Arka datang ke rumah ini.

__ADS_1


"Maaf, sungguh aku meminta maaf dengan apa yang sudah aku dan putriku lakukan dengan keluargamu."


Zara terkesiap. Ia tak mengira jika respon yang Andara tunjukan berbeda seratus delapan puluh derajat saat awal bertemu tadi. Dan apa tadi yang perempuan itu ucap. Maaf? Benarkah ini nyata atau kah hanya sekedar jebakan?.


__ADS_2