
Kabar rencana pertunangan Erich paatinya sudah sampai ke telinga para penghuni rumah utama keluarga Surya Atmadja. Seisi rumah pastinya dibuat gempar, tak terkecuali Zara. Perempuan paruh baya yang masih tetap awet muda itu pastinya menyambut dengan antusias pesta yang akan digelar esok hari.
Semenjak mendapatkan kabar dari Arka, Zara sudah melakukan berbagai persiapan yang sekiranya dibutuhkan saat pesta lamaran nanti.
Tak jauh berbeda dengan Zara, Emely, putri satu-satunya pasangan Arkana dan Zara juga sedang sibuk melakukan persiapan. Menyusun pakaian dan juga pernak pernik dalam sebuah koper yang akan dibawanya menuju ke kota xx di mana tempat tinggal sang kakak berada.
"Ibu, aku rasa perhiasan ini cocok jika dipadukan dengan gaunku yang ini," tunjuk Emely pada gaun berwarna Dusty pink yang tersampir di lengannya.
Zara menghela nafas. Ia tatapan perhiasan juga gaun yang sang putri tunjukan. Memang cocok, hanya saja sifat berlebihan sang putri membuat Zara keberatan.
"Emely, kau perempuan. Tidak baik jika bersikap berlebihan. Ini hanya acara lamaran kakakmu. Jangan berpenampilan berlebihan. Ibu tidak menyukainya, begitu pun dengan ayahmu."
Emely mencebik. Pipinya mengembung, cukup tak terima dengan ucapan sang ibu.
Zara sendiri kembali menghela nafas begitu mendapati putrinya memajang wajah kesal. Zara sedikit merasa bersalah, tetapi bagaimana lagi. Emely terkadang memang bertingkah tak sesuai keinginannya. Wajar saja, segala kemewahan yang kerap gadis itu dapat membuatnya terkadang lupa diri hingga kalap untuk memiliki seluruh barang yang ia inginkan, bukan butuhkan. Sementara Zara yang terlahir dari keluarga tak mampu yang hidup serba kekurangan, membuat perempuan itu terbiasa hidup hemat dan berfikir ribuan kali untuk menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu.
"Maaf." Zara kembali bersuara. Ia usap puncak kepala sang putri penuh sayang. "Ibu tau kau ingin terlihat sempurna pada pesta pertunangan kakakmu. Kau pasti sangat senang hingga mempersiapkan semua seheboh ini."
Emely diam namun ia juga membenarkan ucapan ibunya.
"Maafkan aku, ibu," lirih Emely pada akhirnya.
Zara tersenyum. Ia mendekap sang putri erat. Ini bukan sepenuhnya salah Emely. Sebenarnya hal yang dilakukan sang putri masih tergolong wajar, hanya saja perempuan itu tak lelah mengingatkan pada sang gadis untuk selalu sederhana dalam berpenampilan.
"Ya, ibu faham. Ibu sangat mengerti. Secara perlahan putri ibu pasti bisa merubahnya."
Emely mengangguk faham. Gadis dengan rambut lurus sepinggang itu kembali mengeluarkan barang-barang yang sekiramya tidak perlu dari dalam kopornya.
"Loh, ada apa ini?" Ernest muncul dari arah pintu masih dengan pakaian santai. "Kenapa kau membongkar kembali barang-barangmu?" Ernest menatap bingung ke arah kopor yang terbuka milik sang adik.
"Ah tidak ada, aku hanya kebanyakan membawa pakaian saja dan itu pasti sangat berat saat membawanya. Kasihan paman sopir, dia pasti sangat kerepotan hanya dengan membawa kopor milikku saja," kilah Emely yang membuat Ernest sedikit curiga. Pria itu tak percaya, pasalnya dengan membawa banyak barang tidak penting selalu menjadi kebiasaan Emely ketika bepergian.
__ADS_1
"Hem, benarkah?" Tanya Ernest masih kurang yakin.
"Tentu saja, lalu apalagi? Apa kakak menginginkan jawaban berbeda dari adikmu yang paling cantik ini?"
Ernest sontak terbahak begitu mendengar ucapan sang adik. Sementara Emely mencebik kesal, tak terima diejek sedemikian rupa.
"Kenapa menertawakanku seperti itu? Lagi pula tidak ada yang lucu."
Ernest geleng-geleng kepala. Ia pun mendekat lantas mengusap kepala sang adik penuh sayang.
"Aku hanya terkejut, rupanya adik kecilku sudah besar sekarang." Ernest merasa waktu berjalan begitu cepat. Emely, bocah imut nan menggemaskan itu sudah tumbuh menjadi gadis remaja nan rupawan sekarang. Padahal ia merasa baru kemarin masih mengendongnya kemana-mana.
"Kakak juga sudah besar, jadi mana mungkin aku akan terus menjadi gadis cilik sesuai keinginanmu, Kak Ernest." Ernest tergelak, begitu pun dengan Zara yang masih mengamati interaksi kedua putra putrinya. Hati perempuan itu menghangat, bersyukur dianugrahi ketiga buah hati yang saling menyayangi satu sama lain.
"Sudah, sudah. Jika kalian berdebat terus seperti ini, lalu kapan kapan selesainya? Ayah dan Kak Erich pasti sudah menggu di sana." Zara memperingatkan agar mereka bergerak cepat.
"Jangan khawatir, Ibu. Kami akan siap beberapa saat lagi," jawab Ernest yang spontan meninggalkan kedua perempuan itu untuk kembali ke kamarnya guna mempersiapkan keperluannya jua.
Disaat mengemasi pakaian dalam kopor, Ernest sempat menyunggingkan sebuah senyuman.
💗💗💗💗💗
Seseorang yang duduk tanpa alas, meringkuk merasakan dinginnya lantai yang menyentuh bagian kulit terbukannya. Di dalam sel yang pengap ini, Larasati seolah sedang menerima Karma atas apa yang sudah diperbuatnya selama ini.
Arum dan Larasati ditempatkan di sel yang berbeda. Gemar mengamuk dan tak bisa mengontrol diri membuat para penjaga berinisiatif untuk memisahkan Arum dengan narapidana lain dengan alasan keselamatan.
Kini, tak banyak yang Larasati bisa lakukan. Ia hanya bisa terduduk lesu dan melamun. Impian dan tujuan hidup tak lagi terlintas dibenak, berganti dengan sesal yang tak berkesudahan.
Seorang sipir mendekat, memberitahukan pada Lara jika ada seseorang yang datang berkunjung.
Gadis itu menghela nafas. Berfikir kiranya siapa yang secara sudi sudah ingin datang menemuinya.
__ADS_1
Apakah Steven? Ah sepertinya tak mungkin.
Larasati berjalan gontai mengekori langkah petugas. Begitu menginjak ruangan khusus yang disediakan untuk berkunjung, tubuh gadis itu menegang.
"Hai, apa kabar," sapa seseorang pada Lara.
Steven?.
Larasati masih terdiam. Cukup terkejut dengan kehadiran Steven yang sama sekali tak ia duga.
"Duduklah, lihat aku membawa beberapa makanan kesukaanmu," ucap Steven seraya menunjujan beberapa kotak makanan yang dikemas dalam paper bag.
Perlahan Lara mengikuti Intrupsi Steven. Duduk dan menerima buah tangan Steven.
Pria tampan itu mulai membuka kemasan dan wadah makanan. Aroma nikmat yang menguar seketika menyadarkan Lara yang masih tampak syok dengan kehadiran Steven.
"Kau pasti lapar, ayo makanlah, atau perlu aku suapi?"
Larasati masih terdiam sementara Steven mulai bergerak menyendok nasi dan lauk kemudian hendak menyuapkanmakanan ke mulutnya.
"Ayo, buka mulutmu," titah Steven yang sepertinya ragu untuk Lara ikuti.
"Ayo, makanlah. Aku tau kau pasti lapar." Steven kembali menyodorkan sesendok makanan ke bibir Lara dan mau tak mau gadis itu pun menerimanya.
Hup.
"Nah, pintar," puji Steven yang langsung mengerakan tangan untuk kembali menyendok makanan dan menyuapkannya kembali untuk Larasati.
Larasati menjerit dalam hati. Demi apa pun, ia benci dalam posisi seperti ini. Beberapa hari menghilang pasca penangkapan dirinya, kenapa kini Steven baru muncul dan berlagak seolah tak terjadi apa-apa di dalam hubungan mereka.
Tak terlihatnya Steven juga ayahnya, membuat Lara sempat berspekulasi jika hubungan mereka pasti akan kandas seperti harta benda yang terlepas dari gengamannya. Steven telah meninggalkannya. Begitulah yang sempat terbesit di benak Lara.
__ADS_1
Akan tetapi, kenapa kini Steven justru datang di saat dirinya sudah memantapkan hati dan rela untuk ditinggalkan. Kenapa Steven datang justru datang disaat demikian?.
Larasati menghela nafas dalam. Perlakuan Steven sama sekali tak berubah. Masih seperti dulu sebelum gelar Narapidana ia sandang. Lalu, apakah Lara masih tetap mempunyai harapan untuk kisah cintanya? Kisah cinta antara dirinya dengan Steven tetap utuh seperti sedia kala?.