
Semalam selepas keputusan didapat jika Anastasya menerima lamaran Rangga, pembicaraan semakin menghangat diantara Anastasya beserta sang putri serta Rangga dan Ibunya. Mereka sudah layaknya sebuah keluarga. Ibunda Rangga yang sangat senang melihat Natasya, meminta pada gadis itu untuk memanggilnya dengan sebutan 'Nenek'. Gadis itu tentu tak menolak, dan yang paling bahagia diantara mereka pastilah Rangga. Sepasang matanya berkaca dan tak bisa menutupi rasa haru saat Ibunya duduk diapit Anastasya dan putrinya.
Mungkin benar ucapan Rangga jika saat ini Tuhan seperti sedang menjawab dan mengabulkan semua do'a-do'anya. Sebuah do'a yang ia pinta setiap hari untuk kebahagiaanya serta kebahagiaan orang tuanya.
Mereka pun menikmati makan malam. Ibunda Rangga sempat tak menyangka jika kehidupan Anastasya kini sudah berbeda jauh dari masa mudanya dulu. Ia berfikir jika mantan suami Anastasya dulu memang dari kalangan berpunya. Akan tetapi kasta atau apa pun itu yang menyangkut Anastasya, tak lagi dipermasalahkan lagi oleh Ibunda Rangga.
Cukup. Penyakit yang sempat ia derita sudah cukup membuatnya sadar jika apa yang sudah ia lakukan di masa lalu dimurkai oleh Tuhan. Usianya semakin menua, begitu pun tubuhnya yang kian renta. Sekarang hanya Rangga lah sumber kebahagiaannya, dan letak kebahagiaan Rangga adalah Anastasya.
Ibunda Rangga bersyukur, sebab luka masa lalu yang mereka sempat torehkan, bisa dimaafkan oleh Anastasya, dan perempuan itu tak menolak lagi ketika ingin dinikahi oleh Rangga. Andai Anastasya masih menyimpan dendam dan menolak lamaran Rangga, Ibunda Rangga tak bisa membayangkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi pada putranya akibat penolakan Anastasya.
Waktu yang terus berjalan membuat Ibu dan Anak itu lantas berpamitan.
"Mungkin, besok aku akan datang lagi." Ucap Rangga saat Anastasya melepas kepergiannya di pintu utama.
Anastasya menganggukkan kepala yang bertanda jika perempuan itu pun mempersilahkan. Terlihat, Rangga tersenyum lega. Pria itu luar biasa senang, andai tak ada Ibunya pasti dia sudah memberanikan diri untuk menyentuh tangan Anastasya sedikit saja.
Sabar, Rangga. Sebentar lagi bukan hanya tangannya yang bebas kau sentuh, tapi semuanya.
Rangga membawa Ibunya keluar dari halaman rumah megah Anastasya. Ia sempat melambaikan tangan dan memberi kecupan jarak jauh bak remaja. Anastasya tersenyum malu sementara Natasya tergelak kencang dan langsung membekap mulut saat tatapan tajam sang Ibu mengarah padanya.
💗💗💗💗💗
"Natasya."
__ADS_1
Perasaan yang mengganjal membuat Anastasya mengejar sang putri ke kamarnya selepas kepulangan Rangga. Ia ingin memastikan perihal putrinya mau menerima Rangga sebagai Ayah tanpa lebih dulu mendiskusikan padanya. Memang saat itu secara terang-terangan Natasya meminta Rangga untuk mau menjadi Ayah untuknya. Akan tetapi gadis itu pun terlihat dilema di mana mendiang sang Ayah seperti membuatnya tidak ingin jika Ibunya kelak menikah lagi.
Natasya yang sudah membaringkan tubuh di atas ranjang, langsung terbangun saat mendengar sang Ibu memanggil namanya.
"Ibu?."
"Ibu ingin bicara." Anastasya ikut duduk di rajang. Menghadap sang putri yang sedang menatapnya.
"Tentang Tuan Rangga?."
"Ya, kau sudah yakin dan tidak menyesal dengan keputusanmu di kemudian hari?." Rasa sakit Anastasya pada Rangga memang masih tersisa. Akan tetapi ia pun tak menampik jika rasa cintanya pada Rangga mampu menghapus rasa sakit yang masih bersarang. "Jika kami sudah menikah apakah kau akan menganggap Tuan Rangga seperti Ayah kandungmu sendiri?." Putrinya sudah besar dan bisa menjaga dirinya sendiri. Tetapi Anastasya pun punya ketakutan tersendiri. Bagaimana jika putrinya kelak kesulitan menyesuaikan diri. Tidak seperti bocah yang tak ragu jika dilimpahi kasih sayang oleh Ayah sambung, lalu bagaimana dengan gadis seusia putrinya?.
"Semoga." Natasya mengulas senyum. Ia usap wajah lembut sang Ibu dengan penuh kasih. " Tuan Rangga pria baik. Beliau sangat menyayangi Ibu, dan hal tersebutlah yang membuatku mantap menerima lamaran beliau untuk Ibu. Tentang masalah yang lain, Ibu tak perlu khawatir. Aku akan menyesuaikan dan berusaha menghormati Tuan Rangga sama sepertiku menghormati Ayah." Memang tidaklah mudah. Sejatinya Natasya tak ingin posisi Kenan digantikan oleh siapa pun meski sosok itu sudah tiada. Mendiang Kenan begitu luar biasa, dan Natasya juga tak yakin jika Rangga kelak memiliki kepribadian yang serupa dengan Kenan. Akan tetapi, lagi-lagi gadis itu disadarkan oleh kenyataan bila Ibunya yang memang masih berusia cukup muda, butuh seorang pendamping.
Gadis itu menggangguk mantap.
"Tidak akan sebab aku tau Ibu pun bahagia atas keputusan ini." Sepasang mata Anastasya berembun. Lekas ia rengkuh tubuh sang putri, dan memeluknya erat. Anastasya terisak, dalam pelukan sang putri perempuan itu menangis.
"Terimakasih, Nak. Terimakasih banyak."
"Tidak, jangan berterimakasih padaku tapi berterimakasihlah pada Tuhan. Di sini aku hanyalah perantara." Meski dalam dekapan, terasa jika Natasya menggelengkan kepala.
"Kau memang putri Ibu yang terbaik. Kau adalah harta yang paling berharga, yang pernah Ibu miliki." Anastasya mengurai pelukan. Ia menciumi wajah sang putri masih dengan isak tangis yang keluar dari bibir.
__ADS_1
"Ibu," panggil Natasya pada sang Ibu."
"Ya."
"Sebelum Ibu menikah dengan Tuan Rangga, maukah Ibu mengabulkan satu permintaan dariku?."
"Permintaan?." Anastasya terdiam. Kenapa mendadak perasaannya tidak enak.
"Ya, satu permintaan."
Sejenak Anaatasya terdiam. Begitu pun dengan Natasya.
"Se-sebutkan permintaanmu. Jika Ibu mampu mengabulkan, tentu akan Ibu kabulkan." Kecemasan mulai melingkupi Anastasya. Ia tak bisa membaca fikiran sang putri. Ia juga tak bisa menebak, kiranya apa yang menjadi permintaan sang putri.
"Sebelum Ibu menikah, bolehkah aku mengunjungi makam Ayah?."
Isak Anastasya kembali terdengar bahkan lebih keras dari sebelumnya. Kembali ia menenggelamkan tubuh sang putri dalam pelukan, hongga keduanya pun menangis bersama. Anastasya tak mampu berkata-kata. Begitu pun dengan Natasya. Keduanya larut dalam fikiran masing-masing tentang Kenan.
"Untuk apa meminta persetujuan Ibu. Kita akan mengunjungi makam Ayah bersama-sama." Kenan. Mana mungkin Anastasya melupakan sosok pria itu begitu saja.
"Aku senang jika Ibu belum melupakan Ayah." Dalam tangis, sudut bibir Natasya mengukir senyum simpul. Ya, mengunjungi pemakaman sang Ayah adalah keinginannya sejak beberapa bulan lalu, jauh sebelum Ibunya dipertemukan kembali dengan Rangga.
Rasa rindu yang membuncah pun dengan beberapa kali bertemu lewat mimpi membuat Natasya tampu lagi menahan diri. Beruntung sang Ibu mengizinkan, dan mungkin dalam waktu dekat keinginannya itu akan tercapai.
__ADS_1
Tbc.