CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Keputusan Ernest


__ADS_3

"Ernest."


Pria yang disebutkan namanya itu terpaku. Berdiri diam dengan pandangan tertuju pada sosok gadis yang dulu teramat ia cinta. Akan tetapi wajah berseri gadis cantik itu kini menjadi pucat pasi seolah tak tetaliri darah. Rambut yang dulu terlihat indah, kini terburai awut-awutan seakan sudah lama tak tersentuh sisir.


"San- Sandara," ucap Ernest setengah terbata.


Gadis itu tersenyum, namun pada detik berikutnya dari sepasang mata bening itu mengalir bulir bening.


"Kau, Kau datang." Tubuh yang semula terbaring itu mulai bangkit. Susah payah ia bergerak, menuruni ranjang untuk memastikan jika kedatangan Ernest bukanlah khayalan.


Tubuh tegap itu masih berdiri di ambang pintu, sedangkan Andara memilih jarak aman. Membiarkan mantan kekasih itu saling meluruskan masalah.


"Ernest, ini benar-benar kau?." Begitu mendekat, Sandara menatap wajah Ernest begitu lekat. Seolah memastikan jika apa yang di hadapan mata bukanlah bayangan.


"Ya, Benar. Aku Ernest." Nada bicara Ernest terdengar begitu dingin di telinga Sandara. Sebuah Nada yang sedari dulu tak pernah pria itu gunakan untuk berbicara dengannya.


Kembali bulir bening mengalir dari sudut mata Sandara. Hatinya teriris menerima kenyataan yang ada jika dirinya bukan lagi orang yang berharga bagi seorang Ernest.


"Ernest, a-aku rindu. Bolehkah aku memelukmu," pinta San mengabaikan rasa malu. Tak ingin berbohong, ia sungguh teramat rindu pada Ernest yang dulu selalu ada di sampingnya. Tepatnya berkeluh kesah dan bercurah.


"Tidak. Hubungan kita sudah berakhir. Begitu pun dengan kisah cinta kita yang hanya tinggal kenangan, dan sudah tak sepantasnya tubuh kita untuk saling menyentuh satu sama lain," tolak Ernest yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Tangis Sandara pecah. Tubuhnya kembali melemah dan terduduk di lantai.


San...


Ernest mengusap kasar wajahnya. Satu sisi ia sudah tak ingin bersentuhan dengan gadis itu lagi, namun di sisi lain ia pun tak ingin meninggalkan Sandara dalam kondisi seperti ini.


Pria itu menghela nafas sebelum berlutut untuk menolong Sandara.


"San, bangunlah," titah Ernest yang kini memegang kedua bahu Sandara, lantas meminta gadis itu untuk bangkit. Dalam jarak sedekat ini Ernest bisa melihat semengenaskan apa kondisi mantan kekasihnya itu saat ini. Tubuh yang mulai kurus serta penampilan yang acak-acakan, membuat kesan seorang Sandara yang cantik dan elegan, mendadak sirna.


Perlahan Ernest membimbing tubuh Sandara untuk bangkit dan mendudukannya di sofa. Rasa iba sang pria mulai menyergap saat sentuhan kulit itu kembali menyapa. Akan tetapi, kini semua tak lagi sama.


"Aku sudah memaafkanmu."


Sandara memejamkan mata saat nada suara begitu dinginlah yang terucap dari bibir Ernest.


"Aku mengakui semua kesalahanku. Aku benar-benar minta maaf."


Ernest tak menjawab.


Ingin sekali Sandara meminta untuk bisa memperbaiki kisah cinta mereka, hingga kembali seperti dulu. Namun, ia sadar jika semua sudah tak lagi sama.

__ADS_1


"Sandara," pangil Ernest, lagi-lagi dengan nada suara begitu dingin.


"Ya," jawab Sandara lirih seraya mendongak, menatap sepasang mata elang yang dulu selalu menatapnya penuh cinta, namun kini...


"Tujuanku datang ketempat ini selain untuk menemuimu juga bermaksud untuk menyelesaikan semua yang telah terjadi dalam kisah kita. Seperti yang kau tau untuk tujuan apa kau mendekatiku. Maka disitu pulalah diriku berhak untuk mengakhiri hubungan yang nyatanya tak dilandasi dengan cinta. Sandara, hubungan kita memang sudah berakhir selepas malam itu. Malam di mana harga diriku sebagai seorang pria seakan diinjak-injak oleh sifat asli murahanmu itu."


Sandara menelan salivanya berat. Memorinya melayang disuatu malam saat dirinya berusaha untuk mencuri cincin pernikahan Erich, namun gagal.


"Disaat itulah kedua mataku seolah terbuka lebar. Menilai secara gamblang seluruh sifat asli dirimu yang dulunya pernah kupatahkan dari mulut orang lain karna rasa cintaku kepadamu. Aku mulai sadar, jika sekeras apa pun aku merubahmu. Nyatanya kerikil tetaplah kerikil yang tak pernah bisa diubah menjadi permata."


Bibir Sandara nyaris mengganga. Tak mengira jika seorang Ernest yang senantiasa lembut justru berbalik menghinanya tanpa iba. Ia kembali tertunduk, seiring bulir bening yang meluber tak mampu lagi dicegah.


"Kau tidak mencintaiku. Itulah pengakuanmu pada malam itu." Ernest tersenyum tipis. Ia menghela nafas berulang guna menganggsur sesaknya nafas di dalam dada. "Aku sangat menghargai kejujuranmu, dan kau benar. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Maka dari itu, setelah ini tidak ada hubungan apa pun lagi yang terjalin di antara kita. Kau akan Hapus ingatan dan semua tentang diriku, begitu pun dengan dirimu."


Sandara membekap mulut, menahan tangis agar tak meledak.


"Baiklah, aku rasa semua pembicaraan kita sudah jelas." Ernest menghela nafas, merapikan penampilan dan bersiap untuk bangkit. "Jalanilah kehidupanmu seperti sedia kala, San. Yakinlah, jika suatu saat kau akan menemukan seorang pria yang jauh lebih segalanya dari pada aku. Permisi." Tubuh tinggi tegap itu sempat mengurai senyum tipis pada sang gadis sebelum berlalu pergi.


Sementara Sandara, selepas kepergian Ernest tangis gadis kembali pecah. Ia terduduk di lantai dengan kondisi menyedihkan. Andara yang muncul dari balik pintu selepas kepergian Ernest pun lekas berlari untuk membantunya berdiri.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2