CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Ucapan Bernada Ancaman


__ADS_3

Saat menyambut datang pagi, Isabel bangkit dari pembaringan sembari menguntai doa dan kata-kata penyemangat. Setidaknya hari ini ia masih punya harapan. Tidak ada salahnya berjuang dari pada terpuruk dalam keterputus asaan.


Ratih terus memberinya isyarat untuk lebih cepat menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah. Keduanya memang memiliki rencana untuk keluar dari rumah agar bisa bertemu dengan Thomas disuatu tempat.


"Bibi yakin rencana kita akan berhasil? Bagaimana jika ada yang memergoki? Bu Arum pasti akan marah besar dan langsung menghukumku." Bayangan menakutkan itu berkeliaran. Bagaimana jika mata-mata ibu tirinya lebih dulu tau bahkan sebelum rencana mereka terealisasi.


Ratih pun sebenarnya tak mampu mengusir gurat kecewasan di wajahnya, akan tetapi tekad yang begitu besar untuk bisa membawa kabur sang tuan, membuat Ratih mengesampingkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi andai mereka ketahuan.


"Nona tidak perlu takut. Yakinlah jika tuhan selalu ada bersama kita."


Isabel mengangguk patuh. Dibanding dengannya, justru Ratih-lah yang terlihat paling bersemangat. Meski terlihat baik-baik saja, namun Isabel yakin jika perempuan paruh baya itu pun juga diliputi kecemasan yang tak terkira.


💗💗💗💗💗


Pagi ini Ratih membawa Isabel untuk berbelanja disebuah pasar tradisional sesuai strategi yang sudah diatur semalam. Rencananya di pasar itulah keduanya akan bertemu dengan paman Isabel, Thomas yang memang tinggal di kota berbeda.


Ratih mengandeng tangan Isabel untuk duduk disebuah mobil yang akan mengantar perjalanan mereka. Sebelumnya Ratih sudah meminta izin untuk pergi dengan taksi, namun Arum dengan tegas melarang. Bukan sebagai bentuk perhatian, namun seperti biasa Arum akan meminta pada seorang sopir untuk mengantar sekaligus memata-matai pergerakan Ratih di luar rumah. Terlebih kini ada Isabel yang ikut serta. Bisa dipastikan jika Arum akan lebih memperketat pengawasan.


Kondisi pasar dipagi hari terbilang cukup ramai. Ratih tetap menggengam tangan Isabel kemana pun. Begitu pun dengan sang sopir yang berjalan mengekor di belakang keduanya. Benar-benar. Isabel risih dan tak nyaman. Sopir itu terlihat seperti pengawal yang selalu mengikuti langkah. Tak memberi ruang bagi Isabel dan Ratih untuk sekedar membahas hal tentang thomas.


Isabel mulai gelisah. Sudah lebih dari setengah jam mereka berkeliling, sedangkan semua belanjaan yang dibutuhkan hampir sweluruhnya sudah terbeli.


Bagaimana ini?


Keduanya lantas memutar otak. Coba mencari jalan keluar meski sepertinya percuma sebab sopir itu sendiri masih setia membuntuti. Isabel juga cemas, bagaimana jika Thomas datang dan langsung menghampiri mereka. Bisa-bisa seluruh rencana yang sudah disusun masak-masak, gagal total.


"Bibi, aku ingin ke toilet."

__ADS_1


Ratih terkesiap, namun ia sadar jika mungkin saja ini adalah bagian dari rencana Isabel untuk bisa mengecoh sang sopir.


"Ba-baik, mari saya antar nona."


Keduanya pun mencari-cari di mana letak toilet perempuan berada. Sementara sang sopir masih setia mengekor di belakang.


"Di sana nona." Ratih menunjuk sebaris toilet yang peruntukan bagi kaum hawa. Sejujurnya Isabel tak ingin buang air kecil, hanya saja ia ingin melihat bagaimana reaksi supir itu saat harus mengikutinya sampai ke toilet perempuan.


"Kau yakin ingin terus mengikuti kami. Kau tidak membaca tulisan jika toilet ini diperuntukan bagi wanita?" Ucap Ratih setengah ketus pada sang sopir. Sementara langkah pria itu terhenti seketika. Ia menelan ludah kasar saat beberapa perempuan yang ada di bilik toilet menatapnya tajam.


"Ti-tidak. Aku akan tunggu di luar saja."


Yes.


Begitu tubuh pria itu menghilang, Isabel lekas memeriksa ponsel di dalam tas jinjingnya.


Ya tuhan.


"Bibi, paman Thomas sudah menghubungi. Bagaimana ini?" Bisik Isabel pada Ratih agar tak di dengar oleh sang sopir.


"Begini saja, nona hubungi tuan Thomas dan katakan jika kita sedang berada di toilet. Kemudian Nona minta pada tuan Thomas untum mencari tempat aman yan letaknya tak jauh dari tempat ini."


Gadis itu pun mengangguk. Ratih pun meminta Isabel untuk masuk ke dalam salah satu toilet untuk lekas menghubungi Thomas sebelum supir mata-mata itu mulai curiga.


Panggilan terhubung. Thomas langsung mdnerima begitu tau keponakannyalah yang melakukan panggilan. Setengah berbisik Isabel berbicara. Ia takut ketahuan. Beruntung sang paman mengerti dan lamgsung mencari tempat yang aman sekiranya digunakan untuk bertemu.


💗💗💗💗💗

__ADS_1


"Isabel," ucap pria berusia 40an itu dengan bibir bergetar. Sepasang matanya berkaca-kaca menahan rasa haru yang menyeruak begitu saja memenuhi rongga dadanya. Pria itu mengulurkan kedua tangan, berharap pada sang keponakan untuk memeluknya.


Gadis itu faham, dan spontan menghambur memeluk tubuh tegap sang paman.


"Ya tuhan. Kau sudah besar sekarang, nak." Thomas menciumi puncak kepala Isabel. Pria itu tergugu. Gadis kecil yang dulu sering ia timang, kini sudah tumbuh besar dengan paras yang menyerupai Ibundanya.


Ratih yang berdiri sembari memastikan keadaan, juga diliputi keharuan saat menyaksikan pertemuan antara keponakan dan paman yang sudah bertahun lamanya tak bersua.


Isabel lekas mengurai pelukan. Kondisinya kini cukup genting. Jika terlalu lama mengelabuhi sopir, maka nyawanya pasti menjadi taruhan.


"Paman, maaf, waktu kami tidak banyak. Hanya paman satu-satunya orang yang kami harapkan. Abel tidak tau harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Setidaknya Kasihanilah Ayah. Walau sebesar apa pun kebencian diantara kalian, aku meminta maaf yang sedalam-dalam pada paman, atas nama ayah."


Thomas tertegun, mendengar ucapan sang keponakan membuat rasa bersalahnya muncul seketika.


💗💗💗💗💗


"Dari mana saja kalian?!" Arum menyambut kedatangan Isabel dan Ratih dengan raut wajah tak bersahabat.


"Belanja kebutuhan dapur di pasar tradisional, nyonya." Ratih menjawab setenang mungkin.


"Benarkah? Tetapi kenapa kali ini kau berbelanja sampai memakan waktu lebih lama dari biasanya?"


Ratih terdiam. Kini justru Isabel yang mengambil alih pembicaraan.


"Maaf bu, aku diare jadi harus bolak balik ke toilet untuk buang air. Jadi wajar jika kami butuh waktu lebih banyak dari biasanya. Jika ibu tidak percaya, tanyakan saja pada Mang Jojo."


Arum spontan melirik kearah Jojo yang berdiri tak jauh dari mereka. Pria itu mengangguk, pertanda meng-iyakan. Isabel dan Ratih pun bisa bernafas lega. Terlebih Arum langsung terdiam dan tak lagi membebani keduanya dengan rentetan pertanyaan yang memusingkan.

__ADS_1


"Ingat, jangan pernah berfikir untuk macam-macam. Jika tidak, maka nyawa ayahmulah yang menjadi taruhan." Arum menyerigai. Terlihat begitu mengerikan. Selepas berucap Arum pun berbalik badan dan berlalu pergi. Sementara Isabel hanya bisa menelan ludahnya getir. Arum kini mulai berani mengancamnya dengan membawa nyawa sang ayah. Isabel tak gentar. Ia tetap akan berjuang sampai titik darah penghabisan, demi sang ayah.


Bersambung guys 😘😘😘😘


__ADS_2