CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Merindukan Secangkir Kopi


__ADS_3

Berbeda dari rencana awal yang akan menghabiskan waktu beberapa hari untuk berkumpul dengan keluarga, pagi ini Erich justru memutuskan kembali ke kota xx untuk kembali bekerja. Tak menampik jika kemunculan Sandara membuat suasana hatinya berubah-ubah.


Zara dan Arka sepertinya kecewa. Sebab belum puas mereka melepas rasa rindu namun harus kembali terpisah oleh jarak. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar itu tak lupa memasak beberapa makanan yang memang disukai Erich sebagai bekal. Sementara Erich sendiri tak menolak, ia justru girang sebab hasil masakan yang diolah dari tangan sang ibu selalu membuatnya ketagihan. Bahkan masakan koki pun tak sebanding dengan hasil racikan tangan ajaib ibunya.


"Begitu sampai, katakan pada Bibi untuk menyimpannya dikulkas. Dan jika ingin makan, kau hanya perlu memanaskannya saja." Zara selalu mengingatkan, pasalnya Erich cenderung pelupa jika menyangkut hal remeh temeh seperti ini.


"Siap cantik." Pria muda itu mendekat dan memberikan sebuah ciuman di pipi ibunya. "Terimakasih ibuku sayang, kau takkan tergantikan."


Zara tersenyum samar. Di matanya, Erich bukanlah pria dingin, tetapi pria berhati lembut dan mudah rapuh.


"Bukan takkan, tetapi belum. Suatu saat posisi ibu pasti akan terganti dan itu tinggal menunggu waktu. Bersabarlah, ibu selalu mendoakan semua yang terbaik untuk putra putri ibu." Zara membingkai wajah sang putra dengan kedua tangan. Pandangannya lekat tertuju pada kedua bola mata sang putra, menyelaminya dalam. Seperti ada setitik luka yang mungkin sengaja putra sulungnya itu tutupi.


"Terimakasih."


"Berbahagialah. Doa ibu selalu menyertai langkahmu." Zara membawa sang putra dalam pelukan. Rasa haru menyeruak. Putra putri Zara memang tak pelit menunjukan rasa sayang. Bahkan Erich dan Ernest yang seorang pria dewasa pun tak akan malu untuk memeluk atau mencium sang ibu sebagai bentuk rasa sayang. Terlebih Emely yang perempuan dan memiliki sifat manja diatas rata-rata.


"Ya tuhan, apa yang kalian berdua lakukan." Arka hadir di antara ibu dan anak yang masih berpelukan. "Dia itu istriku, bukan pacarmu. Kenapa memeluknya?" Arka memisahkan tubuh Erich dari Zara, dengan senyum penuh kemenangan Arka kini sudah memeluk tubuh istrinya dan mendaratkan beberapa kecupan pada puncak kepala istrinya tersebut.


Erich berdecak. Berkacak pinggang seraya mengelengkan kepala.


"Ya tuhan, orang tuaku bahkan sudah terserang virus kebucinan akut."

__ADS_1


Sadar jika ia hanya pria jomblo, Erich memilih menghilang, jujur semakin lama melihat kemesraan yang terjalin diantara kedua orang tuanya, membuatnya mati gaya dan hilang kepercayaan diri. Bagaimana tidak, dari segi paras, tentu ia tak kalah tampan dari sang ayah. Begitu pun dengan materi. Erich bahkan sudah memiliki beberapa departmen store yang sudah tersebar diberbagai kota.


Akan tetapi semua kelebihan yang ada seolah tak berguna, saat tak ada seseorang yang bisa dijadikan sandaran atau sekedar berkeluh kesah.


(Sabar Erich, kalau sudah jodoh, takkan lari kemana wkwkwk).


💗💗💗💗💗


Erich menatap sekeliling ruang kerjanya. Tak ada yang berbeda. Tetap tersusun rapi seperti biasa. Pria muda itu tersenyum simpul seraya menjatuhkan bobot tubuh di kursi putar kebesarannya.


Hem, baru dua hari ia tinggal tetapi ruangan ini sudah begitu ia rindukan. Ruangan di mana ia kerap menghabiskan sebagian waktunya untuk bekerja. Ruangan yang selalu menjadi tempatnya merenung atau sekedar tempat pelarian dari kisah cintanya yang rumit.


Hem, mungkin bukan hanya ruangan ini yang ia rindukan tetapi juga secangkir kopi racikan Isabel.


Seluas senyuman terkembang di bibir berisi pria itu. Ia pun menekan jaringan interkom yang terhubung dengan sekretaris pribadinya, Starla.


"Katakan pada gadis itu untuk membawa kopi keruanganku."


"Maksud tuan Isabel?"


"Memang siapa lagi?"

__ADS_1


"Tapi Is---"


"Cepat, tidak pakai lama." Erich lekas memutus sambungan interkom. Kembali memeriksa berkas diatas meja yang sudah menumpuk untuk lekas ditandatangani sembari menunggu secangkir kopi favoritnya datang.


"Liurkan bahkan nyaris menetes hanya dengan membayangkannya saja," gumam Erich yang diam-diam memuji kenikmatan kopi racikan Isabel.


Pintu ruang kerjanya diketuk dari luar. Tidak salah lagi, itu pasti Isabel. Begitu fikir Erich.


"Masuk."


Erich coba menyembunyikan senyum tipis di bibir dengan berpura-pura sibuk dengan tumpukan map dan pena di tangan. Bahkan kepalanya tertunduk sebab tak ingin kedapatan tengah menunggu Isabel datang.


"Permisi tuan. Ini secangkir kopi sesuai pesanan tuan."


Suara itu membuat tubuh Erich spontan menegang.


Suara itu. Tidak itu bukan suara Isabel tapi...


Erich mendongak. Coba menatap wajah sang pemilik suara yang baru saja memasuki ruangannya.


"Bu Retno?" Erich terperangah. Rupanya bukan Isabel lah yang datang melainkan Retno.

__ADS_1


"Ya tuan. Ini saya, Bu Retno." Wajah perempuan paruh baya itu tersenyum lembut. Menatap wajah sang tuan dengan bola mata berbinar. Akan tetapi hal berbeda justru dirasakan Erich. Pria itu masih cukup syok dengan kenyataan yang didapat. Bukankah Jika Retno kembali, maka Isabel pun harus pergi?.


Tidakk


__ADS_2