
Gumpalan awan hitam yang berararak diiringi rintik hujan dari langit, seakan mewakili perasaan seseorang saat ini. Di sini, di depan bangunan beberapa tinggkat, Rangga berdiri terpaku. Menatap lama sebuah toko bunga, dan tak memperdulikan rambut serta pakaiannya yang mulai basah oleh air hujan.
"Natasya Flowers." Bibir Rangga bergumam. Membaca nama toko bunga yang ia datang namun hanya ia pandang dalam diam sejak beberapa menit lalu.
Bukan tanpa alasan dirinya nekat datang ke tempat ini. Hasil kerja Roi, memang tak main-main sampai kurang dari 24 jam, pencarian informasi sudah membuahkan hasil.
Kenan Syailendra, dia adalah suami Anastasya namun sudah meninggal sekitar satu tahun lalu.
Ada yang terasa menyayat hati Rangga begitu mendengar jika Anastasya sudah menikah dan memiliki anak dari pria lain. Tapi bagaimana lagi. Semua sudah terjadi.
"Tuan, ada yang dapat kami bantu?."
Rangga terkesiap begitu tersadar jika ada seseorang yang merupakan salah satu karyawan toko bunga datang menghampiri.
"Tuan, maaf, ada yang dapat kami bantu atau ada sesuatu yang anda inginkan?."
Rangga menggerjap. Wajar saja dengan penampilannya yang seperti dan berdiri di area parkir toko bunga, tentu menjadi pertanyaan orang sekitar terlebih pekerja toko bunga.
"Em, ya. Aku ingin bertemu dengan pemilik toko, apakah beliau ada di tempat?." Rangga kini menatap pada sang wanita yang menggunakan seragam khusus karyawan toko bunga. Natasya flowers. Ah, toko bunga ini bahkan mempunya nama yang serupa dengan Sekretaris Ernest. Ya, bukankah Natasya memang putri dari Anastasya.
"Ada, Tuan. Beliau ada di dalam, dan apakah Tuan sudah membuat janji untuk bertemu?."
Pertanyaan sang wanita membuat Rangga tersadar, Ya, dirinya bahkan tak memuat janji temu.
"Maaf, belum. Tapi ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan pemilik toko."
Wanita dengan rambut terikat rapi itu, menganggukkan kepala. Ia mengira jika Rangga adalah salah satu costumer yang ingin memesan bunga.
"Baik. Natasya Flowers selalu menjamin kesegaran serta kualitas bunga yang keluar dan masuk dari toko kami, Tuan. Jika Tuan berkenanan, silakan lebih dulu melihat-lihat untuk membuktikan."
Rangga menelan saliva namun tak urung kepalanya mengangguk jua.
__ADS_1
"Iya, aku akan memesan bunga di toko ini sangat banyak untuk suatu acara. Akan tetapi, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
"Tentu saja, Tuan." Wanita tersebut masih ramah menjawab setia tanya Rangga. Terlebih setelah mendengar jika pelanggan tersebut akan membeli bunga dengan jumlah banyak.
"Apakah pemilik toko bunga ini bernama, Anastasya?."
Hening. Wanita itu menatap pengunjungnya penuh tanya, sedangkan Rangga menunggu jawaban dengan penuh harap.
"Benar, Tuan. Pemilik Natasya Flowers ialah Nyonya Anastasya, atasan kami."
Ingin Rasanya Rangga bersujud dan mengucap syukur. Akan tetapi, ia tersadar jika sedang berada di tempat umum. Hatinya terasa sejuk seakan tertiup angin.
"Baik, bawa aku padanya dan katakan jika aku akan membeli bunga di toko ini dengan jumlah banyak." Rangga begitu antusias, begitu pun dengan karyawan toko tersebut. Mereka memasuki toko dengan rasa bahagia dengan porsi masing-masing.
💗💗💗💗💗
"Nyonya."
Suara salah seorang karyawan dan derap langkahnya yang terdengar mendekat, membuat Anastasya yang sedang memeriksa lembaran kertas di atas meja kerja, mendongak.
"Ada calon pembeli yang ingin menemui anda. Tuan itu bilang jika akan membeli bunga dalam jumlah banyak." Karyawan itu menjelaskan dengan bola mata berbinar. Anastasya mendengarkan dengan saksama. Calon pembeli?. Ah, beruntunglah jika toko bunga miliknya semakin banyak memiliki pelanggan.
"Baik. Pinta padanya untuk menungguku di bawah. Sebentar lagi aku akan turun," titah Anastasya yang spontan diangguki oleh karyawan perempuan tersebut. Sepeninggalnya, Anastasya merapikan pekerjaannya di atas meja dan juga penampilannya.
Perempuan itu tersenyum. Masih tak menyangka jika toko bunga yang terhitung belum lama ia buka, rupanya mengikuti jejak kesuksesan toko bunganya di masa lalu.
Mungkin ini rezeki putriku. Rezeki anak yatim, yang terus mengalir lewat tangan sang pemilik bumi.
Anastasya bangkit, ia pun keluar dari ruang kerja untuk menemui calon pembeli yang semoga saja berminat dengan bunga-bunga yang berada di tokonya.
Siang ini kondisi toko bunga cukup ramai oleh pembeli sama seperti hari biasa. Alhamdulilah.
__ADS_1
Karyawan perempuan tadi berbicara pada Anastasya dan menunjukkan seorang pria yang duduk menunggu dengan posisi memunggungi dirinya.
"Nyonya, tuan tersebut menunggu di sana."
"Ya, akan aku temui beliau." Anastasya melangkah namun pandangannya tertuju pada tubuh tegap pria berbalut jas yang tak terlihat wajahnya.
Siapa dia?. Anastasya berfikir, jika dari postur sspertinya dirinya belum bisa mengenali. Rambut hitam yang tersisir rapi ke belakang, Anastasya masih tak bisa mengenali siapa wajah pemilik dari rambut hitam nan lebat itu.
"Selamat siang, Tuan. Dengan Natasya flowers, ada yang bisa kami bantu, Tuan." Anastasya menyapa ramah dari belakang punggung sang pria. Akan tetapi begitu tubuh sang calon pembeli berbalik, hingga keduanya saling berhadapan, tubuh Anastasya tersentak.
Hening. Dunia seakan berhenti berputar ketika kedua insan yang pernah terhubung di masa lalu itu saling berpandangan.
Rangga. Tak dapat di ibaratkan seperti apa perasaan Rangga ketika kembali bertemu dengan Anastasya. Terlebih dalam jarak sedekat ini.
"A n a s t a s y a." Bibir Rangga bergetar. Menyebut nama seorang wanita yang kini berdiri di hadapannya.
Sementara itu tubuh Anastasya masih mematung. Tidak, ia tidak salah lihat. Dia Rangga, tapi kenapa pria itu ada di tokonya sekarang?.
Tubuh Anastasya terpaku. Melihat wajah Rangga, sontak memutar ingatannya pada seluruh kejadian bertahun-tahun lalu.
Pertemuan pertama, menjalin kasih, penghinaan orang tua Rangga dan kelahiran Abigail seperti berputar diotak. Semua seperti rekaman yang kini mendadak berputar kembali ketika wajah Rangga muncul di hadapan.
Anastasya memejamkan mata. Ia menghela nafas dalam secara berulang.
"Anastasya, ini aku." Rangga kembali berbicara, namun Anastasya masih tak memberi respon. Dia masih terlalu terkejut dan kebingungan untuk menata hatinya sendiri.
"Apa kabarmu?."
"Maaf, untuk urusan pembelian, akan ada salah satu karyawan yang mewakili. Saya permisi." Setelah berucap Anastasya berbalik badan. Ia hendak melangkah namun lengannya di tahan oleh seorang pria, dan sontak membuat perempuan itu memejamkan mata.
"Aku mohon, jangan pergi. Berikanlah waktu padaku untuk berbicara. Sekejap saja, tak apa. Asal kau sudi mendengar kata maafku lebih dulu."
__ADS_1
Anastasya diam. Ia tak menjawab tapi juga tak berusaha melepaskan tangan Rangga yang masih menggengam lengannya.
Tbc.