CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Ibuku, Pahlawanku


__ADS_3

Natasya tersenyum senang selepas menerima panggilan telfon dari Asisten Ernest yang memberikan kabar jika dirinya lah yang terpilih menjadi Sekretaris pribadi Ernest Surya Atmadja.


Gadis itu menyimpan ponselnya di atas nakas, setengah berlari ia menuju walk in closet untuk memilih yang kiranya cocok digunakan untuk pertemuannya dengan sang atasan pada esok hari.


"Yang mana ya," gumam Tasya. Ia berfikir dengan pandangan tertuju pada jajaran pakaian yang tertata rapi di hadapannya.


Tasya tentu kebingungan mengingat ini untuk pertama kalinya dirinya bekerja terlebih diperusahaan besar pula.


"Aku harus menemukan pakaian yang pas dan tergolong sopan." Tasya masih terus mengedarkan pandangan keseluruh pakaian yang ia punya. Ia sering melihat para pekerja kantor yang terlihat rapi dengan gaya pakaian masing-masing. Ada dari mereka yang senang memakai rok pres body, juga ada yang lebih nyaman mengenakan celana bahan. Lalu ia harus memakai yang seperti apa?.


"Em, nah. Bagaimana jika ini saja." Tasya tersenyum senang. Sepertinya dirinya sudah menemukan pakaian yang pas dikenakan untuk esok hari. Semoga saja ini adalah awal yang baik untuk nasib dirinya untuk kedepan.


💗💗💗💗💗


"Ibu, aku diterima bekerja di perusahaan Atmadja group."


"Uhuk." Anastasya tersedak. Sesendok nasi yang baru saja masuk ke dalam mulut, terhambur keluar. Perempuan luar biasa terkejut saat sang putri memberinya kabar yang sesungguhnya tak ingin ia dengar.


"Ibu, pelan-palan." Tasya mengangsur segelas air putih untuk di minum oleh sang Ibu. Gadis itu bahkan bangkit untuk menepuk lembut punggung sang Ibu yang tersedak.


Tasya kembali ke kursinya selepas memastikan sang Ibu baik-baik saja. Tadi dirinya diliputi perasaan khawatir saat melihat wajah sang Ibu yang seolah memiliki banyak beban. Apakah Ibunya sedang memikirkan sesuatu hal?. Tasya pun tak tau pasti. Akan tetapi semenjak dirinya meminta izin untuk bekerja di perusahaan Atmadja group, Anastasya menjadi lebih banyak diam dan tak seceria biasanya.


"Ibu baik-baik saja?." Natasya sekali lagi bertanya untuk lebih memastikan praduganya.

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Seperti yang kau lihat, Ibu baik-baik saja. Tadi Ibu tersedak hanya karna menahan batuk saja," kilah Anastasya agar tak menyiratkan rasa penasaran dalam benak sang putri, sekaligus ia tak ingin jika Natasya mengkhawatirkannya.


"O, begitu," jawab Tasya seraya menganggukkan kepala. Meski pun ia seperti tak yakin dengan jawaban yang diberikan oleh sang Ibu.


"Kau bilang tadi jika diterima bekerja di Atmadja group. Wah, Ibu sangat senang mendengarnya. Selamat putriku. Ibu akan selalu mendukung apa pun yang menjadi keinginanmu. Jika Tasya senang, maka Ibu pun akan lebih senang." Begitulah hati seorang Ibu. Anastasya yang kini berperan menjadi orang tua tunggal bagi Natasya, sepenuh hati mendukung keinginan sang putri asal tetap memegang teguh batasan-batasannya dengan menjaga dan mengedapakan kehormatan orang tuanya.


"Benar, Ibu. Terimakasih. Semua juga berkat Doa tulus dari Ibu." Natasya menatap haru pada wanita di hadapannya. Ibuku, pahlawanku. Meski tak lagi memiliki seorang Ayah, namun Anastasya bisa menjadi sosok perempuan kuat yang memiliki peran sebagai seorang Ibu sekaligus Ayah bagi dirinya.


"Dan kau akan bekerja dengan?."


"Tuan Ernest Surya Atmadja, beliau adalah salah satu cucu kembar dari Tuan Atmadja."


Lagi-lagi Anastasya menelan saliva dengan susah payah. Apakah putra kembar yang sang putri maksud adalah salah satu putra dari Arkana Surya Atmadja, mantan suaminya. Peluh dingin mulai menitik di pelipis. Suasana hati Anastasya mendadak was was dan tak menentu.


Di atas sajadah yang terbentang, di dalam doanya Anastasya beberapa kali memohon pada sang pencipta dalam setiap sujudnya, agar sang putri tak lolos dalam melakukan tes dalam bentuk apa pun pada Atmadja group.


Biarlah ia mendapatkan makian, andai sang putri mendengar doa-doanya. Namun, satu hal yang pasti, ia melakukan semuanya karna tak ingin putrinya berada dalam lingkaran kehidupan bersama keluarga Atmadja.


Namu, pada detik ini pula sebuah kenyataan seakan menampar kesadarannya. Doa yang senantiasa panjatkan, tak dikabulkan.


💗💗💗💗💗


"Ibu, bagaimana penampilanku, sudah rapi?." Natasya berdiri, meminta penilaian dari sang ibu untuk cara berpakaiannya.

__ADS_1


Pagi ini Natasya terlihat menawan dengan bleser berwarna salem yang ia padukan dengan rok span berwarna hitam sebawah lutut yang membalut pas di tubuh rampingnya.


Rambut panjangnya ia biarkan tergerai. Lembut dan jatuh di punggungnya.


Anastasya tersenyum. Ia mengakui paras rupawan sang putri yang menguasai lebih banyak gen dirinya dari pada Kenan, sang suami. Perempuan itu mengacungkan kedua jari jempolnya.


"Nyaris sempurna, sayang."


"Ibu yakin?." Natasya sendiri seperti tak yakin dengan penampilannya. Ia kurang percaya diri.


"Yakin. Lagi pula pakaian ini tergolong sopan dan kau pun terlihat nyaman memakainya, jadi apa lagi yang perlu diragukan?."


Natasya meringis. Ya, benar juga ucapan sang Ibu. Yang penting pakaian ini sopan dan nyaman untuk dirinya.


"Baiklah Ibu, aku akan berangkat. Do'akan aik Ibu." Natasya menyalami sang Ibu dan mencium punggung tangan wanita yang sudah melahirkannya.


"Do'a Ibu selalu mengiringi langkahmu, Nak. Berhati-hatilah." Anastasya melepas kepergian sang putri dengan perasaan yang, entahlah. Sulit untuk diungkapkan apa lagi dijabarkan.


Melihat sang putri berpenampilan seperti ini, seakan memutar ingatanya pada beberapa tahun silam saat dirinya baru saja menjejakkan kaki ke kota besar untuk mencari pekerjaan.


Perih dan getirnya hidup seakan memaksa Anastasya untuk menahan langkah sang putri untuk bekerja. Namun, sebagai orang tua dirinya tak boleh terkubang dalam ketakutan di masa lalu yang justru menjadi boomerang untuk masa depan putrinya nanti.


Semoga nasibmu, lebih baik dari Ibumu, Nak. Berbahagialah, sebab kau memang pantas untuk hidup bahagia.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2