
Di dalam kamar berukuran luas, Isabel sedang menikmati serangkaian perawatan tubuh sebagai ritual sebelum prosesi akad nikah berlangsung pada esok hari. Seluruh tibuhnya begitu dimanjakan. Mendapat perawatan premium dari ujung rambut hingga kaki. Saat mendapatkan pijatan di seluruh tubuh gadis itu bahkan tertidur, merasa dibuai oleh tenaga pemijat profesional hingga membuatnya terbang ke alam mimpi.
"Nona," salah seorang pemijat berusaha membangunkan Isabel meski ragu.
"Hem." Untuk panggilan kesekian kali barulah gadis itu bergumam seraya mengerjap.
Pemijat itu mengarahkan Isabel untuk berendam di dalam bath up yang sudah terisi dengan air hangat dan wewangian juga berbagai macam bunga dengan aroma menyegarkan. Sepasang mata Isabel yang semula sayu akibat kantuk, kini melebar. Campuran wewangian yang terasa menenangkan seakan membangunkannnya untuk segera menikmati rentetan perawatan diri yang tersaji.
Isabel tak sendiri. Dia diperlakukan layaknya ratu. Dua orang perempuan membantunya menggosok pungguh dan area tubuh lain hingga benar-benar bersih. Isabel yang semula sempat rikuh mulai terbiasa. Tak ada lagi rasa malu. Toh para pekerja itu juga sama-sama perempuan sepertinya.
"Maaf ya, sudah merepotkan kalian." Isabel memulai pembicaraan pada kedua perempuan yang masih sibuk menggosok tubuhnya.
Keduanya lantas tersenyum. Terlihat manis dan ramah.
"Tidak Nona, kami justru berterimakasih sebab sudah diberi kesempatan untuk bisa memberi pelayanan kepada nona dengan baik," jawab salah seorang perempuan dengan penuh semangat.
"Benar Nona, sungguh ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami." Satu perempuan lain tak mau kalah. Bagi mereka, mendapatkan pelanggan seperti Isabel sudah seperti mendapat durian runtuh. Bukan hanya Isabel yang merupakan calon istri dari pria terpandang di kotanya namun mereka juga mendapatkan imbalan yang tentunya tak pernah mereka bayangkan. Belum lagi bonus tambahan andaikata Isabel benar-benar puas dengan kerja keras mereka. Tentu tak terhitung berapa jumlah rupiah yang akan masuk ke kantong dua perempuan tersebut.
"Baiklah. Aku senang dengan kerja keras kalian." Isabel bisa memperkirakan jika usianya pasti lebih muda dari dua perempuan yang sedang bersamannya. Melihat betapa bersemangatnya mereka bekerja demi rupiah, mampu membangkitkan kenangan Isabel sebelum ia dipertemukan dengan sosok Erich.
Kerja dan rupiah. Mungkin hanya dua kalimat tersebut yang berada dalam fikiran mereka. Sama seperti dirinya beberapa bulan lalu. Bekerja keras untuk bisa bertahan hidup.
__ADS_1
Kedua perempuan itu membiarkan Isabel untuk berendam. Mereka keluar sejenak untuk sekedar memberi ruang pada penungguna jasanya untuk relaksasi.
Isabel tersenyum. Menatap punggung kedua perempuan yang baru saja menutup pintu kamar mandi. Aroma terapi bercampur wangi bunga segar seakan memanjakan indra penciumnya. Dirinya benar-benar merasa senang mendapatkan perawatan tubuh semacam ini.
Isabel mengadah. Menatap langit ruang kamar mandi. Ia masih mengingat kejadian beberapa jam lalu saat diminta Erich datang ke kediaman kekasihnya tersebut untuk menyambut kedatangan keluarga intinya.
Sandara.
Ada kesan berbeda saat Isabel bertemu Sandara untuk kali pertama. Tak seceria Emely, gadis yang menjadi kekasih Ernest itu terkesan begitu menjaga image saat bertemu kemudian menyapannya. Tak banyak bicara dan menjaga jarak. Ah entah itu hanya perasaannya atau memang begitulah sifat Sandara sebenarnya.
Isabel sendiri yang memiliki sifat ceria, tak ragu melempar candaan atau pun menggoda Emely yang rupanya memiliki sifat tak berbeda jauh darinya. Mereka cepat meakrabkan diri, berbicara ini dan itu. Terlihat cocok mengingat usia keduanya yang tak berbeda jauh.
Sandara justru hanya lebih banyak berinteraksi dengan Ernest. Bermanja atau pun bermanja yang terkadang tak paham tempat dan situasi. Arka kerap kali melempar tatapan tajam pada kedua sejoli tersebut, namun sayang mereka tak sadar dan terus melakukan hal yang sama hingga membuat Arka benar-benar jengah.
"Aku rasa gadis itu tak menyukaiku," gumam Isabel selepas mengingat kejadian beberapa jam lalu.
"Ah, mungkin karna kita baru pertama kali bertemu jadi kita masih ragu untuk menegur." Mungkin saja apa yang gadis itu fikir memang benar adanya. Dan selepas menikah nanti Isabel berjanji untuk lebih sering menemui Sandara untuk mengakrabkan diri.
πππππ
Malam kian merangkak. Di lantai dasar dan halaman luas kediaman Erich sebagaian orang dari pihak WO juga dibantu para pengawal masih tampak disibukkan dengan berbagai persiapan yang masih memiliki sisa waktu kurang dari dua puluh empat jam untuk merampungkan seluruh dekorasi sebagai tempat resepsi pernikahan nanti.
__ADS_1
Erich sebagai calon mempelai pria sudah berada di dalam kamar. Selepas mendapatkan wejangan dari kedua orang tuannya, Erich memutuskan untuk beristirahat lebih cepat. Meski sudah melakukan persiapan cukup matang dan belajar melafalkan ijab kabul berulang-ulang, namun sebagai manusia normal pada umumnya Erich tetaplah memiliki perasaan cemas dan berdebar saat menunggu momen sakral tersebut akan dilaluinya.
Erich menghela nafas dalam. Berulang kali memejamkan mata namun sayangnya tak jua terlelap.
Sial, belum apa-apa dadaku bahkan sudah berdebar.
Erich menyentuh dadanya yang berdebar. Rupanya hal tersebut juga menjadi pemicu kuat dirinya tak bisa tertidur. Pria itu berdecak. Ia pun bangkit dan menarik laci nakas di mana ponsel pribadinya tersimpan.
"Kau benar-benar ya." Setengah bergumam pria itu menggeram kesal. Menatap layar ponsel yang tak menandakan adanya panggilan atau pesan dari calon mempelainya, Isabel.
"Sekuat tenaga aku menjauhkan keinginan untuk menghubungimu lebih dulu, berharap agar kau menelfon lebih dulu kemudian bilang jika merindukanku. Tapi apa? Jangankan menelfon, mengirim pesan saja kau bahkan tidak!" Erich memaki pada ponsel di tangan yang sejatinya tak tau apa-apa.
"Cih, padahal aku selalu menunggu momen-momen seperti itu. Kau menelfonku, menanyakan di mana aku kemudian bilang jika merindukanku dan ini dan itu." Erich masih terus mengoceh panjang lebar hingga dikejutkan dengan getar ponsel yang masih berada di tangan.
Sepasang mata pria itu berbinar begitu layar benda pipihnya terbuka. Senyumnya terkembang sempurna saat mendapati sebuah pesan dari sang pujaan hati.
Sayang, bagaimana perasaanmu? Aku bahkan berdebar-debar sekaligus cemas menunggu hari esok tiba. Em beristirahatlah lebih awal, supaya kau terlihat segar dan lebih tampan saat mengucap ijab kabul nanti. Good night Baby, good sweet dreams. Aku mencintaimu. Tidurlah, jangan balas pesanku.
Erich nyaris pingsan. Ini untuk kali pertama Isabel mengirim pesan semanis ini padanya. Pria itu bahkan ingin berlari menghadap penghulu dan membawa beberapa saksi untuk melakukan ijab kabul saat ini juga. Sungguh dirinya sudah tak sabar. Hanya membayangkan wajah Isabel saja sudah membuatnya ingin menerkam.
Tbc.
__ADS_1
Sabar-sabar belanda masih jauh Erich. Ora usah kesusuπ