
Mentari pagi datang menyambut hari. Tak berbeda aktifitasnya dari hari semalam, Rangga kembali melakukan pertemuan dengan Arka, di mana beberapa produk milik sang sahabat yang dipasarkan menjadi sponsor pada event yang ia gelar di Agensi modelnya beberapa hari mendatang.
Rangga sudah bersiap dengan stelan jas berwarna abu yang membalut tubuh tinggi tegapnya. Penampilan pria berusia kepala lima itu terlihat pariurna seperti biasa. Rapi dan berwibawa yang membuatnya tetap terlihat awet muda.
Ponsel pribadinya yang tergeletak di nakas, berkedip menandakan adanya notifikasi yang masuk. Ketika memeriksa, bibir pria itu berdecak dengan bibir mengkerut.
"Hei, kenapa kau justru meminta diwakili oleh putramu," gerutu Rangga selepas membaca selarik pesan dari Arka yang masuk ke ponselnya. Sang sahabat berhalangan datang dan diwakilkan oleh Ernest untuk memproses hasil akhir atau memutuskan sebuah kesepakatan kerja yang terjalin sesuai dari pembicaraan sebelumnya.
Bagi Rangga memang tak masalah namun sepertinya akan lebih mudah lagi jika Arka dan dirinyalah yang merundingkan hingga tahap akhir.
"Tak apalah, toh putra-putra Arka juga sudah dewasa dan sudah mengerti tentang dunia bisnis," monolog Arka seraya kembali merapikan penampilannya di depan cermin.
Mungkin dirinya harus mengunjungi gedung Atmadja group untuk menemui Ernest dan setelahnya akan membawa pria muda itu makan siang di sebuah kafe.
"Ide yang bagus." Rangga merapikan dasi sebagai sentuhan akhir. "Sempurna, kau tetap terlihat tampan seperti tiga puluh tahun yang lalu, Rangga," puji Rangga pada dirinya sendiri. Pria itu tersenyum tipis, dan menggelengkan kepalanya sendiri. Setidaknya inilah cara remeh Rangga untuk menghibur dirinya sendiri dari rasa sepi. Selepas memastikan penampilannya sudah sempurna, pria berjambang itu lekas mengayunkan kaki, melangkah menuju sebuah tempat yang ingin ia datangi.
💗💗💗💗💗
Beberapa penjaga keaman dan staf perusahan Atmadja group sontak menundukan kepala ketika berpapasan dengan Rangga yang baru saja memasuki lobi bangunan pencakar langit tersebut. Rangga pun yang terbiasa ramah, membalas anggukkan para staf dan sesekali balas menyapa.
Ketika memasuki gedung Atmadja group, Rangga seperti berada di perusahaan miliknya sendiri. Merasa di hargai dan perlakukan dengan baik layaknya atasan.
Bagi seluruh staf, siapa yang tak menggenal Rangga. Seorang pria berstatus lajang yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan pemilik perusahaan. Selain menjadi sahabat, Rangga pun menjadi parter bisnis yang membuat pria tersebut kian disegani, bukan hanya para karyawan tetapi para petinggi perusahaan.
Rangga lekas menaiki lift yang akan membawanya ke lantai ruangan Ernest. Tak ada kendala apa pun, hingga beberapa menit berikutnya dirinya sudah berada di tempat tersebut di mana ada seorang gadis yang merupakan Sekretaris Ernest sedang berkutat dengan pekerjaan.
"Selamat pagi."
__ADS_1
Saapaan Rangga membuat pandangan gadis yang semula terfokus pada layar laptop, lekas menoleh.
"Selamat pagi, Tuan," jawab sang gadis yang spontan bangkit dari posisinya dan sigap menundukan kepala pada sang lawan bicara. "Dengan Tuan Rangga Wiratama?." Natasya bertanya. Menurut agenda, Tuannya akan melangsungkan pertemuan dengan seorang pria bernama Rangga Wiratama.
"Ya, Benar." Rangga menjawab dan tersenyum pada gadis yang rupanya pernah ia temui beberapa hari lalu. Senyum di bibir sang pria pun perlahan meredup, ketika dipertemukan kembali dengan seseorang gadis yang mirip dengan seseorang di masa lalu kehidupannya.
"Tunggu sebentar." Natasya lekas mengetuk pintu ruangan Ernest, begitu terdengar suara balasan dari dalam, Natasya pun mendorong pintu tersebut sampai terbuka. Demi apa pun, Rangga merutuki ketidak datangan Arka sampai membawanya untuk bertemu dengan gadis mirip Anastasya itu lagi.
💗💗💗💗💗
Rangga berulang kali mengusap wajahnya secara kasar begitu menyadari jika sepanjang proses pembicaraan dengan Ernest, fikirannya justru tertuju pada Natasya dan bukan pada pembahasan kerja. Ya Tuhan. Rangga terus merutuki diri dalam hati, terlebih semakin ia pandang kenapa wajah sang gadis semakin mirip dengan Anastasya.
"Paman, paman baik-baik saja?."
Teguran Ernest membuat Rangga terkesiap. Ia tersadar jika sama sekali tak fokus pada pembicaraan.
Rangga menggulum senyum. Sebagai seorang pria dirinya pasti mengerti tentang istilah 'pendekatan'. Memang tidak terlihat jika dipandang sekilas, namun jika lebih saksama kita melihat, pastinya dengan mudah dapat terbaca.
Tatapan mata dan tutur kata yang terdengar lembut. Serta sikap ingin melindungi yang sesekali terlihat, Rangga yakin jika semua yang terjadi bukanlah suatu kebetulan melainkan terstruktur.
Selesai pembicaraan hingga menciptakan sebuah mufakat, mereka pun menikmati makan siang. Ernest tiba-tiba pamit untuk ke toilet, hingga di meja menyisakan Natasya dan juga Rangga. Dan disinilah Rangga seperti mengingat kejadian bertahun lalu, saat dirinya makan siang dengan Anastasya.
Kini pandangan Rangga terfokus pada beberapa hidangan yang dipesan Natasya. Rupanya gadis berkulit putih itu lebih menyukai masakan lokal dari pada menu western yang ia dan Ernest pesan.
"Siapa Namamu?." Rangga memulai pembicaraan, meski sesungguhnya ia tau siapa nama gadis di hadapannya ini.
"Natasya, Tuan."
__ADS_1
"Kau lebih suka makan lokal?." Ah, Rangga kembali memancing tanya.
"Benar, Tuan. Dibanding menu luar saya lebih menyukai masakan lokal. Sedari lahir saya sudah terbiasa dengan masakan luar dan begitu mencicipi masakan lokal, saya seperti ketagihan untuk memakannya setiap hari."
"Wah, kau keturunan asing?." Rangga seperyi terkejut, pasalnya jika dari paras, gadis itu seperti tak terlihat seperti memiliki garis keturunan campuran.
Natasya pun menggeleng.
"Bukan, Tuan. Hanya saja saya lahir dan dibesarkan di Negara orang, dan belum setahun ini kembali menetap di Tanah air."
Wah, terdengar begitu menarik di mata Rangga. Saat berbicara pun Rangga merasakan sebuah kenyamanan. Sebuah rasa yang dulu kerap ia rasakan ketika bersama Anastasya.
Pembicaraan keduanya terlihat semakin asik saja. Jika Natasya masih memakai bahasa formal, namun tidak dengan Rangga yang sesekali tertawa dan menanggalkan predikatnya sebagai pengusaha kelas atas ketika berbicara dengan gadis muda yang suka menjadi Sekretaris dari rekan bisnisnya.
"Wah, aku lihat kau seperti menyukai alpukat kocok?."
Saat Natasya meneguk minuman yang ia pesan, Rangga seperti kembali mengintrogasi. Gadis itu tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Benar, Tuan. Saya dan Ibu memang sangat menyukai alpukat kocok." Natasya mengaduk-aduk isi gelas dengan sedotan dan kemudian meminumnya.
"Kau dan Ibumu?."
Lagi, Natasya mengangguki pertanyaan Rangga.
"Ya, Tuan. Saya dan Ibu Anastasya memang menyukainya. Kami cocok, sama-sama menyukai alpukat kocok." Selepas berucap, Natasya tergelak. Namun berbeda halnya dengan Rangga. Seperti tersengat listrik bertegangan tinggi, Tubuh Rangga tersentak selepas kata Anastasya tanpa diduga keluar dari bibir gadis yang ia sebut-sebut menduplikat wajah Anastasya. Rangga terdiam. Dunia seakan terhenti berputar. Mungkinkah ia salah dengar, atau Anastasya yang gadis itu maksud bukanlah Anastasnya?.
Tbc
__ADS_1