
Ada sisi menarik dari terbukanya kehidupan masa lalu seorang Arkana Surya Atmadja yang sepertinya ingin ditelisik secara mendalam oleh putranya sendiri. Jika untuk terus mengorek informasi dari sang Ibu, rasanya tidak mungkin sebab dari perempuan itu sendiri sepertinya justru ingin menutupi.
Ernest akui jika paras sang Ayah memanglah rupawan, belum lagi ditunjang dengan tubuh tegap nan kekar yang pastinya membuat lawan jenis menaruh hati.
Pria muda itu berdecak. Jika dibanding sang Ayah tentu dirinya kalah dari segi mana pun. Paras, penampilan, dan tentunya kharisma. Ernest mengulum senyum, tiba-tiba dia membayangkan seperti apa mimik wajah sang Ayah ketika mengungkap perasaan pada Ibunya saat muda dulu.
Tiba-tiba Ernest tertawa geli hanya dengan membayangkan wajah sang Ayah yang memang masih tampan meski sudah termakan usia.
"Giila kau Ernest, kenapa mendadak jadi membayangkan masa muda orang tuamu?." Ernest bermonolog. Di ruang kerja yang seharusnya digunakan untuk bekerja, dirinya justru membayangkan hal-hal semu yang mungkin saja tidak dialami kedua orang tuanya saat muda dulu.
Kini hubungannya dengan Natasya pun tak seformal dulu selayaknya atasan dan bawahan setelah mengetahui jika orang tua mereka pernah memiliki hubungan di masa lalu. Sikap Ernest yang dulu sempat berubah dingin dan semau sendiri pasca berpisah dari Sandara, kini berangsur pulih. Ia mulai hangat dan bersahabat seperti sedia kala.
Ernest memang tak menyadari, namun orang-orang terdekat seperti Zara dan Emely tentu bisa merasakannya.
"Paman Rangga, ya Paman Rangga. Aku rasa beliaulah yang bisa membantuku." Ernest rupanya masih berfikir untuk mengulik masa lalu orang tuannya, dan ia mengingat nama Rangga.
Bibirnya mengukir senyum. Otaknya bekerja keras untuk menyusun rencana agar dapat bertemu dengan Rangga secepatnya.
"Aku hubungi saja Paman." Jemari pria muda itu bergerak menyentuh benda pipih berlogo apel tergigit di atas meja. Ia usap layar dan menggulir beberapa nomor kontak dan memilih satu diantaranya yang menurutnya tepat.
Waw, panggilan tersambung.
Ernest menarik nafas dalam. Selepas suara dari seberang terdengar ia pun membalas dengan ucapan salam.
💗💗💗💗💗
"Wow..."
Ernest menatap takjub segala interior di dalam kediaman pribadi Rangga, meski ini bukan untuk pertama kalinya bagi pria muda tersebut menjejakkan kaki ke dalam bangunan megah ini.
__ADS_1
Entah kapan terakhir kali Ernest datang berkunjung namun satu yang pasti jika itu sudah lama sekali terjadi. Hubungan kedua orang tuanya dengan Rangga memang sangat dekat. Akan tetapi mereka tak kerap datang kemari, dan justru sebaliknya. Rangga lah yang kerap berkunjung ke kediaman Arka. Entah itu hanya kunjungan biasa atau sekedar melepas rindu pada putra putri sahabatnya tersebut.
Ruman Rangga tergolong simpel. Tak ada interior atau pun perabotan yang berlebih. Semua terlihat pas dan memukau.
Mengingat Rangga yang hanya tinggal sendiri, barang-barang khusus wanita sama sekali tak terlihat di area ruang tamu dan beberapa ruang lain.
Berjalan cukup jauh melewati banyak ruangan namun Ernest belum menemukan sang Paman.
"Tuan, Tuan Rangga kini sedang berada di ruang khusus berolahraga." Seorang pelayan pria memberitahukan pada Ernest sekaligus mengantarnya sampai ke depan pintu ruangan.
"Terimakasih, kau bisa kembali."
"Baik, Tuan."
Selepas kepergian sang pelayan Ernest berusaha untuk mengetuk pintu yang tertutup rapat.
Tubuh Rangga yang berbalut celana selutut dan atasan tanpa lengan tampak banjir keringat. Sepertinya bujang lapuk tersebut sedang berolahraga. Keduanya pun mengurai pelukan setelah beberapa saat.
"Maaf jika kedatanganku mengganggu aktifitas Paman"
Rangga berdecak. Ia memukul pelan bahu Ernest.
"Kau ini apa-apan. Aku justru sangat senang kau mau datang. Apa kau masih ingat kapan terakhir kali mengunjungi rumah Pamanmu ini?."
Ernest tersenyum tipis. Ia bahkan sudah lupa.
"Tentu saja kau lupa. Sepertinya kau masih sekolah dasar saat terakhir datang kemari." Rangga akui jika itu bukan kesalahan putra putri Arka, hanya saat itu hidupnya yang nyaris tanpa tujuan membuatnya melang-lang buana kesana kemari dan seperti enggan menempati rumah sendiri.
Rangga jarang sekali berada di kediamannya dan itulah salah satu alasan yang membuat putra dan putri sang sahabat sangat jarang mengunjungi.
__ADS_1
"Ayo, kita bicara di dapur saja tapi sepertinya paman harus membersihkan tubuh lebih dulu." Rangga mengendus aroma tubuhnya yang menyengat selepas berolah raga. Pria itu pun memimpin langkah menuju meja makan yang berdampingan dengan dapur, dan hanya mini bar digunakan sebagai penyekat.
"Ayo duduklah. Kau bisa memangil pelayan atau ingin memasak sendiri untuk mengisi perut." Rangga memperlakukan Ernest seperti putranya. Memintanya duduk namun juga menjelaskan penempatan bahan makanan serta buah-buahan di dalam rak dan lemari pendingin.
Rangga tinggal bersama para pengawal dan beberapa pelayan. Sedangkan Ibunya memilih tinggal di negara lain. Entahlah, semenjak kandasnya hubungan dengan Anastasya membuat Rangga tak lagi dekat dengan Ibunya. Sedangkan Sofyan, pria itu sudah berpulang bertahun-tahun lalu.
Sepeninggal Rangga, Ernest justru tertarik untuk membuat makanan sendiri tanpa bantuan pelayan. Ia mengikat rambutnya asal dan mulai mencari buah-buahan yang rencananya akan ia buat menjadi salad di lemari pendingin.
Beberapa apel pria itu keluarkan dan meletakkannya ke beberapa wadah. Wuh, bersikap seperti seorang koki profesional, Ernest mulai memotong buah dan terkadang memasukkannya ke dalam mulut.
Ernest juga mengambil beberaps buah lain seperti kiwi yang akan ia ikut sertakan dalam menu buah-buahan yang akan ia buat. Meski sesungguhnya pria muda itu tak pandai memasak, tapi ketahuilah jika Ernest pun sebenarnya gemar terjun ke dapur untuk memasak sesuatu yang diinginkan.
"Ernest, apa yang kau lakukan?." Rangga yang kini sudah kembali dengan tubuh yang segar dan pakaian berbeda, menatap pada putra sahabatnya yang sedang sibuk memotong buah-buahan di meja dapur.
Ernest tersenyum tipis.
"Aku lihat dikulkas ada bermacam buah dan aku berinisiatif membuat salad untuk kita, Paman."
"Wow." Rangga menatap takjub pada Ernest. Pria itu pun kembali duduk di kursi meja makan dan menatap Ernest dari kejauhan. Tak sadar, Rangga termenung memikirkan tentang buah hatinya dengan Anastasya dulu yang meninggal selepas beberapa jam dilahirkan.
Perasaan bersalah kembali muncul. Andai saat itu dia punya kuasa untuk melawan orang tua, tentu putranya dulu masih hidup dan pasti seusia dengan Erich dan Ernest.
Kesalahanku memang teramat besar, aku sadar. Selama ini aku pun berusaha untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu dengan cara ku sendiri.
Rangga masih sibuk menatap Ernest yang berkutat dengan buah-buahan serta beberapa bahan pendamping. Pria itu tersenyum lebar dan bertepuk tangan saat dua cup salad buah berhasil Ernest sajikan.
Tbc.
__ADS_1