
Sesuai keingin, pada akhir pekan ini Erich memboyong sang istri untuk terbang ke ibu kota menyambangi kedua orang tuanya dan keluarga besar Atmadja. Suka cita selalu menyelimuti sepasang suami istri yang masih hangat-hangatnya merajut kasih tersebut.
Tak ingin mengunakan jet pribadi sebagai alat transportisi, pasangan baru itu justru antusias mengantre tiket pesawat dan berbaur dan berdesakan dengan penumpang lainnya bahkan tanpa mereka tak mengunakan pengawalan barang seorang pun.
Keduanya begitu menikmati, meski mereka pun harus menggunakan masker guna menutupi sebagian wajah. Setidaknya Erich dan Isabel harus tetap hati-hati. Mengingat segala bentuk kejahatan yang pernah mereka alami tempo hari, nyatanya masih menyimpan trauma yang tak kan hilang dengan mudahnya.
Saat pesawat mengudara, Erich menunjuk gumpalan awan putih dengan berbagai bentuk lucu pada Isabel. Gadis itu pun menanggapinya dengan antusias, lewat kaca sepasang suami istri itu saling menunjuk ke arah panorama yang begitu memanjakan mata.
"Kalau boleh jujur, ini untuk pertama kalinya aku menaiki pesawat seperti ini." Erich mengusap rambut Isabel yang tengah bersandar di dada bidangnya.
"Aku tau," jawab Isabel yang sontak mendongak, menatap wajah tampan sang suami dengan jarak begitu dekat. "Segala kemewahan yang keluarga kakak miliki, tentu membuat kakak tidak perlu repot-repot berdesakan dengan penumpang lain seperti ini."
Erich tergelak. Sebenarnya bukan hal tersebutlah yang menjadi alasan utama.
"Kau ini asal bicara, ya." Erich menjawil dagu lancip sang istri. Sering kali gemas jika sang istri memiliki pemikiran sendiri tentang keluarganya.
"Memang seperti apa? Bukankah jawabanku benar? Sementara aku, meski dulu Ayah seorang pengusaha sukses, tapi Ayah tidak sekaya itu. Nyatanya kami tidak memiliki jet pribadi."
Erich kembali tergelak. Gemas. Gemas hingga spontan mencubit puncak hidung mancung sang istri hingga membekas.
"Keamananlah yang menjadi alasan utama kami. Ayah yang merupakan pebisnis sukses diusianya yang masih muda, kerap memiliki rekan bahkan saingan dalam dunia bisnis. Segala pencapaian Ayah terkadang membuat iri beberapa pihak, hingga tak sedikit dari mereka yang mencoba beberapa hal licik untuk bisa menghancurkan karir Ayah." Jawaban Erich sontak membuat Isabel terdiam. Ah kenapa tidak sampai terfikir olehnya.
"Maaf."
"Untuk?"
"Praduga asalku," jawab Isabel tertunduk.
Erich tersenyum seraya mendekap erat tubuh sang istri.
"No problem, pradugamu juga dapat dibenarkan. Toh kami juga punya jet pribadi, jadi untuk apa dibiarkan menganggur." Erivh sempat tergelak selepas merampungkan ucapan. Hatinya serasa tergelitik. Ia seperti sedang menyombongkan diri di hadapan seseorang yang ia cintai.
Isabel mencebik seraya bergumam, "Sombong."
"Bukankah sekali sekali perlu bagi seseorang untuk menyombongkan diri. Lagi pula aku memang kaya, tampan, baik hati pula."
__ADS_1
Spontan Isabel memukul paha Erich hingga pria itu meng--aduh.
"Dan lebih beruntung lagi karna kau sudah memiliki istri secantik dan seimut aku, bukankah begitu Tuan Erich?".
Erich seolah terjebak dengan ucapannya sendiri. Bukannya mengoda, ia justru digoda oleh istrinya yang sayangnya semakin membuat Erich gemas untuk tidak menerkamnya.
Awas saja jika sampai rumah, Isabel. Aku tidak akan mengampunimu.
💗💗💗💗💗
Begitu memasuki gerbang utama kediaman Arka Surya Atmadja, pasangan pengantin baru itu sudah disambut dengan sedemikian rupa. Para pengawal dan pelayan menundukan kepala. Sementara Arka, Zara dan Emely langsung membawa kedua insan itu untuk memasuki rumah dan menikmati hidangan spesial yang sengaja dipersiapkan.
"Ibu senang kalian datang," ucap Zara yang tak henti mengulas senyum di bibir. Hati Zara dipenuhi kebahagiaan. Saat dikumpulkan kembali dengan anak-anaknya.
Arka dan Emely pun demikian. Di meja makan mereka menikmati kudapan dan saling bertukar kabar. Isabel sendiri sudah merasa nyaman saat disambut dengan sangat baik oleh keluarga suami yang juga sudah menjadi keluarganya. Sebagai gadis yang sempat dilakukan semena-mena oleh ibu dan saudara tirinya, tak ayal membuat Isabel terharu juga merasakan kebahagiaan tak terkira saat dirinya bisa diterima dengan begitu mudahnya.
Emely tak henti bertanya ini dan itu pada sepasang pengantin baru itu, hingga mendapatkan teguran langsung dari Arka.
"Emely, jangan terlalu banyak bertanya. Biarkan mereka istirahat lebih dulu. Ayah yakin jika kakak-kakakmu pasti lelah selepas melalui perjalanan panjang."
"Yah." Emely mendesah kalah. Bibirnya sedikit mengerucut. Tak rela menghentikan obrolannya dengan Isabel yang sedang asik-asiknya.
"Ya sudah. Ayo, Erik. Bawa Istrimu beristirahat di kamar. Kalian berdua pasti lelah." Zara menengahi. Erich pun mengangkat dua jempol dan menarik lembut tangan Isabel untuk mengikuti langkahnya.
"Ibu, adik Emely, aku pamit." Zara tersenyum kikuk. Lebih kikuk lagi saat Erich tanpa tau menarik tangannya untuk menjajari langkah suaminya menapaki anak tangga menuju ke arah kamarnya.
Duh malunya.
💗💗💗💗💗
Emely memutar kemudi seraya menggerutu. Bibirnya mengomel dengan pandangan tak hanya terfokus kedepan tapi juga ke sisi kiri dan kanan.
"Huh, kalau bukan untuk kakak ipar, tentu aku tak mau mengikuti perintahnya," gumam Emely yang merasa dikerjai oleh Erich.
Siang hari dengan teriknya mentari yang tepat di atas kepala, Erich memintanya untuk membelikan sebuket bunga yang katanya akan diberikan untuk Isabel.
__ADS_1
"Karna kau perempuan, jadi aku yakin jika apa pun bunga yang kau suka, pasti Isabel pun akan menyukainya."
"Huh." Emely bahkan ingin mencubit telinga sang kakak saat pria itu memberinya perintah. Akan tetapi, ia juga takut kualat andai kata berani menolak.
"Aku bahkan tidak pernah membeli bunga sebelumnya, jadi mana tau bunga seperti apa yang disukai Kakak ipar." Emely dibuat pusing tujuh keliling. Ia mengarahkan kuda besinya tak tentu arah. Mungkin dengan mencari toko bunga paling besar dan terlengkap dapat mempermudah pekerjaannya.
Gadis berpakaian santai itu menepikan kuda besinya di area kosong. Ia membuka laci di mana ponsel pribadinya tersimpan.
Otak atik, berniat meminta bantuan kebeberapa teman yang cukup faham dengan dunia perbungaan. Tapi yang pasti bukan bunga Bank.
"Halo." Suara cempreng di seberang membuat Emely meringis dan menjauhkan ponsel dari telinga.
Gila ya, tidak perlu teriak. Aku sudah dengar.
Meski setengah hati Emely tetap menghaturkan keinginannya untuk mencari tau tempat toko bunga terlengkap.
"Ya Tuhan, Emely. Kau bahkan bisa mencari tau lewat ponsel pintarmu. Jika otakmu kurang pintar, maka bisa ditambal sulam dengan ponsel apel tergigitmu itu."
Tut.
Emely sontak memutuskan panggilan secara sepihak. Tak menyangka jika si cempreng akan mengatainya kurang pintar alias bod*h.
"Ya, cempreng memang benar, aku juga harus mencarinya di peta ponsel pintarku." Emely mulai mengotak atik ponselnya kembali.
"Katakan peta, katakan peta."
Emely memfokuskan pandangan pada layar ponsel. Lewat salah satu aplikasi dirinya mulai mengikuti arah, di mana toko bunga cukup lengkap di ibu kota berada.
Lima menit, sepuluh menit, hingga dua puluh lima menit berlalu, Emely menghentikan laju kendaraan. Ia menajamkan penglihatan yang mengarah pada ruko dua lantai dengan nama toko yang tertera di bagian depannya.
"Natasya flowers," gumam Emely selepas membaca nama toko bunga di hadapannya kemudian memastikan lagi lewat ponsel pintarnya.
"Tidak salah lagi, ini dia tempatnya. Let's go, aku datang Kakak ipar." Emely berlari menuju halaman toko sampai meninggalkan mobilnya di pinggir trotoar.
Tbc.
__ADS_1