
Gelak tawa terdengar dari sebuah kamar di mana ada sepasang suami istri yang berbaring di atas ranjang dengan tangan saling menggengam.
"Memangnya Rangga berbicara seperti itu?." Perempuan yang sedang berbaring, berbantalkan tangan sang suami itu, bertanya. Mendongak, menatap pada sang suami dengan pandangan penuh tanya.
"Ya, dia memang berbicara seperti itu." Sang pria itu masih tergelak. "Arka, apa kau berniat untuk merujuk Anastasya?'." Pria bernama Arkana itu sedang mereka ulang pembicaraannya dengan Rangga beberapa waktu lalu. "Aku rasa dia sudah salah paman karna sudah mengundang Anastasya datang ke mari."
Zara, istri dari Arka itu tersenyum tipis. Mendengar penuturan sang suami tentang ucapan Rangga, jujur sudut hati terdalam dirinya ikut berdesir.
"Sayang," panggil Zara dengan suara lirih. Perempuan itu mengusap lembut rahang kokoh sang suami yang ditumpuhi jambang tipis.
"Ya, ada apa?." Pria bermata tajam itu menangkap dan menggengam tangan sang istri yang berkeliaran di atas permukaan kulitnya, lantas menciuminya dengan penuh perasaan.
"Apa dalam hati terdalammu pernah terfikirkan, jika ingin merujuk Kak Anastasya?." Ketika Zara menangkap reaksi keterkejutan dari wajah sang suami, Zara lekas meminta maaf. "Maaf, aku tidak bermaksud bertanya seperti itu, hanya saja...."
"Hanya saja apa," Arka menjawab cepat. "Apa selama ini kau masih meragukan perasaanku?. Bukankah sudah berulang kali kutegaska, cintaku hanya kepada, Zara." Arka menegaskan yang sontak membuat wajah sang istri tertunduk dalam. Zara menyesali akan pertanyaan yang ia lemparkan pada sang suami, hanya karna rasa cemas yang ia timbulkan sendiri.
"Maaf," jawab Zara sekali lagi.
Terdengar helaan nafas dalam dari Arka. Pria bertubuh tegap itu langsung merengkuh tubuh sang istri dalam dekapan.
"Tak apa, tetapi setelah ini berjanjilan untuk tidak mempertanyakan tentang perkataan tak masuk akal itu lagi. Kau dan anak-anak kita adalah sumber kebahagianku. Kalian adalah hidupku. Tak ada yang lain. Entah itu orang-orang dari masa laluku yang datang, meski itu mantan istriku sekalipun, hatiku tetap pada kalian. Jadi, jangan pernah berfikir jika sebagian hatiku masih tersisa pada Anastasya, itu tidak akan pernah terjadi, Zara."
Zara mengangguk. Ya, dirinya memang boodoh. Untuk apa menanyakan sesuatu yang seharusnya tak perlu dipertanyakan.
__ADS_1
"Jadi jangan pernah berfikir macam-macam tentangku dan juga Anastasya. Kita hanya masa lalu yang tak akan pernah jadi masa depan." Arka kembali mempertegas. Ya, Anastasya memang masa lalu. Tak ada lagi yang tersisa darinya untuk sang mantan istri. Sekarang bukanlah lagi membahas tentang hidup mereka, tetapi ke anak-anak mereka.
"Ya, aku percaya padamu, sayang. Maaf karna sempat meragukan perasaanmu padaku."
Arka menganggukkan kepala. Pria itu tersenyum tipis. Duh, terlihat begitu manis dipandangan sang istri.
"Sayang," panggil Zara ketika mengingat akan satu hal.
"Heem," jawab Arka yang kini sibuk menciumi pipi sang istri.
"Aku rasa, bagaimana jika kita mendekatkan Rangga dan Kak Anastasya saja."
"Maksudmu." Arka masih menciumi pipi, bahkan kini turun ke area leher dan bahu yang pakaiannya sudah disingkap.
"Maksudku, Kak Anastasya kan janda dan Rangga masih melajang, bagaimana jika kita persatukan saja mereka." Zara tergelak sekaligus dibuat merinding dengan tingkah sang suami yang gemar cium-cium tubuhnya disana sini.
"Aku setuju saja, tapi aku sendiri masih tak yakin andai Anastasya mau menerima selepas rentetan kejadian di masa lalu pada Rangga. Kau sendiri kan tau, beberapa tahun lalu setelah Rangga kembali, dirinya pernah meminta Anastasya untuk kembali, tapi Anastasya menolaknya 'kan?."
Zara mengangguk. Ah, Ya. Kejadian itu, Zara pun mengingatnya. Pada saat itu kondisinya sedang berbadan dua dan sempat pergi dari rumah sampai Arka kelabakan mencarinya. Dan pada saat situasi itulah Rangga seperti menjadi tameng untuk Anastasya dan selalu mendampingi dimana pun perempuan itu berada.
"Tapi itu kan dulu. Siapa tau saat ini Kak Anastasya sudah berubah fikiran?." Masih dalam pelukan sang suami, Zara seperti kembali diingatkan tentang kehidupan Anastasya di masa lalu. Memang tak melihat langsung, tetapi Ibu mertua menceritakan semua tentang mantan istri suaminya itu kepadanya. Kehidupan mengenaskan dan perih di kampung, baik ia dan Anastasya pun sama-sama merasakan. Mereka sama-sama lahir dan dibesarkan di kampung dengan kehidupan perekonomian keluarga yang bisa dikatakan pas-pasan bahkan kekurangan.
Arka masih diam.
__ADS_1
"Sayang, aku bisa melihat besarnya rasa cinta dari tatapan Rangga pada Kak Anastasya." Gerak gerik Rangga saat makan malam tak luput dari perhatian Zara. Rangga yang antusias dan tak bisa menutupi rasa bahagianya ketika bertemu cinta masa lalunya, seperti sedang berupaya keras untuk dapat mencuri perhatian dari perempuan yang ia incar. Ya, meski disadari jika usia keduanya tak dapat dikatakan muda lagi.
"Entahlah." Arka menanggapi seadanya sebab dirinya pun tak terlalu memperhatikan Rangga atau pun Anastasya.
"Sayang, apakah mungkin jika tuhan memang menakdirkan mereka untuk bersama?."
Arka menghela nafas dalam kemudian menggelengkan kepala.
"Entahlah. Kita sendiri tak tau tentang garis yang sudah ditakdirkan." Jika Anastasya sudah pernah menikah dan punya anak setelah berpisah darinya, lalu bagaimana dengan Rangga?. Arka kembali memghela nafas dalam. Rangga bahkan sama sekali belum menikah diusianya sudah menginjak setengah abad. Benarkah jika selama ini hati sang sahabat hanya tertampat pada seorang wanita dan itu adalah Anastasya?.
"Aku sendiri tak tau sedalam apa perasaan Ramgga pada Anastasya. Akan tetapi sampai detik ini pun dia sama sekali tak memikirkan tentang pernikahan, dan saat kita diam-diam mengundang Anastasya tanpa memberitahunya, dia marah besar seperti sedang mencemburuiku." Arka seperti sedang menghubungkan peristiwa yang terjadi. "Mungkinkah jika Rangga masih menginginkan Anastasya?."
Zara berdecak.
"Memang itu yang aku maksud sedari tadi. Jika telisik lebih dalam, Rangga sepertinya ingin mendekati Kak Anastasya, tetapi Kak Anastasya terlihat menghindar. Entah karena apa, tapi aku menebak salah satu alasanya adalah Natasya. Putrinya sudah besar dan mungkin merasa tidak nyaman diperlakukan demikian oleh seorang pria, di hadapan putrinya."
Mungkinkah?.
"Tapi aku rasa putri dari Anastasya itu gadis yang baik?."
"Ya, aku tau. Natasya itu anak baik, tetapi sebagai seorang Ibu tunggal, pasti Kak Ana juga ingin menjaga perasaan putrinya." Pada malam itu, Arka pun melihat raut keterkejutan dari Natasya saat Rangga memilih duduk di samping sang Ibu serta menawarkan ini itu dengan suara nan lembut. Natasya yang tak tau menahu perihal masa lalu sang Ibu dengan Rangga, tentu menatap penuh tanya sebab mengira kedua insan tersebut belum saling kenal.
"Entahlah, jika dulu saat sama-sama lajang mungkin akan lebih mudah mempersatukan, tapi sekarang, Anastasya sudah memeliki buntut yang tak bisa diabaikan keberadaannya."
__ADS_1
Zara membenarkan. Bagaimana pun saat ini bukan hanya ada dua jiwa yang ingin ia satukan. Masih ada satu jiwa lagi yang sepertinya akan sulit untuk diberi pemahaman.
Tbc.