CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Keinginan Zara


__ADS_3

Kejadian beberapa hari lalu rupanya masih seperti mimpi bagi seorang Rangga. Bukan hanya bertemu tapi ia juga bisa berbicara dengan kekasihnya di masa lalu, Anastasya. Disaat siang ia tak bisa berfikir tenang, sedangkan malam ia tak mampu tertidur lelap. Fikirannya justru hanya tertuju pada Anastasya.


Memang saat bertemu kala itu, keduanya tak banyak bicara. Rangga yang rikuh dan Anastasya yang seakan menghindar, menjadi penghalang bagi mereka untuk berbicara secara leluasa.


Rangga sadar, kesalahannya di masa lalu mungkin saja membuat Anastasya sudah terlanjur membenci dirinya. Jadi wajar, jika perempuan tersebut terkesan abai ketika kembali bertemu.


"Tapi setidaknya dia masih mau bertemu denganku. Itu saja sudah lebih dari cukup."


Rangga kembali menjalani hari-harinya. Seperti biasa, namun dengan separuh hati sebab separuh hatinya sudah tertuju pada Anastasya.


Sementara Anastasya, selepas pertemuanya dengan Rangga setelah sekian tahun, perempuan yang masih terlihat amat cantik diusianya yang tak lagi muda itu seperti tak tenang. Dalam seumur hidup, ia tak pernah menyangka jika bisa kembali bertemu dengan Rangga. Jangankan dialam nyata, alam mimpi pun tak pernah terlintas, dan apa yang terjadi sungguh membuatnya syok dan cemas.


Rangga sudah tau toko bunga miliknya, apakah setelah kedatangannya saat itu, sang pria akan kembali datang?.


Anastasya tergelak dalam hati.

__ADS_1


Percaya diri sekali kau, Anastasya. Memang siapa dirimu bagi seorang Rangga. Dua puluh tahun lebih berpisah, apa kau fikir pria itu tak memiliki keluarga.


Bagi Anastasya, meski saat ini dirinya menyandang status janda, namun dari lubuk hati terdalam dirinya enggan untuk kembali membangun biduk rumah tangga. Beberapa pria pernah mendekat, akan tetapi perempuan itu dengan ramah menolak. Meski sudah tiada, nyatanya cinta Kenan masih begitu terpatri dalan dirinya dan tak mudah untuk dirinya lupakan. Kenan memang sudah tiada namun cintanya tetap bersemi di hati Anastasya.


Lagi pula dirinya sudah memiliki seorang putri yang sudah pantas berumah tangga. Baginya kebahagiaan Natasya adalah segalanya. Ia ingin terus mencukupi kebutuhan sang putri, memberinya kasih sayang dan mengantarnya sampai menuju pelaminan.


Walau dengan membayangkan saja sudah membuat Anastasya menangis. Di saat sang putri sudah besar dan bersiap mencari kebahagiaannya sendiri, Kenan justru lebih dulu pergi. Lalu dengan siapa dirinya di masa tua nanti?.


"Untuk apa kau fikirkan hal semacam itu saat ini, Anastasya." Anastasya bermonolog. Saat berada di kamar dan hanya seorang diri, fikirannya justru melang-lang buana. Entah kemana dan tak jarang justru terfikir yang tidak-tidak.


Selepas mengetahui jika Natasya adalah putri dari Anastasya, Zara selalu berfikir dan membuat cara untuk bisa dekat dengan gadis tersebut. Memang pada awalnya terasa aneh, terlebih ia juga menangkap pandangan penuh tanya dari sang gadis ketika ia dekati. Sementara Zara sendiri bersikap abai. Memang tak ada maksud lain dari sikapnya, akan tetapi begitu melihat Natasya, kejadian bertahun lalu bersama Anastasya selalu memenuhi benak. Terlebih Natasya adalah bawahan dari putranya.


Kejadian di pemakaman saat keduanya pertama kali bertemu, seakan membuka kembali luka lama Zara. Betapa sakit dan perihnya hidup dirinya dulu jika tak ditolong Anastasya. Dan sekarang, salahkan jika dirinya akan membalas perlakuan baik Anastasya pada putrinya?.


Sejauh ini Arka sendiri masih belum mengetahui jika sekretaris putranya adalah putri dari Anastasya. Zara tak ingin mengatakannya dan biarkanlah waktu yang akan membuat sang suami mengetahui kebenarannya.

__ADS_1


Saat ini Zara memang masih tak punya cukup nyali untuk menemui Anastasya dan berbicara langsung. Entahlah, kepergian Anastasya nyatanya menyimpan rasa trauma dalam hati Zara meski ia tau jika semua yang terjadi bukan hanya kesalah dirinya sendiri.


Mungkin sebagian orang berpandangan jika dirinya tertawa di atas penderitaan orang lain. Menikah dengan orang kaya namun satu istri lainnya justru memilih pergi. Rupanya hal tersebutlah yang membuat Zara belum mampu untuk menatap Anastasya lagi selepas seluruh kejadian yang dialami selama bertahun-tahun kebelakang. Katakanlah Zara rapuh, bila kembali disenggol dengan kehidupannya dimasa lalu, meski sejatinya ketiga putra dan putrinya sudah mengetahui jika dirinya bukanlah istri pertama dari Ayah kandung mereka.


Sempat terbesit dalam fikir Zara untuk berbicara dengan Natasya. Hanya berdua disebuah tempat dan mereka bebas bercerita. Jika sejak lama dirinya mengetahui jika teman dari Emely adalah putri dari Anastasya, mungkin sudah sedari lama dirinya mengakrabkan diri.


Akan tetapi untuk bertemu apalagi berbicara berdua tanpa diketahui siapa pun temasuk Ernest, sepertinya akan sulit.


Lalu memakai alasan apa agar dirinya bisa bertemu dengan Natasya di luar?.


Zara terpekur. Akhir-akhir ini fikirannya tak menentu dan menjadi pendiam. Emely yang menyadari akan perubahan dalam diri sang Ibu pun sempat protes. Akan tetapi Zara pun berkilah. Ia bilang jika semua baik-baik saja.


Saat ini pun Emely seperti tak pernah menyebut nama Natasya. Ah, mungkin saja karna kesibukan keduanya membuat jarang berkomunikasi dan bertukar kabar. Natasya yang bekerja dan Emely yang sibuk dengan tugas skripsi. Keduanya sama-sama tak memiliki waktu luang untuk membuat janji temu dan bersua.


Zara termanggu. Tiba-tiba ia berfikir seperti apa reaksi suami dan putra putrinya nanti jika mengetahui putri dan mantan istri Ayahnya itu rupanya tinggal di satu kota yang sama dengan mereka. Apalagi jika mengetahui jika Anastasya-lah yang merupakan putri dari mantan istri sang Ayah yang selama ini belum pernah mereka jumpai.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2