
Terkadang dalam setiap kehidupan manusia, bak sisi mata uang yang saling berbeda. Mungkin seperti itulah yang dialami oleh saudara kembar, Erich dan Ernest. Jika Erich sudah menemukan kebahagian bersama orang yang ia cintai, lain halnya dengan Ernest yang memilih untuk sendiri. Enggan mengenal cinta dan masih trauma akan kegagalan cinta atas hubungan terdahulu dengan Sandara.
Erich begitu menikmati hari-harinya bersama Isabel di sisi. Perempuan itu dengan sepenuh hati melayani semua kebutuhan sang suami. Meski usianya masih sangat muda, namun Isabel tampak sudah mulai menguasai semua diberbagai bidangnya.
Makanan dan secangkir kopi yang selalu terhidang, juga dekapan hangat di atas ranjang yang tak pernah terlewatkan disetiap harinya.
Hidup Erich begitu berwarna selepas Isabel hadir. Hidupnya dulu yang terasa sepi, kini terasa ramai saat satu orang menemani hari-harinya.
Akan tetapi kebahagiaan yang durasakan Erich, tak juga dirasakan oleh Ernest.
Kini sebagian besar waktu Ernest digunakan untuk bekerja. Bekerja dan bekerja, bukan hanya untuk menunjukan kinerjanya saja pada sang Ayah, namun juga sebagai bentuk pelarian. Ernest berharap dengan memiliki banyak kesibukan, sedikit banyak dapat mengalihkannya dari rasa kecewa yang terlanjur membuat hidupnya porak poranda.
Penampilan pun seakan tak lagi menjadi perhatian Ernest. Rambut yang biasa terpanhkas rapi itu, kian memanjang tak beraturan. Emely dan Arka tak berani menegur, mereka memilih membiarkan. Sementara Zara pernah satu kali menegurnya secara hati-hati, namun Ernest menjawab jika untuk saat ini biarlah penampilannya seperti ini. Ernest juga mengatakan jika merasa nyaman dengan penampilannya yang sekarang. Zara pun mengalah, lagi pula memaksa orang yang sedang mengalami patah hati juga percuma.
Hari ini ada beberapa data diri beberapa pelamar kerja sudah masuk pada Agung. Rencananya para kandidat akan terbagi menjadi dua sebelum menuju wawancara. Penampilan dan sikap pun tak luput dari penilaian. Ernest sendiri sudah menunjuk Agung dan satu rekan perempuannya sebagai juri. Akan tetapi saat menuju tahap Final, baru Ernest-lah yang akan menentukan.
💗💗💗💗💗
"Tuan, ada sekitar dua puluh orang yang sudah mengajukan surat lamaran. 60 persen perempuan dan sisanya laki-laki," lapor Agung pada Ernest saat jam kerja kantor berakhir.
"Heem, aku serahkan semua padamu. Aku tidak perduli dia laki-laki atau pun perempuan. Jika kemampuannya mumpuni dan bisa diandalkan, kau bisa membawanya untuk mengikuti tahap selanjutnya."
"Baik, Tuan."
Ernest mempersiapkan diri untuk pulang. Tubuhnya sudah teramat lelah. Dengan dibantu seorang sopir, Ernest pun kembali ke rumah tanpa kurang suatu apa pun.
Begitu memasuki rumah, Zara menyambutnya. Sang Ayah pun sudah duduk dengan santainya di sofa ruang tamu. Rupanya hari ini Arka pulang dari kantor lebih dulu.
"Ernest, sudah pulang?." Tanya sang Ibu begitu menyambut kedatangan sang putra.
"Iya, Ibu."
"Ayo, mandilah lebih dulu dan setelah itu kita makan malam bersama." Perintah sang Ibu lantas diangguki sang putra. Ernest pun mulai menaiki anak tangga untuk menuju kamar pribadinya.
💗💗💗💗💗
__ADS_1
"Kak Ernest," panggil Emely pada sang Kakak dengan mimik wajah dibuat semenggemaskan mungkin. Mereka tengah terkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam.
"Ada apa?." Ernest menjawab sekenanya. Ia menatap sang adik yang malam ini terlihat cantik seperti hari-hari biasanya.
"Boleh aku katakan sesuatu?." Bola mata Emely mengerjap, seolah sedang menggoda Ernest.
"Heem, katakan saja."
"Jika dilihat-lihat, kenapa Kak Erich lebih tampan darimu ya? Bukankah kalian saudara kembar?."
Arka yang sedang mengunyah makanan, tersedak. Sementara Zara langsung meraih segelas air putih dan memberinya pada sang suami. Dalam hati ia pun terkejut dengan ucapan sang putri. Ia bahkan terkekeh dalam hati, tak menyangka jika Emely akan seberani ini untuk menggoda sang Kakak.
Ernest lekas menggeser pandang, menatap Emely dengan mata membulat sempurna sementara kepalanya menggeleng tak percaya. Emely hanya bisa meringis seraya membungkam bibir. Takut-takut ia menatap wajah sang Kakak yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Maaf," ucap Emely seraya mengangkat kedua jemarinya, membentuk huruf V.
"Itu sama sekali tidak lucu, Emely," tegur Ernest, memberi pengertian pada sang adik.
"Maka dari itu, potonglah rambut Kakak supaya terlihat lebih tampan dari Kak Erich!." Bibir Emely mengerucut gemas. Entah sudah yang keberapa kali ia menyindir pedas Ernest menyangkut masalah rambut, akan tetapi tak pernah digubris oleh pria itu.
"Aku akan memotongnya suatu saat nanti."
"Sudah, hentikan perdebatan dan habiskan makan kalian," titah Arka yang mulai terganggu dengan tingkah putra dan putrinya.
Emely meneruskan makan, namun dengan wajah tak sedap dipandang. Ernest yang melihat perubahan raut wajah sang adik justru tergelak dalam hati.
Selepas makan, mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Bagaimana dengan pencarian sekretaris pribadimu, kau sudah mendapatkannya?." Arka mengiring pertanyaan.
"Belum, Ayah. Masih dalam tahap seleksi. Baru ada beberapa data calon karyawan yang masuk dan masih akan melalui beberapa tahap lebih dulu." Ernest menjelaskan. Zara dan Emely yang duduk saling berhimpitan pun ikut mendengarkan.
"Baguslah. Aku harap kau bisa mendapatkan orang yang tepat sebagai penganti Sandara."
Ernest tampak menghela nafas dalam begitu Arka menyebut nama Sandara. Meski sudah memaafkan, namun rasa benci itu belum sepenuhnya hilang.
"Penganti Kak Sandara? Memang Kak Ernest akan mencari sekretaris pribadi?."
__ADS_1
Kini giliran Zara yang menganggukkan kepala.
"Hu'um."
"Wah, bagaimana kalau aku saja?."
Ernest sontak memutar bola mata malas. Ingin rasanya Ernest menjewer telinga sang adik hingga putus saking geramnya.
"Em, berhentilah menggoda. Aku bisa benar-benar marah jika kau terus bertingkah." Ernest seakan mulai tersulut emosi. Wajahnya pun mulai terlihat tak nyaman.
"Santai, Kak. Jangan marah-marah, nanti cepat tua. Masa', pacar saja belum punya tapi wajah sudah mulai menua." Emely terkikik lagi. Tapi begitu mengigat kata Pacar dan tua dan kerja, Emely justru teringat akan seseorang.
Hei, bukankah Natasya juga sedang mencari pekerjaan?.
"Kak, aku punya seorang teman. Perempuan dan dia sedang mencari pekerjaan. Bagaimana kalau..."
"Emely, cukup. Berhenti bertingkah yang tidak-tidak. Ini sudah malam, tidur sana," titah Ernest yang tak ingin lagi meladeni ucapan sang adik. Ia sudah terlihat bangkit dari posisi duduknya.
"Kak, benar. Aku tidak berbohong."
"Lalu?."
"Dia bahkan lulusan terbaik dari salah satu universitas di negara XX." Emely menjelaskannya dengan antusias.
"Lalu apa hubungannya denganku?."
Emely berdecak. Ernest rupanya sudah mulai menyebalkan di matanya.
"Bukankah kakak butuh sekretaris pribadi? Dan dia juga butuh pekerjaan. Jadi jangan ditanyakan lagi apa hubungannya," ucap Emely seraya berkacak pinggang.
Ernest menghela nafas dalam. Tak ada gunanya untuk berdebat. Mungkin mengalah akan lebih baik dari pada melawan.
"Baiklah. Bawa dia ke kantorku. Aku tak ingin langsung menerimanya begitu saja karna dirimu. Dia tetap akan melalui serangkaian tes yang ada tanpa terkecuali."
"Tidak masalah. Aku bahkan sudah yakin akan kemampuannya."
Ya, meski keyakinanku masih setengah setengah. Hiks..
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan dengan sangat senang hati untuk membuktikan ucapanmu, adikku." Ernest berlalu pergi selepas mencubit gemas puncak hidung sang adik. Setidaknya Emely adalah penawar rasa sakit hatinya kini. Meski seperti anjing dan kucing jika berdekatan, namun saat jauh keduanya akan saling merindukan.
Tbc.