CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Bertemu


__ADS_3

Suasana hangat begitu terasa disebuah meja makan di kediaman Arka. Zara sigap membuat sarapan untuk suami dan putra putrinya yang sudah duduk dikursinya masing-masing. Roti isi telur dan nasi goreng sea fod menjadi menu sarapan pagi kali ini. Aroma nikmat yang menguar membuat perut yang kosong kian keroncongan.


Zara memindahkan tiga potong roti isi kedalam piring milik suaminya. Juga segelas jus apel sebagai menu sarapan. Pria itu tersenyum senang mendapati masakan nikmat hasil olahan sang istri sudah tersaji di depan mata.


"Terimakasih sayang," ucap Arka pada Zara yang terdengar begitu lembut saat menyentuh gendang telinga. Bukan hanya ucapan, Arka bahkan meraih jemari sang istri lantas mengecup punggung wanita itu, mesra.


"Cie."


Arka tak perduli. Meski putra dan putrinya kerap kali menggoda. Sekali pun pria itu tak pernah malu, apalagi sungkan untuk menunjukan rasa sayangnya pada sang istri meski di hadapan anak-anaknya sendiri.


Zara tersipu malu. Perempuan itu kerap menegur untuk tak terlalu memamerkan kemesraan di depan anak-anak mereka. Akan tetapi, Arka tetaplah Arka yang keras kepala dan bertindak sesuka hatinya.


Emely memilih nasi goreng sea fod untuk menu sarapan, sementara Ernest mengikuti sang ayah dengan memakan beberapa potong seandwich yang dibubuhkan sang ibu kepiringnya.


Mereka makan dengan khidmat. Hanya terdengar bunyi sendok dan garpu yang beradu. Keempatnya tampak lahap menghabiskan makanan di piring masing-masing. Hingga sebuah suara yang datang tiba-tiba cukup memecah keheningan yang sempat tercipta.


"Selamat pagi," sapa seseorang yang baru saja muncul di ruang maka.


Keempat insan yang tengah menikmati sarapan spontan menggeser pandangan ke arah sumber suara. Mereka terkesiap juga tak percaya saat Wajah Erich muncul di depan mata.


Emely sampai menjerit dan berlari menubruk tubuh tegap Erich yang masih berdiri saking senangnya. Begitu pun dengan Zara yang langsung bangkit dari kursinya untuk berjalan mendekat kearah sang putra.


"Sayang, Emely," panggil Arka yang masih menghabiskan sarapannya di meja makan. "Habiskan sarapan kalian dan bawa Erich untuk bergabung." Arka memperingatkan sang istri dan putrinya untuk kembali melanjutkan makan.


"Baik Ayah." Emely menarik tangan sang kakak untuk membawanya ke meja makan. "Kakak, ayo," ajak Emely yang kini membimbing langkah sang kakak seperti bocah saja.


Erich sendiri tersenyum tipis. Setiap kali ia pulang, tentu sbutan hangat semacam inilah yang selalu ia dapat. Akan tetapi, saat kerap mengikuti ambisi membuat pria itu jarang sekali untuk bisa pulang ke rumah. Lebih tepatnya, ia sendirilah yang enggan untuk pulang.


"Erich, kau ingin sarap apa?"

__ADS_1


Erich memilih dua menu makanan yang tersaji di hadapan. Ia yakin jika keduanya itu sama-sama memiliki cita rasa yang nikmat sebab diolah langsung oleh tangan ajaib sang ibu.


"Ini saja," tunjuk Erich pada potongan sandwich.


Zara tersenyum lembut. Kedua putranya memang seperti duplikat sang ayah jika urusan makanan. Jika dari wajah, sepasang saudara kembar itu memiliki paras yang memang hasil perpaduan dari Arka dan Zara. Keduanya berkulit putih seperti Zara, serta postur tubuh tegap seperti Arka. Hem, sungguh kombinasi yang sempurna.


"Ehem."


"Ehem."


Kini giliran Ernest yang pura-pura berdehem sementara bibirnya mengulas senyum miring seolah mengejek.


Erich yang mendapati tatapan aneh saudara kembarnya, hanya acuh dan mulai memakan sarapannya.


"Ya tuhan, ada agin apa gerangan yang membuat saudara tampanku pulang kampung sepagi ini." Masih dengan membubuhkan serigai tipis, yang mana membuat Ernest kesusahan untuk menelan makanannya.


Duh Ernest, jangan bilang kalau kamu bisa membaca isi hati Erich πŸ˜†


Ernest justru tergelak. Namun secap kilat ia membekap mulutnya sendiri selepas mendapat tatapan tajam dari sang ayah.


"Ernest, apa salahnya jika Erich pulang. Bukankah dia bilang jika sedang rindu pada kita. Ya, memang sedikit aneh, sebab tidak biasanya Erich akan pulang secepat ini dan bahkan sepagi ini saja sudah sampai di rumah. Ibu penasaran, jam berapa kau mulai melakukan perjalanan, Erich?"


Erich sontak tersedak. Sial, akibat ocehan Ernest, Zara kini mencecarnya dengan pertanyaan yang begitu sulit Ernest jawab. Pria itu menghela nafas, terlihat seperti orang bodoh saat kembali mengingat kejadian beberapa jam lalu.


Seperti yang diketahui perjalanan dari kota Xx ke ibukota tentu memakan waktu beberapa jam lewat jalur udara. Sedangkan sepagi ini, Erich sudah sampai ke kediaman orang tua dan kini sedang menikmati sarapan bersama. Jadi bisa dipastikan jika selepas mendapatkan panggilan telepon dari Ernest, pria itu langsung tancap gas untuk pulang dan berkemas. Pria itu bahkan rela tertidur di kursi penumpang jet pribadi untuk bisa sampai ke kekediaman orang tuanya secepat mungkin. Ya tuhan.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"Hai."

__ADS_1


Isabel yang sedang membawakan pesanan ke meja pelanggan itu terkesiap.


"Apa kabar?"


Nampan di tangan Isabel nyaris terjatuh, namun sepasang tangan kokoh sigap menahannya.


"Hati-hati."


Isabel seperti terhipnotis. Bibirnya sedikit terbuka, begitu pun sepasang mata beningnya yang membulat sempurna.


"Ernest," ucap Isabel lirih.


Pria yang disebut Isabel sebagai Ernest itu tersenyum tipis, lantas berucap, "Aku Erich, bukan Ernest."


Tepat. Meski wajah mereka serupa. Tetapi Isabel bisa membedakan keduanya dari gaya rambut mereka. Jika Ernest memiliki rambut tebal dan sedikit panjang, namun berbeda dengan Erich yang mencukur tipis rambutnya.


"Tu-tuan Erich?" Isabel masih tak percaya.


Erich kembali tersenyum tipis.


"Aku ingin bicara denganmu, tentu setelah kau mengantarkan pesanan ini ke meja pelanggan." Erich menatap kearah nampan yang masih Isabel pengang. Isabel sendiri spontan tersenyum kikuk setelah tersadar.


Isabel bahkan sudah gagal fokus sekarang😁


Bersambung guys. Tetap pantengin terusπŸ’—πŸ’—


Penampakan wajah babang Erich guys..


Semoga sesuai dengan ekspektasi kakak-kakak.

__ADS_1



Sesuai cover ya guys😊


__ADS_2