CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Pilihan Sulit


__ADS_3

Sepeninggal Erich dari kafenya, perasaan Isabel dibuat tak tenang. Ia memutuskan untuk pulang. Mungkin akan lebih baik jika ia membicarakan masalah Retno pada Ratih atau pun keluarganya yang lain. Ia tidak akan memendamnya seorang diri, mengingat hal yang terjadi juga menyangkut nyawa orang lain.


Begitu memasuki kediaman yang baru dua bulan ini Isabel tempati, dirinya sudah disambut oleh Thomas beserta istri dan anaknya yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Paman, bibi, adik-adik," sapa Isabel sembari menyulas senyuman kearah mereka yang sudah menunggunya. "Senang bertemu dengan kalian," sambung gadis itu lagi seraya mencium tangan kedua pasangan suami istri itu juga menciump pipi adik-adik sepupunya.


Thomas mengusap puncak kepala Isabel dengan sayang.


"Kami merindukanmu. Semenjak tinggal di rumah ini, kau sudah jarang sekali mengunjugi rumah kami." Istri dari Thomas menunjukan protesnya. Ia yang begitu menyayangi Isabel, seperti tak terima saat gadis itu memutuskan untuk membeli rumah sendiri dan harus meninggalkan rumahnya yang beberapa waktu lalu sempat gadis itu tinggali.


Isabel tergelak lirih, kembawa tubuh sang bibi kedalam dekapannya.


"Maaf, akhir-akhir ini kafe sedang banyak pelanggan. Isabel pun harus ikut membantu agar sedikit meringankan pekerjaan para karyawan. Ya, maklumlah, kafe masih baru pun dengan jumlah karyawanan yang masih sedikit." Isabel sedikit memberi penjelasan. Ia memberi pengertian pada Bibi dan pamannya itu agar tak salah faham.


Ratih muncul dari arah dapur dengan membawa beberapa minuman segar. Saat berpandangan dengan Ratih, Isabel pun spontan mengingat percakapannya kembali dengan Erich beberapa saat lalu yang membahas tentang Retno.


"Bibi," panggil Isabel pada Retno. "Kemarilah, duduk bersama kami," pinta gadis itu yang membuat Ratih langsung diliputi banyak pertanyaan dalam benaknya. Tidak mungkin terjadi apa-apa jika sampai Isabel memangil dengan memasang mimik wajah seriusnya.


Isabel duduk di sebuah sofa tunggal, sementara Ratih mendekat dan duduk di sofa yang terletak di sampingnya. Tak berbeda jauh dengan Ratih, Thomas dan sang Istri pun diliputi Rasa penasaran. Keduanya saling berpandangan, dengan sepasang alis saling bertautan seolah bertanya 'ada apa?'.


"Apa bibi masih ingat dengan tuan Erich?"


Ratih coba mengingat-ingat.

__ADS_1


"CEO perusahan di tempat Bibi Retno bekerja?"


Entahlah. Ratih mungkin hanya pernah mendengar namanya tetapi tak sekali pun melihat wajahnya.


"Ingat, nona. Hanya saja bibi tidak pernah melihat seperti apa wajahnya."


Isabel menganguk samar lantas menghela nafas dalam. Ia bersikap setenang mungkin, berharap jika Ratih tak akan terkejut bila mendengar ucapan yang akan keluar dari bibirnya.


"Tadi tuan Erich menemuiku. Dia mengatakan hal penting padaku yang menyangkut tentang Bibi Retno."


Ratih tentu terkejut. Ia bahkan sama sekali tak menghubungi saudara perempuannya itu semenjak pindah.


"Tentang apa, nona? Pasti Retno di sana baik-baik saja kan? Tidak ada hal buruk yang terjadi padanya kan?" Wajah Ratih kini mulai menyiratkan kecemasan. Ia mencondongkan tubuhnya untuk lebih mendekati Isabel.


Mengalirlah semua penjelasan dari bibir Isabel. Gadis itu mengulang semua ucapan Erich tanpa mengurangi atau menambahi sedikit pun. Isabel memilih jujur dan mengatakan semuanya pada Ratih dan Paman serta bibinya. Ratih tak kuasa menahan tangis. Tak pernah berfikir jika mantan majikannya itu akan menyeret orang lain sebagai pelampiasan amarahnya. Sementara itu kedua tangan Thomas mengepal. Ia luar biasa geram. Tak habis fikir jika perempuan seperti Arum bisa bertindak seanarkis itu.


"Aku tidak akan tinggal diam. Mungkin sudah saatnya bagi kita untuk membuat perhitungan." Rahang pria itu mengeras. Wajah tenangnya kini berubah garang. Ia harus lekas menyusun strategi. Mengumpulkan bala bantuan sebanyak mungkin untuk bisa menghadapi singa betina seperti Arum.


"Tapi dengan cara seperti apa paman. Isabel cukup mengenal Ibu Arum selama ini. Perempuan itu begitu licik dan licin. Sulit bagi kita untuk bisa mengalahkannya."


Benar juga. Membunuh tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Thomas hanya ingin melihat perempuan angkuh itu kalah dan hancur sehancurnya, hingga tak punya keberanian walau hanya sekedar menegakkan kepala.


"Paman bisa membayar beberapa pengawal. Setidaknya kita bisa menyelinap ke kota xx untuk menjembut Bi Retno ke ibu kota supaya aman dengan bantuan mereka." Tetapi Thomas pun seperti tak yakin dengan ide yang tercetus di benaknya.

__ADS_1


"Ibu Arum memiliki banyak harta. Dengan uang dia bisa membeli segalanya. Dia pasti membayar banyak pengawal untuk bisa melindunginya. Termasuk membayar orang untuk bisa menghabisi nyawa kita. Ini terlampau berat paman. Kita tak memiliki kekuatan untuk bisa menandinginya. Pengawal yang paman kirim pasti kalah banyak dengan orang-orang ibu Arum yang pastinya sudah tersebar di kota xx." Isabel pasrah. Baginya terlampau awan untuk bisa selamat dari cengkeraman sang ibu tiri.


"Isabel," panggil Thomas.


"Ya paman."


"Bukankah harta yang diklaim perempuan itu sebagai miliknya, bukankah masih ada hakmu juga?" Tidak mungkin jika Arum sudah memindahkan semua aset atas nama dirinya. Walau dulu Praja sempat sebucin itu pada Arum, tetapi Thomas yakin jika dari seluruh kekayaan yang kakak iparnya itu miliki, pasti masih ada nama Isabel sebagai pemilik hak paten atas hartanya.


"Entahlah." Isabel sama sekali tak berminat jika sudah menyangkut harta benda milik orang tuanya. Bagi gadis itu, hartalah penyebab nomor satu segala prahara yang terjadi di dalam keluarganya. Andai orang tuanya miskin, tentu ibunya masih hidup sampai saat ini . Dan andai orang tuanya miskin, tentu Arum tidak akan menjadi duri dalam pernikahan kedua orang tuanya. Sebab tujuan utama Arum menikan dengan sang Ayah, bukanlah karna cinta semata melainkan tergiur akan harta yang dimiliki oleh Praja.


"Aku akan menanyakannya langsung pada ayahmu. Lagi pula kondisi ayahmu sudah mulai membaik sekarang. Paman yakin, jika dia tak akan lagi bungkam jika itu sudah menyangkut dirimu dan nyawa orang lain. Perempuan itu pun tak perlu berpura-pura lagi, toh selama ayahmu lumpuh, pasti ia sudah melihat dengan jelas seperti apa perangai istrinya sendiri. Licik, tamak, dan berhianat. Jadi Paman rasa, ayahmu tidak ada alasan lagi untuk tetap mempertahankan perempuan itu untuk menjadi Istrinya. Cerai, dan mengembalikan perempuan itu ke tempat asalnya, itu baru harga yang sepadan untuk membalas semua kejahatan yang telah perempuan itu perbuat."


Isabel hanya terdiam. Tentu semua tidak mudah seperti orang bicara. Ia tak yakin. Untuk kembali ke kediamannya dan merebut semua harta milik sang ayah, bukankan dirinya sama saja hanya mengantarkan nyawa? Arum punya benteng kokoh yang susah ditembus lawan. Terlebih selepas peristiwa kaburnya ia dan sang ayah dari rumah. Tentu penjagaan akan menjadi berlapis-lapis kokohnya.


Tidak, mungkin dengan mengikhlaskan semuanya adalah jalan yang paling tepat.


Tapi bagaimana dengan Retno? Isabel memejamkan mata. Situasinya benar-benar terhimpit saat ini.


"Satu sisi paman optimis, namun di sisi lain paman pun pesimis. Setelah dipikir-pikir, mungkin kekuatan kita tidak sepadan dengan mereka. Tetapi nyawa Bibi Retno pun terancam. Satu-satunya cara untuk bisa melawan mereka adalah memperkuat pengawalan. Tetapi pada siapa kita akan mencari bantuan?" Sebenarnya Thomas memiliki banyak rekan yang menawarkan bantuan. Hanya saja pria tak ingin jika masalah pribadi keluarga mendiang sang adik menjadi konsumsi publik dan diketahui oleh khalayak ramai. Bukankah ini seperti aib, dan Thomas sendiri sebisa mungkin untuk terus menutupinya.


Bantuan.


Isabel gamang. Mendengar keluhan sang paman kini justru mengingatkannya pada Erich.

__ADS_1


Apa aku terima saja bantuan darinya?


__ADS_2