CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Rujuk?


__ADS_3

Rangga berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada sementara sepasang matanya menatap tajam pada sosok pria yang sedang duduk tak jauh dari hadapannya.


Arka...., Rangga mendesis, menyebut nama sang sahabat yang ia anggap sebagai pengkhianat.


"Kenapa kau tidak mengundangku dan kenapa juga kau tak memberitahukan jika Anastasya datang ke rumahmu?." Rangga berdecih. Rasanya ia ingin menelan tubuh Arka bulat-bulat, tapi ah, mulutnya mana muat.


"Kanapa Diam," sebal Rangga saat Arka tak mengucap sepatah kata apalagi menjawab pertanyaannya. Zara yang memahami situasi, beberapa saat lalu mempersilahkan pada sang suami untuk meluruskan kesalah pahaman yang terjadi. Sepeninggal Anastasya serta putrinya dari rumah mereka, suasana menjadi memanas seakan dipenuhi bara emosi yang bersumber dari kedatangan Rangga.


"Kenapa, kau kesulitan membuat alasan 'kan?." Rangga memberondong Arka dengan pertanyaan seakan sedang meluapkan kekesalan. Ya, kesal. Bahkan sangat kesal sebab waktu dirinya untuk melihat Anastasya hanya sebentar.


"Rangga, Diamlah!." Sambar Arka. "Jika kau terus bertanya, kapan aku bisa menjawabnya?."


"Kau bahkan hanya diam saja. Aku pun berfikir jika kau tak berminat untuk menjawab pertanyaanku." Rangga yang terlanjur sensitif, tak bisa menanggapi ucapan sang sahabat dengan suara dingin. Hatinya sudah terlampau gerah, pun dengan tubuhnya.


Arka berdecak.


"Kau ini ya, tetap tak berubah. Sekehendak sendiri dan selalu merasa benar." Arka mulai tak tahan. Jika tak segera diluruskan, masalah yang terjadi justru melebar kemana-mana. "Duduklah, tenangkan fikirmu dan aku akan menjelaskan semua."


Rangga menghela nafas berulang. Setelah dirasa mulai tenang, ia pun mendaratkan tubuh di sofa dengan kedua tanggan menyilang di atas paha.

__ADS_1


"Sudah tenang?."


Rangga hanya mengganggukkan kepala. Wajahnya tampak merah padam seperti menahan amarah.


"Aku bukan tak ingin mengundangmu malam ini, hanya saja saat berniat untuk mengundang Anastasya bersama putrinya, kami pun sangat ragu bila mereka bersedia datang." Arka menjeda ucapan. Pria berkemeja biru itu menghela nafas dalam. "Kau tentu tau, setelah bertahun-tahun tak bertemu, pasti diantara kami ada kecanggungan. Begitu dengan Anastasya yang selama berpisah denganmu memilih untuk pergi, dia bahkan selalu menghindar saat ditemui. Maka dari itu, aku bersama Zara merencanakan makan malam ini sebagai alat pertemuan. Meski kami pun ragu, antara bersediakan ia datang atau memilih menghindar lagi." Semula memang Arka tak yakin, tetapi setelah melihat kejadian beberapa saat lalu ketika Anastasya bertemu dengan pengawal serta pelayan yang dikenal juga betapa hangatnya dia serta putrinya saat berbicara dan menikmati makan malam bersama, kekhawatiran Arka musnah sudah. Anastasya tak berubah, dia tetap perempuan lembut dan baik hati seperti dulu.


"Tapi kau sama sekali tak memikirkanku, Arka. Sama seperti kalian, aku pun ingin bertemu dan berbicara pada Anastasya." Suara Rangga mulai melemah. Mungkin ia menyadari akan kesalahannya. Marah-marah tak jelas dan tak tepat sasaran.


"Aku tau, tapi kau juga harus tau, sekian tahun aku mencari dan baru kali ini kami bertemu dalam situasi yang kondusif dan hangat, mana mungkin aku merusaknya dengan kehadiranmu yang mungkin saja tak dikehendaki Anastasya."


"Hei, kenapa bisa begitu?." Rangga tak terima.


"Ada kalanya kehidupan di masa lalu seseorang yang membuat mereka enggan untuk bertemu. Aku tau, luka yang kau berikan pada Anastasya sangatlah dalam, dan aku tak yakin jika dia mau melihatmu kembali meskipun dia sudah menjanda." Tatapan terluka dan ketakutan Anastasya begitu melihat Rangga, seperti menyiratkan rasa trauma juga luka mendalam. Hal tersebutlah yang dapat Arka tangkap dari Anastasya. Meski mungkin masih tersisa rasa rindu dan cinta, tetapi tidak menampik kemungkin jika rasa sakitlah yang lebih mendominasi.


"Maaf, aku bukan bermaksud untuk mengingatkanmu pada kejadian di masa lalu. Tetapi untuk kehidupan sekarang pun, setidaknya kau bisa berkaca dari hidupmu di masa lalu." Mungkin Arka pun ingin mengingatkan Rangga, betapa buruknya kedua orang tua sahabatnya tersebut dalam memperlakukan Anastasya.


"Ya, kau benar."


"Baguslah jika kau mengerti."

__ADS_1


Rangga terdiam, begitu pun dengan Arka. Dua pria berusia lebih dari matang itu seperti sedang bergelut dengan isi fikiran masing-masing.


"Arka," panggil Rangga selepas beberapa saat terhanyut dalam kebisuan.


"Ya?."


"Apa kau berniat untuk merujuk Anastasya?." Justru pertanyaan semacam itulah yang keluar dari mulut Rangga selepas beberapa saat bungkam.


"Hah?." Arka bahkan tak mengerti akan pertanyaan sang sahabat.


"Ya, apa kau berniat untuk merujuk Anastasya?. Maksudku apa kau ingin kembali menyatukan Anastasya dan Zara sebagai istri-istrimu seperti dulu?."


Arka ternganga. Ia kebingungan sekaligus tak percaya. Terlebih begitu mendapati tatapan kekecewaan Rangga yang ditujukan padanya.


"Jawab aku, Arka. Apa kau berniat untuk merujuk Anastasya?."


Arka menelan ludah. Bagaimana ini?.


Tbc.

__ADS_1


Untuk Visual, boleh intip di 'Terjerat Dua Cincin Sang CEO'. Hanya saja di sana dalam wajah muda, ehem dan sekarang sudah pada setengah baya ya, jadi bisa dibayangin seperti apa kurang lebih wajah mereka dimasa tak lagi muda😀


Buat Visual Rangga, boleh intip di 'Asmara Anastasya'. Ehem, Rangga yang coll dan cukup sangar. Sampe sekarang pun parasnya tetap, hanya wajahnya yang sedikit keriput😄 Semangat ngehalu yuk, akak. Trims yang udah setia baca sampai bab seratus lebih ini.


__ADS_2