
"Maukah Tuan menjadi Ayah untuk saya?."
Satu kalimat tersebut rupanya membawa Rangga pada satu titik rasa bahagia yang tak terkira. Putri dari perempuan yang ia cintai meminta dirinya secara langsung agar berkenan menjadi Ayah. Tentu saja Rangga tak menolak. Hal tersebut merupakan kesempatan besar baginya untuk kembali bersatu dengan Anastasya. Menikahinya kemudian hidup bahagia bersama putri sambungnya, Natasya. Ya, semoga saja.
Anastasya sampai kehabisan kata-kata saat sang putri justru mendesaknya. Meminta pada Ibunya untuk kembali bersama pada pria yang dulu pernah bertunangan dengannya.
"Natasya, Paman sesungguhnya tak ingin pernah menolak keinginanmu, hanya saja bukankah pertanyaan itu sepatututnya Paman tujukan pada Ibumu." Rangga menjeda sejenak ucapan. Kini pandangannya beralih pada Anastasya yang wajahnya semakin terlihat panik dan pucat. "Anastasya, maukah kau menikah denganku, menjadikanku Ayah untuk Natasya?."
Kepanikan Anastasya bertambah selepas Rangga mengucap satu pertanyaan yang sesungguhnya ia sendiri masih kesulitan untul memberi jawaban. Kenapa suasana yang semula syahdu berubah menegangkan seperti ini?.
"Ibu, ayo jawab." Natasya yang sedari tadi menjadi penonton, menjadi gemas saat Ibunya masih tetap diam dan kebingungan.
"Tapi, Nak. Tidak seharusnya seperti ini?."
"Tapi kau ingin seperti apa lagi, Tasya?." Kini pertanyaan yang ditujukan untuk sang putri dijawab oleh Rangga.
"Tapi aku masih butuh waktu."
"Mau sampai kapan lagi aku memberimu waktu!." Mungkin emosi Rangga mulai meluap. "Kita sudah tak lagi muda, usia kita pun semakin bertambah. Kita berdua sama-sama sendiri dan tak akan ada yang melarang andai kita bersama. Tentu kau masih tau seberapa besar rasaku dan seberapa besar diriku menginginkanmu. Ayolah, Anastasya. Putrimu saja memberi ruang untuk kita bersama, dan aku pun tau bila rasamu padaku masih bersisa."
Anaatasya menunduk. Dirinya seperti sedang diintimidasi bukan hanya oleh satu orang tetapi dua. Rangga dan putrinya sendiri.
"Tapi..."
"Apa yang Ibu khawatirkan?." Natasya bertanya dengan suara lembut pada Ibunya. "Ayah sudah bahagia di sana, dan Aku yakin Ayah pun akan senang bila Ibu memberiku Ayah penganti yang baik seperti Tuan Rangga."
__ADS_1
Anastasya kembali tertunduk dan mengalirlah bulir-bulir bening dari sudut mata. Perempuan itu menangis. Rupanya benar, bayang-bayang Kenan lah yang membuatnya selalu menghindar dari keinginan Rangga untuk mendekatinya.
Rangga menghela nafas dalam. Ia sadar jika mendiang suami Anastasya adalah pria yang paling berharga untuk perempuan tersebut. Setelah dihancurkan perasaanya oleh dirinya dan juga Arka, mantan suami Anastasya pastinya mampu menjadi pengobat sampai perempuan itu bisa bangkit dan menyembukan luka-luka dikehidupan masa lalumya. Sungguh pria yang beruntung, bisa disayangi dan dicintai oleh Anastasya sebegitu dalam.
"Aku tau, kau pasti mencintainya tetapi bukankah hidup harus tetap berjalan. Kau tidak mungkin akan hidup menyendiri sampai akhir hanyat nanti?." Rangga belum menyerah, ia yakin pertahanan Anastasya mungkin goyah andai dia bisa meyakinkan.
"Apa Ibu takut jika setelah bersama Tuan Rangga akan menyakiti Ibu lagi?." Pertanyaan Natasya mampu membuat sang Ibu dan Rangga tersentak. Sungguh pertanyaan yang mengejutkan dan sukses membuat mulut keduanya bungkam. "Jika hal yang Ibu takutkan terjadi dikemudian hari maka jangan khawatir, aku berjanji akan membuat perhitungan dengan Tuan Rangga serta membawa Ibu pergi sejauh mungkin." Natasya yang semula terlihat kalem kini menatap tajam ke arah Rangga. Tatapan mengerikan seorang putri yang coba melindungi Ibunya dari mara bahaya yang sedang mengancam. Rangga mungkin tak tau jika putri Anastasya itu cukup menguasai beberapa ilmu bela diri. Anastasya sendiri tak menjawab, perempuan itu masih sibuk berperang dengan pikirnya sendiri.
"Kau harus tau, Natasya. Dulu meninggalkan Ibumu pun aku sangat terpaksa. Orang tualah yang..."
"Maka dari itu, pastikan orang tua Tuan menyetujui Anda untuk menikahi Ibu saja. Saya rasa jika orang tua tua mengizinkan, kedepannya pasti tak akan ada masalah."
Orang tua. Ya, Rangga sampai lupa jika Ibunya masih hidup, dan ia sangat tau jika perempuan itulah yang paling menentang hubungannya dengan Anastasya dulu. Akan tetapi saat perempuan itu sakit, sang Ibu pernah mencari Anastasya untuk meminta maaf.
"Ya, pasti Paman akan meminta izin pada beliau untuk menikahi Ibumu."
Kasta, hanya berbedaan kasta yang membuat hubungan mereka ditentang. Beruntung, Kenan meninggalkan cukup banyak aset berharga, hibgga dirinya dan sang putri dapat hidup dengan layak sampai kini.
"Dulu saat Ibumu sakit, aku mengira jika beliaulah yang akan berpulang lebih dulu. Tapi nyatanya."
Ya, Rangga pun pernah berfikir demikian. Ibunya dulu yang sempat sakit parah, justru perlahan sembuh namun sayang giliran Sang Ayah yang terserang penyakit lain sampai tiada. Usia seseorang memang tiada yang tau.
"Dulu, Ibu sempat menangis padaku. Memintaku untuk mencarimu dan menikahimu, tetapi kau sendiri tau. Kau pada saat itu menolakku dan malah pergi semakin jauh dariku." Sakit sekali mengingat saat-saat itu. Anastasy menolak dan memilih pergi jauh darinya.
"Entahlah pada saat itu aku seperti ingin menghilang sejenak dari kehidupan kalian."
__ADS_1
"Sejenak?." Rangga tertawa miris. "Sejenak yang justru memakan waktu dua puluh tahunan."
Baik Rangga atau pun Anastasya tak segan untuk berdebat di tengah-tengah Natasya. Biarlah, dia sudah dewasa dan berhak tau prahara cinta Ibunya agar tak ada yang ditutupi kedepannya nanti.
"Maaf," lirih Anastasya.
"Lalu apa keputusanmu sekarang?." Suara Rangga terdengar tegas. Mungkin ini adalah pernyataan cintanya untuk Anastasya yang terakhir kali. Andai saat ini perempuan itu memilih untuk menolak lagi, maka tidak ada pilihan lain. Rangga akan mengubur dalam perasaannya pada Anastasya dan memulai hidupnya jauh dari negara ini. Tentunya agar tak pernah bertemu kembali dengan Anastasya.
Anastasya menarik nafas dalam sebelum berkata, "Ya, aku menerimamu. Kita bisa menjadi pasangan dan kau akan menjadi Ayah untuk putriku, Natasya."
"Apa?." Rangga dan Natasya bertanya serempak.
"Ya, aku bersedia."
"Yes." Rangga berteriak senang. Tanpa sadar ia langsung mendekap Anastasya dalam pelukannya. Natasya yang tak kalah senang pun terlonjak. Ia bertepuk tangan girang namunsedetik kemudian mengernyit saat melihat Rangga memeluk Ibunya.
"Ya tuhan, aku tak menyangka jika Tuan Rangga sesenang itu saat diterima cintanya oleh Ibuku. Masa tua saja begini, apalagi saat masih muda dulu?.
Tbc.
Yes, Rangga diterima. Akhirnya. Memang, memang sejak dulu aku ingin menyatukan Anastasya sama Rangga, hanya saja harus melewati beberapa fase kehidupan dan cukup menguras emosi dan air mata juga.
Cie, kalo sudah emaknya giliran anaknya dong? Ya iyalah. Bentar lagi juga anaknya nyusul 😄
Seneng pokoknya bisa trs up smpai bab seratus sekian ini meski sempat putus-putus karna beberapa alasan, dan alasan utamanya adalah cuan. Regulasi PF yang semakin lama semakin mencekik membuat banyak penulis menjerit dan pada akhirnya memilih hiatus dari pada up Bab tapi ga dapat cuan.
__ADS_1
Percayalah, Kakak². Ga munafik, semua penulis butuh uang. Tapi aku juga lebih sayang kalian. Aku liat ada beberapa pembaca yang ngikutin salah satu karyaku dari beberapa tahun lalu. Kalian setia, dan aku sangat menghargai itu. Tak terhenti ucapan terimakasihku untuk kalian. Semoga judul ini bisa terus aku up sampai bab akhir. Entah itu sampai kapan, semoga saja.
Terimaksih