
Berjuta rasa bercampur menjadi satu namun tak mampu diungkapkan saat kedua mata Erich memandang sesosok tubuh wanita di ranjang pasien dengan beberapa alat penunjang keselamatan di tubuhnya. Sudut mata Erich memanas. Dua titik bulir, mengalir. Tak mampu di bendung saat sang gadis belum jua sadarkan diri.
"Maafkan aku. Andai waktu bisa diputar, biarkan aku yang mengalami semua, asal jangan dirimu." Erich tertunduk. Tubuhnya tak lagi bertenaga. Terlukanya Isabel seperti pukulan telak baginya. Ia merasa gagal. Gagal untuk melindungi seseorang yang seharusnya ia lindungi.
Akibat luka tusuk yang diderita, Isabel begitu banyak mengeluarkan. Bukan hanya Erich yang mendonorkan dara, tetapi Arka pun juga melakukan hal yang sama.
"Kau kuat Isabel. Aku yakin kau pasti bisa melewati semuanya." Bibir Erich terus berucap. Tak henti, seraya menatap wanita yang terbaring lemah itu dari dinding kaca.
Dari kondisi Isabel saat ini, Erich seperti bisa merasakan kehidupan sang gadis dilalui selama ini. Hidup, terperangkap di dalam rumah yang diisi para iblis seperti Arum dan Larasati. Diperlakukan semena-mena dan tak terlepas dari penyiksaan. Bulir bening kembali menetes disudut mata Erich. Jika menyangkut tentang Isabel, akhir-akhir ini dirinya merasa lemah. Air mata yang terbilang jarang sekali ia keluarkan, bahkan kini tak terbendung lagi saat dihadapkan dengan seorang Isabel.
"Tuan." Agung yang sedari tadi menunggu, memberanikan diri menyebut nama sang tuan. Awalnya pria itu ragu, saat melihat Erich yang masih setia berdiri terpaku didekat dinding kaca, menatap wajah gadis yang masih terbaring lemah di atas ranjang perawatan. Akan tetapi adanya suatu kabar yang harus ia sampaikan, dengan berat hati Agung pun mendekat dan memanggilnya.
"Ada apa?" Jawab Erich tanpa mengalihkan pandangan. Tatapannya tetap tertuju pada Isabel.
"Tuan besar sudah menghubungi keluarga dari Nona Isabel. Mereka sudah dalam perjalanan dan akan sampai dalam waktu dekat," lapor Agung.
Erich memejamkan mata, mengusap wajah seolah tengah dihimpit beban berat.
"Katakan pada Ayah untuk menyambut dan memperlakukan keluarga Isabel dengan baik. Aku akan tetap di sini, menemani Isabel."
"Baik tuan, saya permisi."
Erich mengangguk lemah.
"Isabel, bangunlah. Keluargamu akan segera datang. Apa yang harus katakan jika mereka melihatmu dalam kondisi seperti ini?" Tak bisa dipungkiri, selama Isabel ada bersamanya beberapa hari ini, dirinya-lah yang merasa bertanggu jawab atas hidup dan keselamatan gadis tersebut. Hingga kejadian semacam ini terjadi, sungguh menjadi pukulan telak baginya. Kondisi Isabel kritis, sedangkan keluarganya akan segera datang. Apa yang akan Erich perbuat andaikata keluarganya tak terima dan justru menyalahkannya?
"Aku mohon, bangunlah Isabel," ucap Erich dengan bibir bergetar.
__ADS_1
"Erich," sapa seseorang yang begitu familiar bagi Erich saat suara itu menyebut namanya. Zara tersenyum lembut. Perempuan itu datang, mengusap bahu sang putra dan kembali berucap, "Bersabarlah. Ibu tau dia gadus yang kuat, Isabel pasti bisa melewatinya. Ayo, duduklah," titah Sang ibu pada putranya.
Erich masih terpaku di tempat. Berdiri dan menatap Isabel dari dinding kaca. Hanya seperti itu hingga berjam lamanya.
Zara menghela nafas. Ia tarik lembut tangan sang putra. Meski enggan, Erich pun mengikuti keinginan ibunya untuk duduk.
Sigap, Zara meraih sebuah kotak berisi makanan lantas memberikannya pada Erich.
"Makanlah, ibu tau kau pasti lapar."
Erich mengeleng pelan.
"Bagaimana jika ibu suapi?" Tawar Zara tak kehabisan akan.
Lagi, Erich menolak.
Zara kembali menghela nafas berat. Ia tau jika putranya tengah kelaparan saat ini. Semenjak Isabel dilarikan kerumasakit, Erich sama sekali tak ingin menyentuh makanan atau minuman walau untuk sekedar pengganjal lapar. Mungkin selera makan Erich menghilang akibat terlalu memikirkan kondisi Isabel.
"Erich, jangan seperti ini.Kau harus makan. Setidaknya agar kau punya tenaga untuk mendoakan Isabel dan menjaganya. Kau harus tetap sehat. Ibu yakin, Isabel juga pasti akan marah jika kau tidak ingin makan saat dia sadar nanti."
Erich tampak berfikir. Ia tatap kotak berisi makanan dalam pangkuan Zara kemudian beralih menatap wajah ibunya.
"Baiklah, aku akan makan, tapi mungkin tak semuanya," tawar Erich meski ia sendiri ragu apakah mampu menelan makanan tersebut sementara Isabel dalam keadaan kritis.
"Tidak masalah." Buru-buru Zara membuka kotak makan. Memberikan sendok pada sang putra agar lekas melahan makanan tersebut hingga tandas.
💗💗💗💗💗
__ADS_1
Derap langkah beriringan di lorong rumasakit membuat sepasang ibu dan anak yang tengah duduk dan hanyut dalam fikiran masing-masing itu sontak mengalihkan pandangan.
Derap langkah itu kian mendekat, Arka tampak memimpin langkah disusul beberapa pria asing yang belum pernah Erich temui, termasuk pria paruh baya yang duduk di atas kursi roda dengan dibantu seorang wanita.
Apakah dia ayah dari Isabel?
Rombongan itu mendekat. Erich mulai merasakan hawa dingin melingkupi tubuh. Tubuhnya seakan beku, terlebih selepas menatap pria di atas kursi roda yang kedua mata sendunya mulai berkaca-kaca.
"Bagaimana kondisi putriku?"
Erich menelan ludahnya susah payah. Benar, pria itulah ayah Isabel dan munculnya pertanyaan seperti inilah yang ia takutkan.
"Nak, bagaimana kondisi putriku sekarang?" Praja tak leluasa bergerak di atas kursi roda. Namun pandangannya selalu tertuju kearah ruangan di mana Isabel berada.
"Tuan, tenanglah. Putri anda baik-baik saja. Kita bantu dengan doa. Saya tau, putri anda kuat dan pasti bisa melewati semuanya." Arka uang akhirnya menjawab pertanyaan Praja saat Erich kesulitan merangkai kata yang dirasa pas.
Luruh, air mata Praja luruh seketika. Ia menggerakkan tangan, meminta pada Ratih untuk membawanya mendekati ruangan Isabel.
"Ratih, bawa aku menemui putriku. Aku ingin melihat putriku dari dekat," rengek Praja pada Ratih dengan air mata berderai. Ratih pun sigap mendorong kursi roda hingga mendekati dinding kaca, di mana tubuh lemah Isabel yang terbaring di atas ranjang terlihat.
"Isabel, putriku," raung praja menyayat hati. "Bangunlah nak. Lihat, ayah datang. Ayah sudah datang untuk menjemputmu pulang, putriku." Praja mengetuk dinding. Melambaikan tangannya keudara, berharap dapat membangunkan sang putri lamtas memeluknya begitu erat.
"Bangunlah putriku. Buka matamu. Cepat katakan pada ayah jika kau baik-baik saja. Atau, atau katakan pada ayah, bagaian mana dari tubuhmu yang sakit. Ayah akan mengobatinya, meniupnya dan memberimu permen setelahnya. Mendekatlah nak, datang pada Ayah dan katakan jika kau baik-baik saja."
Runtuhlah pertahanan Erich. Tubuh pria muda itu luruh, terduduk di lantai dengan kedua telapak tangan menutupi wajah. Pria itu menangis. Benar-benar menangis karna wanita untuk pertama kalinya. Benteng pertahanan yang ia tahan sekuat tenaga, roboh saat Ayah Isabel meraung, menangisi kondisi sang putri yang berada dikondisi antara hidup dan mati.
Tbc.
__ADS_1