
Sepeninggal Erich dan Isabel, rumah megah keluarga Arka serasa sunyi. Emely lah yang paling merasakannya. Gadis yang diketahui cukup dekat dengan Erich itu mulai tak bersemangat. Ia melangkah gontai menuju meja makan untuk sarapan, bergabung dengan ke dua orang tuanya.
"Pagi Ayah, Ibu," sapa Emely seraya mencium pipi sang Ibu dan juga Ayahnya sebelum duduk di salah satu kursi meja makan.
"Pagi, sayang," jawab Zara dan Arka bersamaan.
"Nak, kau akan kuliah?." Zara menilik penampilan Emely yang nampak rapi dengan outfit kece yang menjadi gaya busana begitu pergi ke kampus.
LIya, Ibu. Hari ini aku ada mata kuliah pagi."
Zara mengoleskan selai nanas pada dua lembar roti tawar sebelum memberikannya pada sang putri.
"Terimakasih, Ibu."
Ketiganya menikmati sarapan, hingga seseorang pria ikut bergabung dan mengambil satu potong roti isi dalam piring untuk dinikmatinya.
Emely melotot. Menatap pada pria yang duduk di depannya.
"Kak, Ernest."
"Hem, ada apa Em?." Yang dipanggil menjawab santai. Ia menghabiskan sisa roti isi sebelum mengambil satu potong roti isi lagi.
"Ya tuhan, aku rasa kau butuh seorang staylish untuk merapikan penampilanmu. Lihatlah, rambutmu panjang seperti wanita, apa Kakak tidak berkeinginan untuk memotongnya?." Emely mulai risih akan penampilan sang Kakak yang mulai berantakan. Rambut yang terbiasa dicukur cepak, kini dibiarkan memanjang. Tak jarang Ernest mengikatnya layaknya perempuan.
"Kau ini cerewet sekali." Ernest menvubit gemas bibir kemerahan sang adik, yang mambuat mata gadis itu langsung membulat sempurna.
"Aw, sakit Kak!." Teriak Emely.
"Salah siapa? Itu ganjaranmu karna sudah berani-beraninya mengomentari penampilanku."
Emely hendak menjawab ucapan sang Kakak, namun buru-buru ditengi oleh Zara.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Tidak baik berbicara saat makan, apalagi berdebat. Ayo, cepat habiskan makanan kalian sebelum Ayahmu marah." Arka sendiri hanya tersenyum tipis. Zara pikir kedua anaknya masih bocah, sampai akan takut dengan ancamannya.
Emely dan Ernest menurut. Ke duanya diam sembari menghabiskan sarapan.
"Ernest, apa kau sudah menemukan seorang sekretaris, mengantikan San untuk membantu pekerjaanmu?." Beberapa hari lalu ia pernah meminta pada sang putra untuk lekas mencari penganti Sandara sebagai sektretaris pribadi sang anak. Akan tetapi entah seperti apa kelanjutannya. Selama di rumah Etnest lebih banyak mengurung diri. Bersembunyi di ruang kerja atau berolah raga.
"Untuk sementara ini, belum Ayah. Masih dalam rencana yang akan segera aku wujudkan." Ernest pastinya punya kriteria khusus bagi para kandidat yang akan melamar menjadi sekretaris pribadinya. Cerdas, berpenampilan sopan, ramah dan profesional. Kurang lebih seperti itu, namun untuk usia dan gen, pria itu tak memiliki patokan khusus.
"Baiklah, Ayah akan tunggu keputusannya. Siaoa yang kau pilih, pasti itulah yang terbaik."
"Terimakasih, Ayah."
Emely yang sudah menghabiskan sarapan, lekas bangkit. Sudah waktunya bagi dia untuk pergi ke kampus. Kuliah dan menjadi wanita karir. Itulah impiannya.
💗💗💗💗💗
"Selamat pagi, Emely." Sapaan para teman sefakultas membuat gadis bernama Emely itu tak sungkan melambaikan tangan.
"Gombal," jawab Emely tanpa sungkan. Di universitas tempatnya mengenyam pendidikan, Emely tergolong gadis populer meski tanpa dia mengumbar jati diri sebenarnya sebagai seorang putri konglomerat. Emely sengaja menyembunyikan jati diri dengan alasan keselamatan juga kebebasan. Ia tak ingin memiliki batasan dalam bergaul. Ia pun memiliki banyak teman dari kalangan menengah ke atas bahkan ke bawah. Semua teman tak ada yang dibedakan. Tak pernah ia memandang semua rekannya hanya dari strata sosial. Baginya, kaya dan miskin sama saja. Yang membedakan hanyalah bagaimana cara menyikapinya.
Sifat Emely yang supel dan periang, membuatnya banyak disukai teman juga lawan jenisnya. Banyak pria yang terang-terangan mengungkap cinta, namun dengan tegas Emely menolak. Ia tidak ingin berpacaran sebelum lulus kuliah. Itulah prinsipnya yang tak bisa digangu gugat.
Jam mata kuliah sedang berlangsung. Dari kursinya Emely tampak begitu mendengarkan penjelasan dari Dosen di fakultasnya. Emely tergolong mahasiswi yang cerdas dan rajin. Semua tentu atas andil besar seorang Zara dalam membimbing putra putrinya hingga sukses di masa depan.
Enam puluh menit lebih waktu yang dilalui. Dosen berkaca mata itu merapikan buku-buku dan mendekapnya di dada sebelum keluar dari ruangan. Emely oun keluar disusul oleh mahasiswa lain.
Tak ada agenda lain namun tak ingin pulang lebih cepat, Emely berencana untuk berjalan-jalan sebentar ke suatu tempat sebelum pulang.
"Ke mana ya?." Emely yang tengah mengemudi itu tengah menimang arah tujuan. Ke mana ia akan menghentikan laju kuda besi miliknya.
"Tapi, aku haus." Celingak celinguk Emely menatap sekitar dari kuda besinya yang masih melaju pelan. Sepasang matanya menemukan kedai pinggir jalan yang menjual berbagai minuman segar aneka rasa.
__ADS_1
Kuda besi berwarna merah muda itu menepi. Mungkin Emely akan sedikit bersenang-senang. Membeli dua minuman segar dengan rasa berbeda untuk dicicipi.
"Wah, ramai sekali," gumam Emely begitu keluar dari mobil. Banyak orang yang sudah mengantri. Ingin memguringkan niat namun ia tak mampu menolak pesona minuman segar dengan irisan buah segar yang terlihat dari wadah kaca yang seakan melambai padanya.
Emely ikut mengantri. Meski dibawah terik sang mentari, ia ikhlas asalkan bisa mendapat beberapa gelas minuman segar setelahnya.
Satu menit, du Menit, hingga lebih dari lima belas menit gadis cantik itu mendapat giliran. Tak tanggung, Emely memesan tiga cup minuman dingin dengan bermacam rasa kesukaannya.
"Yes, aku dapat." Emely menatap girang minuman warna warni di tangan. Ia sudah tak sabar meminumnya. Pandangan yang terfokus pada es dalam kap membuat langkah kakinya tak lagi diperdulikan.
"Aww..." Emely memekik, ia terkejut saat tubuhnya menubruk seseorang yang sedang melintas. Sepasang matanya bergerak-gerak, ke arah minuman yang dipegang kemudian pada seseorang yang sedang memuguti mab yang berhamburan di jalan.
"Maaf, Maaf. Aku tak sengaja. Mari aku bantu." Emely berjongkok. Meski kesusahan sebab ada beberapa kap minuman yang ia pegang, namun ia berusaha membantu seseorang yang sudah ia rugikan.
"Ah, tidak masalah. Lagi pula, aku tadi juga tergesa-gesa, hingga..."
"Emely..., kau Emely 'kan?" Seseorang yang ditabrak Emely itu mendongak, hingga kini terlihat jelas wajahnya.
Emely terkesiap, ia mengingat-ingat akan wajah gadis yang tau siapa dirinya. Dan Emely pun bisa mengingatnya.
"Kau Natasya, 'kan? Pemilik toko bunga itu?."
Gadis bernama Natasya itu mengangguk, dengan mengulas senyum termanisnya. Ah, cantik sekali. Puji Emely dalam hati.
"Ini, ambilah. Hitung-hitung sebagai ucapan permintaan maaf dariku." Emely memberikan satu minuman segar miliknya pada Natasya.
"Terimakasih," jawab Natasya yang tampak senang akan pemberian dari teman barunya. Mereka pun mencari tempat duduk yang tak jauh dari kedai untuk mengobrol agar dapat saling mengenal satu sama lain.
Tbc.
"
__ADS_1