CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Pertemuan Anastasya Dan Rangga


__ADS_3

Sejenak tubuh Anastasya membantu ketika seraut wajah seorang pria yang dulu sempat mengisi hari-harinya, kembali muncul di depan mata. Begitu tersadar, Ibu dari Natasya bersiap mengambil langkah untuk lekas menjauh pergi. Akan tetapi, sebuah tangan kokoh tiba-tiba menahan pergerakannya.


"Tasya, ini kau kan?. Benar ini dirimu kan, aku sedang tidak salah lihat kan?." Suara berat nan familiar itu kembali menyapa indra pendengaran Anastasya. Perempuan itu memalingkan wajah, berusaha sebisa mungkin agar tak dapat dilihat oleh seseorang yang menghentikan langkahnya.


"Tasya," panggil pria yang tak lain adalah Rangga. Ia pasti tak salah lihat. Seseorang yang ia lihat dan kini ada bersamanya, adalah Anastasya. Sementara perempuan itu terus berontak. Berusaha melepaskan cengkeraman tangan Rangga pada pergelangan tangannya. Akan tetapi, sial. Saat tubuh perempuan itu nyaris terjatuh, hingga sepasang tanggan Rangga berhasil menahannya.


"Aww," pekik Anastasya.


Disaat lengah Rangga pun lekas memanfaatkan momen yang ada untuk bisa melihat wajah Anastasya secara lebih jelas, dan...


"Tasya," lirih Rangga saat berhasil melihat wajah Anastasya. Sepasang matanya membulat sempurna, begitu pun raut wajahnya yang seperti tak percaya.


Anastasya gelagapan. Sebisa mungkin ia bergerak agar mampu melepaskan gengaman tangan Rangga. Terlepih saat pria itu lengah saat melihat wajahnya, Anastasya pun bergerak cepat. Melepaskan gengaman Rangga pada tanggannya dan berlari sekencang yang ia bisa.


"Tasya, tunggu!." Teriak Rangga berulang kali selepas Anastasya melarikan diri. Perempuan itu tak perduli. Ia terus berlari meski tak tau arah tujuan. Baginya sekarang yang terpenting adalah terlepas dari Rangga.


💗💗💗💗💗


Di atas podium Natasya berdiri untuk mendampingi Ernest atas intruksi dari CEO tersebut. Gadis itu patuh, berfikir memang seperti itu lah mengingat pekerjaannya sebagai sekretaris pribadi seorang Ernest Surya Atmadja.


Sang atasan masih mengucapkan beberapa patah kata sebagai sambutan. Pria itu tampak berwiba, dengan stelan jas berwarna Abu dan rambut gondrongnya yang ia ikat rapi, kian menambah kadar ketampanan seorang Ernest sebagai salah satu pewaris Atmadja Group.

__ADS_1


Ketika Ernest menyebut nama-nama penting yang ikut berperan dalam kesuksesannya, di penghujung nama ia pun menyebut nama Natasya Syailendra. Gadis itu tentu terperangah. Terlebih saat ia mendapatkan sebuah buket bunga dan ucapan terimakasih dari Ernest secara langsung di atas podium.


"Natasya Syailendra adalah gadis yang menjadi Sekretaris pribadi saya beberapa bulan belakangan ini. Dia juga salah satu alumni di Universatas XX, di Washington DC, Amerika Serikat."


Tepuk tangan riuh memenuhi area gedung. Pandangan seluruh tamu kehormatan tentu tertuju pada Natasya yang terlihat menawan pada malam ini.


"Terimakasih, Tuan. Tapi saya rasa anda terlalu berlebihan," lirih Natasya yang tentunya hanya mampu didengar oleh Ernest.


"Natasya adalah sosok sekretaris hebat yang mampu mengimbangi jadwal kerja saya yang padat juga berbagai tuntutan yang selalu saya bebankan atas nama profesionalisme kerja."


Ruangan. Tamu yang semula memberi tepuk tangan kini kembali mendengarkan.


Di tempatnya Natasya masih tak percaya. Kenapa kenyataan yang ada seperti tak sesuai dengan ucapan panjang lebar Ernest di atas podium saat ini. Puja dan puji di sana sini. Ernest memuji akan kinerjanya dalam pekerjaannya beberapa bulan ini, sungguh sesuatu hal yang tak pernah pria itu ucapakan saat mereka sedang bekerja.


Satu sisi gadis itu sempat mengeluh, namun di sisi lain karna besarnya gaji yang didapat membuatnya harus berfikir berkali lipat untuk mundur. Dan mungkin, inilah hasilnya. Meski saat bekerja Ernest tak terang-terangan memuji cara kerjanya, namun di acara besar ini pria tersebut justru menjabarkannya pada seluruh tamu dan petinggi perusahaan.


Natasya terharu. Mendekap buket bunga pemberian Ernest dengan perasaan membuncah, ia pun lekas memandang pada jajaran kursi tamu untuk mencari keberadaan Ibunya.


Gadis itu mengernyit manakala tak mendapati sang Ibu di tempat duduknya semula dan dikursi mana pun di dalam gedung. Anastasya memang meminta izin untuk ke toilet, namun tidak mungkin jika akan memakan waktu selama ini.


Natasya menelan ludah. Ia cemas. Sepasang matanya mengedar ke seluruh penjuru ruangan namun tak menemukan sosok sang Ibu di mana pun.

__ADS_1


Di mana Ibu?.


"Kepada Nona Natasya di persilahkan untuk memberi sambutan."


Belum menghilang rasa cemas, Natasya dikejutkan dengan suara MC yang memintanya untuk memberi sambutan atau mengucapkan rasa terimakasihnya pada Atmadja Group dan juga Ernest.


Demi apa pun Natasya bingung hendak berkata apa. Dirinya sama sekali tak memiliki persiapan.


Ia menarik nafas berulang guna menetralisir kegugupan. Saat mengucap kata salam dan menyapa seluruh tamu, sambutan yang didapat sungguh diluar dugaan. Tepuk tangan riuh kembali memenuhi ruangan.


Penuh pertimbangan dan pemikiran Natasya mengucapkan setiap kata demi kata sesuai dengan susunan di kepalannya. Para tamu tersenyum dan saling berbisik. Mengaitkan gadis di atas podium sebagai kandidat menatu dari keluarga Atmadja setelah Isabel.


Sementara itu.


Anastasya terus berlari. Meski dengan sepatu hak yang menjadi alas kaki, Ibu dari Natasya itu terus mengambil langkah seribu untuk bisa keluar dari gedung Atmadja group.


Keringat yang mulai menetes dan rasa sakit di pergelangan kaki tak lagi di rasa. Selepas bisa menemukan jalan keluar dari pintu samping, ia pun lekas menuju area parkir dan memesan taksi lewat sebuah aplikasi.


Maaf, Ibu terpaksa meninggalkanmu, Nak. Demi tuhan, Ibu masih tidak sanggup untuk menampakkan diri di depan mereka lagi.


Saat sudah berada di dalam sebuah taksi, Anastasya lekas mengirim sebuah pesan untuk sang putri. Mengabarkan jika dirinya mendadak tak enak badan dan harus pulang lebih dulu.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2