CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Panas Dan Terbakar


__ADS_3

Sepasang mata elang itu menyipit, terfokus pada satu objek yang membuatnya berfikir dalam. Mengerjap dan lebih menajamkan lagi indra penglihatan saat selembar foto itu sudah berada di tangan. Selembar foto yang mengambarkan kebahagiaan dalam satu keluarga rupanya menyita perhatian Sam.


Seorang gadis berbaju toga tampak diapit pria dan wanita yang Sam yakini sebagai orang tua sang gadis. Meski gambar tersebut mungkin saja diambil beberapa tahun lalu namun Sam bisa mengenali jika gadis dalam foto tersebut adalah Sandara.


"Bukankah Nona Sandara pernah mengatakan jika tak memiliki orang tua, lalu siapa mereka?" Sam bermonolog. Fikirnya menerawang namun pandagan tetap tertuju pada selembar foto di tangan.


Dalam gambar tersebut tertera tangan bulan dan tahun saat foto tersebut diabadikan. Sam bergumam, rupannya foto tersebut di ambil beberapa tahun lalu mungkin saja saat Sandara dan Tuan mudanya sudah menjalin hubungan.


Sam tak mampu membendung rasa penasaran. Ia pun lantas membalik lembaran foto yang mana sontak membuat sepasang matanya melebar.


My Family.


Satu kalimat yang menerangkan jika dalam selembar foto itu mengambarkan satu keluarga yang sedang mengabadikan momen kelulusan Sandara pada saat Wisuda.


Satu kenyataan yang ada sungguh membuat Sam mengepalkan tangan. Berkesimpulan jika selama ini Sandara sudah membohongi seluruh keluarga besar Atmadja dengan mengaku tak memiliki sanak saudara dan inilah kebenarannya. Dia memiliki keluarga utuh yang bahagia. Terlihat dari seyum ketiganya yang sama sekali tak menyiratkan kesedihan.


"Apa yang harus kukatakan pada Tuan Arka? Lalu bagaimana dengan Tuan muda Ernest jika mengetahui kebenarannya?" Sam tak habis fikir. Jika memang Sandara memiliki orang tua, kenapa harus berbohong. Toh, meski mereka berasal dari keluarga biasa, tentu Ernest tak kan mempermasalahkannya.


Sam mengusap wajahnya kasar. Ia terduduk di sudut ranjang untuk menetralkan nafas. Foto itu masih di tangan dan sekali lagi pria itu ingin memperhatikan lebih seksama tentang kedua orang yang mengapit Sandara.


"Benarkah dia dari keluarga biasa?" Sam menimang, memperhatikan penampilan seorang perempuan yang mungkin adalam ibu dari Sandara.


Cantik dan modis. Mungkin dua kata yang patut disematkan pada perempuan dewasa itu. Wajah berpoles make up, rambut tertata rapi serta ditunjang pakaian dan beberapa perhiasan yang Sam taksir tak murah harganya.


Pandangan Sam kini beralih pada sosok pria berbalut jas formal dalam album foto. Pria yang cukup tampan fikir Sam. Tiba-tiba sepasang matanya menyipit, merasa pernah melihat pria difoto, tapi siapa?.

__ADS_1


"Sebentar," lirih Sam mengintrupsi diri sendiri.


"Siapa dia? Sepertinya aku pernah melihat dia, tapi di mana?".


Terdiam. Cukup lama Sam berfikir. Coba mengingat-ingat sosok pria yang sepertinya tak asing. Sepasang matanya bahkan sempat terpejam, hingga..


"Tidak, tidak mungkin." Sam ingat. Sam berhasil mengingatnya.


"Bukankah dia Sandy, pria brengsek yang pernah memiliki masalah dengan Tuan Arka dan Nona Zara bertahun-tahun lalu? Bukankah seharusnya dia masih terkurung di penjara, kenapa bisa keluar? Dan Nona Sandara, apakah dia memang putri dari Sandy?".


Sam kebingungan. Kenapa jadi serumit ini. Sandara mengaku tak memiliki keluarga dan dia menemukan satu bukti yang seakan menjurus jika Sandy, yang notabene adalah musuh bebuyutan Arka adalah Ayah dari gadis tersebut. Jadi apakah bukti-bukti yang Sam temukan ini saling berkaitan?.


Sam menetralkan deru nafas. Waktunya benar-benar tinggal sedikit untuk bisa menguak apa yang sebenarnya terjadi. Terencanakah atau memang mengalir begitu saja. Dua kemungkinan yang membuat Sam pusing tujuh keliling hanya dengan memikirkannya saja. Tugas kali ini teramat berat bagi Sam. Ia dituntut untuk bisa memecahkan masalah dengan batas waktu cukup singkat.


💗💗💗💗💗


Emely menatap takjup pada area halaman luas kediaman sang Kakak yang disulap sedemikian rupa. Tenda berwarna merah muda dengan campuran warna putih berada di tengah taman yang ditata begitu apik. Rupanya sepasang calon pengantin itu hanya akan melakukan prosesi akad nikah di hotel dan setelahnya menggelar resepsi di halaman rumah dengan mengundang orang terdekat saja.


Erich sengaja memilih tema Garden party untuk acara resepsi nanti. Halaman yang luas cukup mampu mewujudkan keinginan Isabel yang hanya menginginkan suasana pesta yang terkesan santai namun penuh kehangatan. Tak tanggung-tanggung, Erich bahkan meminta pihak WO untuk mendatangkan bunga dan berbagai tanaman asli agar nuansa segar dan asri benar-benar terasa. Tentu semua sebagai bentuk rasa cinta Erich pada sang pujaan hati. Pria itu pun sama sekali tak merasa direpotkan apa lagi terbebani. Bagi Erich, kini Isabel adalah hidup dan masa depannya. Ia akan mewujudkan apa pun keinginan sang gadis demi kebahagiaannya.


Sandara yang terus mengapit lengan Ernest juga menatap takjub. Mengelengkan kepala pelan saat memperkirakan berapa banyak uang yang Erich keluarkan hanya untuk dekorasi resepsi.


Arka dan Zara yang sudah berjalan lebih dulu kini sudah disambut oleh calon mempelai di depan pintu rumah utama. Isabel yang memang sudah pernah bertemu dengan Zara tak rikuh untuk mengakrabkan diri. Kedua perempuan itu saling menyapa dan berpelukan.


Sandara menatap kedua perempuan yang sudah terlihat akrab itu dengan pandangan sulit diartikan. Mungkin terbesit rasa iri saat melihat Zara memperlakukan Isabel begitu hangat, tak seperti saat bersamanya.

__ADS_1


"Silakan masuk." Isabel mempersilahkan keluarga calon suaminya itu untuk masuk ke dalam rumah.


Saat menatap Emely, Sandara langsung menjabat tangan. Mengerti jika gadis remaja itu adalah adik sangn kekasih, Isabel tak ragu mengusap puncak kepala Emely dibarengi dengan seulas senyum di bibir.


"Selamat datang."


Emely yang memiliki sifat manja nan ramah, membalas usapan tangan Isabel di kepalanya dengan sebuah ciuman di pipi yang mana membuat Isabel terbelalak.


"Selamat datang juga, kakak ipar." Emely tergelak diikuti pula oleh Isabel yang merasa terhibur dengan tingkah polah calon adik iparnya.


Pandangan Isabel kini tertuju pada seorang gadis yang masih asing baginya.


"Hai, perkenalkan. Aku Sandara," ucap Sandara seraya mengulurkan tangan. "Calon tunangan Ernest," sambung Sandara bernada pongah.


Sesaaat Isabel mengerjapkan mata, namun didetik berikutnya gadis itu menyambut uluran tangan gadis bernama Sandara tersebut dengan suka cita.


"Senang berkenalan denganmu, em aku Isabel."


Sandara mengangguk dan melepas jabatan tangan. Saat Isabel sibuk menyambut tamu lain, Sandara justru memperhatikan penampilan calon pengantin itu dari kepala hingga ujung kaki.


"Biasa saja," gumam Sandara seraya tersenyum sinis. Entah mengapa semenjak beberapa menit lalu melihat sosok Isabel dengan mata kepalanya , tubuhnya spontan bereaksi seakan memercikkan bara api yang sepertinya akan memicu peperangan dalam diri. Terlebih saat melihat Erich yang memperlakukan Isabel begitu mesra yang nyatanya mampu memantik bara api yang membuat sekujur tubuhnya panas dan terbakar.


Tbc.


Tetap tunggu next bab ya Kak.

__ADS_1


__ADS_2