CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Berlibur Part. 2


__ADS_3

Seperti istilah liburan pada umumnya, Natasya dibuat benar-benar menikmati. Bangun siang dan bermalas-malasan. Natasya selepas membersihkan diri saat ponsel miliknya bergetar, menandakan adanya pesan masuk.


Gadis itu bisa menebak jika pesan tersebut adalah kiriman dari Ernest atau Ibunya. Benar saja, begitu benda pipih tersebut diperiksa, nama sang atasan lah yang tertera.


Ayo, kita ke Vila untuk sarapan.


Sebaris pesan yang dituliskan Ernest untuk sekretaris pribadinya.


Natasya lebih dulu merapikan penampilan, tak lupa membawa serta dompet dan ponsel andai sewaktu-waktu dibutuhkan.


Ketika Natasya keluar dari penginapan, secara kebetulan Ernest dan Langit pun juga melakukan hal yang sama. Semua terlihat jelas sebab letak penginapan mereka yang berdampingan.


"Ayo," ajak Ernest pada Natasya. Ke tiganya pun melangkah menuju Vila yang ketaknya hanya beberapa puluh meter dari penginapan. Di Villa lah, koki mempersiapkan masakan baik untuk sarapan, makan siang dan juga malam.


Selain Ernest dan Natasya, rupanya karyawan lain pun sudah tampak menikmati sarapan. Mereka terus menyapa dan mempersilahkan sang atasan untuk sarapan. Seperti biasa Ernest akan duduk di ruangan yang terpisah bersama langit dan Natasya.


Dalam sebuah meja yang dikhususkan untuk keluarga Atmadja, sudah dipersiapkan beberapa menu sarapan ringan dan juga berat.


Natasya cukup terkejut saat Ernest membawanya untukikut bergabung bersama orang tuanya. Di sebuah meja panjang, dua orang pria dan satu wanita sudah duduk dan siap untuk menikmati menu sarapan yang disajikan pelayan.


"Ibu, Ayah, boleh kami bergabung?." Entah memang bertanya atau sekadar menggoda, Ernest setengah membungkuk menyapa orang tuanya dan meminta izin untuk ikut bergabung.


"Oh, tentu saja anak muda." Arka menjawab antusias. "Ernest, kau ini ada-ada saja," gumam Arka seraya menepuk bahu sang putra dan mempersilahkan ketiga anak muda tersebut untuk duduk.


"Oh, terimakasih Ayah." Ernest kembali membungkuk sebelum menjatuhkan bobot tubuh di salah satu kursi. Berbeda dengan Lagit yang tampak santai dan memilik duduk di samping Ernest, Natasya justru merasa canggung. Ia menoleh ke kiri dan kanan sebelum menduduki sebuah kursi yang letaknya berada di samping seorang pria, yang disebut Ernest sebagai paman.


"Ernest, bukankah gadis ini Sekretarimu?." Zara, Ibunda dari Ernest bertanya. Perempuan tersebut menatap lembut pada gadis yang terlihat rikuh dan malu-malu di tempatnya.


"Ya, Ibu. Dia Natasya, Sekretarisku." Ernest menjelaskan. Di saat bersamaan Natasya pun langsung menyapa orang tua Ernest dan juga paman yang berada di sampingnya.


"Selamat pagi Tuan Arka, Nyonya Arka," ucap Natasya seraya menundukkan kepala. "Dan selamat pagi, Tuan." Natasya kembali menyapa, kali ini pada sosok pria yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Pagi," jawab ke tiganya bersamaan.


"Wah Sekretarismu ini bukan hanya memiliki nama yang cantik tapi juga parasnya yang tak kalah cantik," puji Zara yang ditanggapi Natasya dengan senyuman malu-malu.


Arka tersenyum tipis, namun berbeda halnya dengan reaksi yang ditujukkan seseorang di samping Natasya.


Rangga, pria lajang diusianya yang lebih dari matang itu menunjukan wajah datar. Namun siapa yang tau jika sesuatu dalam dadanya seakan berdetak hebat.


Siapa dia, kenapa terlihat tidak lagi asing di mataku?.


💗💗💗💗💗


"Natasya, kau pernah naik Banana boat ?." Saat menatap hamparan laut, pertanyaan itu keluar begitu saja. Ernest dan Natasya sedang berjalan, menyusuri bibir pantai dengan berjalan kaki.


"Belum, Tuan." Ah, terakhir kali liburan saja Natasya sudah lupa kapan tepatnya. Ibunya sendiri seperti tak punya waktu. Natasya sendiri sadar, status sang Ibu sebagai single mom membuatnya harus bekerja lebih keras dibandingkan dengan perempuan bersuami.


Harta peninggalan mendiang Kenan memang masih banyak jumlahnya. Akan tetapi Natasya tak ingin hanya mengandalkan biaya hidup pada harta yang ada. Setidaknya ia pun ingin berusaha, agar perekonomian keluarga tetap bisa terjaga kestabilannya.


Eh, kenapa dia?. Naik Banana Boat, ah yang benar saja?.


"Tapi itu menakutkan, Tuan." Naik balon berjalan di atas air laut, hal tersebut terasa begitu menakutkan bagi Natasya yang tak pernah bermain-main di laut lepas sebelumnya.


"Bukan menakutkan, tapi itu seperti sebuah tantangan. Ya, tantangan dalam melawan ketakutan. Seperti untuk mereka yang belum pernah merasakan, pasti menjadi sebuah momok yang menakutkan. Akan tetapi jika kita berani mencoba dan menikmati. Aku yakin, kau pun pasti akan ketagihan." Ernest tergelak. Dua insan tersebut kembali melanjutkan langkah. Kaki polos mereka menjejaki pasir putih yang berair.


"Entahlah, Tuan. Hanya dengan membayangkan saja sudah membuat saya takut."


Ernest tersenyum simpul. Tak jauh dari mereka berjalan, terlihat beberapa jetsky yang terparkir. Wah, Natasya menatap takjub. Rupanya pulau milik keluarga Atmadja memiliki fasilitas lengkap. Bukan hanya penginapan dan urusan makanan, tapi untuk sarana olah raga dan permainan pun tersedia.


"Jika tidak ingin bermain, kau bisa menungguku di sini. Duduk dan pelayan akan mengantar kelapa muda untukmu." Natasya tentu tak bisa menolak. Terlebih kursi lipat dan pelindung tubuh dari terik mentari sudah tersaji di hadapan mata. Belum lagi dengan datangnya dua buah kelapa muda yang semakin memanjakan hidupnya dalam suasana liburan saat ini.


Nikmat mana yang kau dustakan.

__ADS_1


Natasya duduk dan menyandarkan punggungnya di ats kursi lipat. Angin pantai yang bertiup, mampu menerbangkan rambut panjangnya yang tergerai semakin meliuk indah seperti gerakan seorang penari.


Natasya duduk bersantai di atas pasir putih, sembari menikmati kelapa muda segar dan panorama pantai yang semakin memanjakan indra penglihatan. Lengkung tipis milik Natasya mengukir sebuah senyuman, mana kala di bibir pantai sana seorang Ernest dengan gagahnya menunggangi sebuah jetsky dan mulai mulai melaju dilautan lepas.


Ernest yang sengaja melepas atasan, nyaris membuat Natasya mengakihkan.pandangan. Otot perut yang terbentuk sempurna, tak sengaja tertangkap indra penglihatan Natasya dan membuat gadis itu malu sendiri.


Apa apaaan ini? Tapi kenapa dia seeksi begitu sih, eh.


Natasya berdesis. Menghela nafas dalam dan cepat-cepat menundukkan pandangan. Sengaja ia mengalihkan diri dengan menunduk dan meminum kelapa muda pemberian pelayan sampai tandas.


"Natasya," panggil seseorang dan Natasya sudah sangat familiar dengan wajah pemilik suara ini.


Haduh kenapa dia ke sini.


Natasya memejamkan mata dan merutuki diri. Sebisa mungkin ia berpura-pura tuli. Berharap jika Ernest tidak akan memanggil apa lagi mendekatinya.


"Natasya."


Haduh, mampus aku.


"Heh, kau ini kenapa?. Buka matamu, aku ini sedang bicara padamu tapi kenapa matamu terpejam seperti itu?."


Gadis yang disebut, menelan ludah. Ia masih takut untuk membuka mata, tapi bagaimana jika sang Tuan marah karna merasa diabaikan.


"Nat---"


"Ya, Tuan," jawab Natasya dengan sepasang mata dibuka lebar. Gadis itu terkesiap, bukan terkesiap karna otot perut Ernest yang terbuka. Akan tetapi....


Huh dia sudah pakai baju rupanya. Tadi aku fikir..


Natasya tertunduk dengan mengulum senyum. Sementara Ernest mengernyit, merasa bingung dengan ekspresi wajah yang ditunjukan oleh bawahannya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2