CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Firasat


__ADS_3

Kemeriahan pesta pernikahan salah satu putri konglomerat yang digelar disalah satu hotel berbintang terlihat begitu meriah dan memukau. Ruangan acara disulap semegah mungkin layaknya istana kerajaan sesuai dengan keinginan sang kedua mempelai sekaligus penunjuk identitas status sosial sang penyelenggara acara.


Dikalangan konglomerat, cukup wajar jika menggelar acara mewah dengan merogoh kocek dalam hanya demi sebuah kata 'gengsi'. Tak jarang banyak dari kalangan mereka saling berlomba menunjukan status sosial dan kedudukan pada khalayak ramai dengan begitu bangganya, meski tanpa sadar jika terkadang harta yang mereka dapat hanya dari hasil korupsi dan memeras keringat orang lain.


Tawa riuh masih terdengar dari beberapa tamu undangan. Mereka menyantap hidangan atau pun saling menyapa para tamu undangan lainnya. Tak ada yang terlihat sedih, mereka gembira dan menikmati pesta yang digelar begitu meriah oleh sang pemilik acara.


Disebuah meja yang diisi oleh empat insan, Arum tampak tak seceria para tamu undangan lain. Meski wajahnya terpoles make up cukup tebal, namun rupanya tak mampu menyimpan raut kecemasan yang tergambar cukup nyata di wajahnya.


"Bu, kau kenapa?" Lara yang duduk di samping Steven melempar tanya. Cukup aneh mendapati wajah kurang bersemangat sang ibu ditengah kemeriahan pesta seperti ini.


"Em, tidak. Ibu hanya merasa sedikit lelah." Arum tersenyum tipis, melirik sekilas pada sang putri dan kekasihnya, juga ayah dari Steven yang kini duduk di sampingnya.


"Kau sakit?" Ayah Steven mencondongkan wajahnya untuk bisa melihat wajah Arum lebih dekat guna memastikan. Mungkin pria paruh baya itu pun khawatir.


"Ah tidak, santai saja." Arum kini tersenyum sedikit lebar. Memang dirinya tak apa-apa, hanya saja saat ini ia tak begitu menikmati pesta seperti biasanya.


Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa perasaanku tak enak begini?


Arum menghela nafas dalam. Suasana hatinya tak nyaman. Ia pun mendadak ingin pulang. Namun tak mungkin ia meninggalkan pesta yang masih separuh acara ini.


Lara yang menyadari perubahan wajah sang ibu, tiba-tiba mendekat dan membisikan kalimat di telinga perempuan paruh baya itu.


"Ibu, katakan. Ada apa sebenarnya?"


Arum menggeleng samar. Ia bahkan kebingungan untuk menjawab pertanyaan sang putri.


"Atau ibu sakit?" Lara kembali bertanya.


"Tidak, perasaan ibu mendadak tidak enak. Sepertinya kita pulang saja. Ibu ingin beristirahat di rumah."


Lara menautkan alisnya tanda tak percaya. Mana mungkin mereka pulang lebih awal dari para undangan lain. Lagi pula apa salahnya menikmati pesta yang begitu megah ini. Bukan hanya mata yang manjakan, tetapi perut juga.


"Ibu, jangan mengada-ada. Aku masih ingin di sini. Menikmati pesta bersama tunanganku. Bukan begitu sayang." Lara melirik kearah steven, meminta persetujuan, sedangkan pria itu hanya mengulas senyum sebagai jawaban.


Arum menghela nafas. Sial, begitu fikirnya. Ia sudah merasa bosan dan benar-benar ingin meninggalkan gedung, namun tidak mungkin pula jika ia harus pulang seorang diri tanpa sang putri yang tadi datang bersamanya.

__ADS_1


Arum tersentak saat kedua tangannya yang berada di atas meja, tiba-tiba digengam oleh tangan seseorang.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Nikmatilah pestanya bersamaku." Ayah Steven yang memang duduk di samping Arum, berusaha menenangkan kekasih gelapnya itu. Ia menggengam dan mengusap tangan wanita paruh baya itu lembut, seolah mengatakan jika semua akan berjalan sebagaimana mestinya.


💗💗💗💗💗


"Apa-apaan ini?!" Arum baru saja turun dari kendaraan mewah dan bahkan baru saja memasuki gerbang utama namun sepasang matanya sudah disuguhi pemandangan yang membuatnya teramat murka.


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" Sopir yang mengantar dua perempuan itu pun kebingungan. Ia lekas mengguncang tubuh beberapa penjaga yang justru terlelap di pos pintu gerbang.


"Bodoh! Bangunkan mereka. Dasar pemalas, kenapa justru tidur disaat bekerja seperti ini." Arum terus berteriak. Tak perduli pada gaun mahal panjangnya yang sudah kotor sebab terinjak sepatunya sendiri. Sopir yang mengantarnya pun tetap mengguncang tubuh para pengawal yang sepertinya terlelap begitu dalam. Tetapi anehnya, kenapa bukan salah satu dari mereka yang tertidur, tetapi semua.


Aneh.


Arum terus saja mengupat sementara Lara tetap santai di dalam kursi mobil sembari memainkan ponsel pintarnya.


"Dasar anak sialan, bisa-bisanya dia berlagak santai seperti itu," gumam Arum seraya menatap jengah sang putri.


"Tunggu sebentar. Bukankah ini aneh?" Arum memindai pandangan kesegala penjuru. Mencari-cari para pelayan yang biasanya berkeliaran disekeliling rumahnya. Tapi malam ini kenapa berbeda.


Apa semua pelayan sudah tidur hingga tak ada satu pun yang terlihat. Atau jangan-jangan...


Tidak, tidak mungkin pradugaku benar-benar terjadi.


Kuda besi sudah memasuki garasi. Arum bergegas membuka pintu mobil dan berlari masuki rumah. Lara sendiri yang masih belum sadar akan situasi, hanya menatap aneh pada prilaku ibunya malam ini.


"Lebay," gumam Lara Kemudian gadis itu turun dari kuda besi dengan anggun tetunya selepas pintu mobil lebih dulu dibukakan oleh sang sopir.


"Tidak!" Teriakan Arum bergema. Lara yang baru saja memasuki rumah dibuat terkejut luar biasa.


"Ck, dasar lebay. Drama apalagi yang akan ibuku buat malam ini?" Lara cukup jengah. Tubuhnya sudah lelah setelah berpesta, hingga sepertinya tak ada waktu lagi untuk ikut dalam drama yang kerap dirancang oleh ibunya.


"Tidak!!" Lagi-lagi suara Arum begitu memekkakan telinga.


"Ibu! Tidak perlu berteriak. Ini sudah malam. Tidurlah."

__ADS_1


Arum yang muncul dari arah dapur itu memasang wajah menyeramkan. Tak ada senyum yang terulas, yang ada hanya tatapan tajam dan mengerikan.


"Apa, kau menyuruh ibu tidur?"


Tak merasa bersalah Lara justru mengangguk.


"Bodoh!" Tanpa babibu Arum berlari kearah kamar yang selama ini menjadi tempat beristirahat Praja. Ia sudah tak memperdulikan langkahnya yang terseok oleh sepatu hak tinggi yang ia gunakan pada kedua kakinya. Baginya kini tempat tidur Praja menjadi tujuannya.


"Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Tidak!!" Arum berteriak. Wajahnya begitu syok.


"Tidak!!" Arum menangkupkan kedua tangannya diwajah. Menekan wajahnya cukup keras guna memastikan jika apa yang terjadi bukanlah sekedar ilusi.


"Ibu, ada apa?!" Lara menyusul sang ibu ke dalam kamar praja namun gadis itu belum menyadari jika kamar ayah tirinya itu dalam keadaan kosong.


"Me-mereka sudah pergi. Ya, mereka sudah pergi. Mereka pergi," teriak Arum histeris. Ia dekati ranjang praja dan menghancurkan semua barang yang ada.


Lara yang semula tak faham, kini mulai tersadar dan terperanggah.


"Apa, pria lumpuh itu sudah pergi? Lalu.." Lara berlari menuju ruangan lain. Ya, kamar Isabel-lah yang menjadi tujuannya.


Pintu itu tak terkunci, Lara cepat membuka dan memeriksa ke dalam. Benar, gadis itu tak ada. Lara kemudian memeriksa seluruh barang juga pakaian saudara tirinya, tetapi semuanya terlihat utuh dan lipatannya pun masih rapi. Jadi benarka jika gadis itu sudah pergi?


"Ibu, tetapi pakaian Isabel masih utuh begitu pun dengan barang lainnya. Mungkin dia hanya sedang keluar sebentar." Lara berseru selepas kembali menemui sang ibu yang penampilannya sudah berantakan.


"Bodoh. Kau fikir Gadis itu bisa membawa praja kemana tanpa bantuan siapa pun. Aku yakin jika mereka sudah merencanakan semuanya untuk bisa kabur." Kemarahan Arum kini menjadi isak tangis. Entah apa yang dirasakan perempuan paruh baya itu. Mungkin saja ia takut setelah tawanannya berhasil kabur, ataukah kehilangan sebab pria yang dulu pernah ia cintai kini tlah pergi.


Para pengawal dan pelayan berkumpul mendekat. Raut ketakutan jelas tergambar diwajah lelah mereka.


"Maaf nyonya, menurut para pekerja mereka tertidur selepas mengonsumsi makanan yang disajikan oleh bi Ratih. Dan sekarang, Bi Ratih masih belum ditemukan."


"Bodoh!"


Tubuh seluruh pekerja bergetar. Wajah mereka pias dengan kepala tertunduk dalam.


Arum sendiri sudah memastikan dengan berkeliling keseluruh ruangan dan jawaban yang didapat Sama. Praja dan Isabel tak ada, namun tak menyangka jika Ratih pun ikut menghilang. Tidak salah lagi, mereka pasti sudah menyusun rencana begitu matang. Hingga kepergiannya saat ini benar-benar tak terendus insting tajamnya.

__ADS_1


Luar biasa kalian.


Bersambung guys😘


__ADS_2