CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Malu Tapi Mau


__ADS_3

Isabel menatap haru gerbang tinggi menjulang yang berdiri kokoh mengelilingi kediamannya dari dalam kuda besi yang dikemudikan supir pribadi Erich. Tak ada yang berubah dari terakhir kali bagunan itu ia tinggalkan.


"Seperti rencana awal, kita datang, berbicara baik-baik dengan mengutarakan maksud dan tujuan. Jika mereka menolak maka tidak ada cara lain, ambil paksa apa yang sudah menjadi hakmu darinya. Jika mereka menolak dengan mengunakan kekerasan, maka kita pun akan melakukan hal yang sama. Mereka jual, kita beli. Jangan sudi ditindas. Jika dulu kau terinjak, maka kini kaulah yang balas menginjak. Buktikan pada mereka jika kau kuat, Isabel. Ingat! Apa pun yang terjadi, aku akan berdiri di sampingmu." Satu tangan Erich terangkat, mengusap bahu Isabel lembut, memberi kekuatan pada gadis yang kini duduk di kursi penumpang, tepat di sisi kanan tubuhnya.


Isabel mengangguk lantas tersenyum tipis pada Erich.


"Terimakasih," ucap Isabel tulus. Jika bukan karna semangat dari Erich, tentunya ia tak seyakin ini untuk bisa menghantarkan tubuhnya kembali ke rumah ini.


Erich memberi perintah pada sang supir untuk lebih mendekati gerbang. Sebagai pertanda jika mereka memang datang untuk bertamu.


Beberapa pria berbadan tegap lebih dulu menghadang. Mengintrogasi sebelum akhirnya pintu gerbang terbuka.


Supir pribadi Erich membukakan pintu untuk keduanya selepas kuda besi yang mereka naiki berada di pelataran kediaman Praja. Isabel masih terdiam, termangu hingga tepukan di bahu menyadarkannya.


"Ayo, turunlah," titah Erich. "Jangan takut, aku ada bersamamu."


Gadis itu mengangguk pelan dan mulai mengeser tubuh untuk menuruni kuda besi.


Seorang pelayan membuka pintu dan menyambut keduanya. Begitu Erich dan Isabel mendekat, pelayan perempuan itu terkesiap. Cepat-cepat menundukan kepala lagi saat bersitatap dengan Isabel.


"Bi, apa Ibu Arum di rumah?"


"Ti-tidak ada, nona. Tetapi Nona Larasati sedang di rumah. Mari masuk." Pelayan itu membuka pintu lebar. Mempersilahkan pada kedua tamunya untuk masuk.


Dada Isabel terasa sesak ketika mulai memasuki pintu rumah yang begitu banyak menyimpan kenangan tentang kehidupannya. Rumah di mana ia dilahirkan dan dibesarkan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuannya.


Isabel mendaratkan tubuhnya di sofa dan tanpa gadis itu duga, Erich pun memilih tempat yang sama hingga keduanya duduk bersama dan hanya terjeda beberapa senti saja ruang kosong di antara keduanya.


Gadis itu sempat terkejut namun tidak bagi Erich yang sepertinya sengaja melakukan hal tersebut.

__ADS_1


Pelayan perempuan itu undur diri dan beberapa menit kemudian Sosok Larasati datang dengan penampilan menggoda seperti biasa. Tank top warna putih dipadu hot pants warna senada hanya menutupi sebagian tubuh sang gadis yang kini dengan penuh percaya diri melangkah mendekati sofa.


"Waw, ada tamu penting rupanya." Larasati duduk tepat di sofa yang letak tepat di depan Erich. Satu kaki gadis itu menopang satu kaki lainnya, yang mana paha mulus Larasati terlihat dengan jelas. Mungkin gadis itu sengaja ingin mengoda Erich, namun bukannya senang hal tak terduga justru dilakukan Erich yang spontan menghela nafas dan membuang pandangan ke lain arah.


"Aku datang untuk membicarakan hal yang penting dengan Ibu Arum." Tak ingin berbasa basi, Isabel lekas mengatakan apa tujuannya datang kerumah ini. Larasati sendiri sepertinya tak fokus pada kehadiran Isabel, gadis itu justru tertarik pada sosok yang saat ini duduk di samping saudara tirinya nyaris tanpa jeda.


"Siapa dia?" Bukannya menunjuk namun gerakan mata Lara yang seolah bertanya tentang siapa pria di hadapannya pada Isabel.


Isabel mengernyit, serasa enggan untuk menjawab.


"Dia temanmu atau justru kekasihmu?" Larasati menatap Erich lekat. Bibir bawah gadis itu sesekali ia gigit berniat untuk menggoda sang pria tampan yang bergeming di depannya.


Isabel menghela nafas berat. Jengah sekaligus geram pada tingkah polah saudara tirinya.


Eh, tapi kemana Steven, kenapa dia tak terlihat? Bukankah jika ada lara di situ pula ada Steven?


"Aku heran, Kenapa pria yang ada di dekatmu selalu menjadi tipe idealku. Membuatku Ingin bahkan terobsesi untuk merebutnya darimu." Selepas berucap Larasati justru tergelak. Seakan seperti lelucon baginya, gadis dengan rambut terburai indah itu masih dengan percaya dirinya tergelak tanpa sadar jika sepasang mata Erich sudah menatapnya begitu tajam.


"Ada apa ini?"


Semua mata tertuju pada sosok pemilik suara yang baru saja memasuki pintu rumah utama.


"Isabel, untuk apa kau datang kemari?" Wajah tak bersahabat Arum begitu ketara saat mendapati sang putri tiri kembali muncul di hadapan mata. Selepas tertangkapnya Widodo, Arum dibuat ketakutan andai dirinya pun ikut dilibatkan dalam kasus penusukan beberapa hari lalu.


"Maaf nyonya Arum, bukankah lebih baik jika anda duduk terlebih dahulu sebelum kami menjelaskan maksud dan tujuan datang ke rumah ANDA ini." Erich sengaja menekan kata 'anda' setidaknya untuk mdnyadarkan Arum jika rumah yang mereka tinggali ini sejujurnya masih menjadi hak atas Isabel.


Arum menelan ludah. Wajahnya mulai pisah dan panik, namun sebisa mungkin ia terlihat tenang sebab sadar jika pria yang saat ini menjadi tameng untuk Isabel bukanlah pria biasa.


Begitu tenang dan tegas Erich mulai memaparkan secara detail apa yang menjadi tujuan keduanya datang. Tentu untuk meminta baik-baik apa yang menjadi hak Isabel atas perintah Praja. Jelas Arum tak terima begitu saja. Amarahnya berkobar. Sepasang matanya memerah namun sebisa mungkin tak gegabah untuk langsung menghajar Isabel mengingat ada orang lain di antara merek saat ini.

__ADS_1


"Rupanya kau tak sepolos yang ku kira, Isabel," cibir Larasati turut serta membela sang ibu. "Kau tak jauh beda dari kami, bahkan sepertinya lebih dari kami. Licik namun berpura-pura polos," sambung Lara lagi dengan bibir menyerigai seolah mengejek.


"Lara, apa maksudmu? Aku hanya ingin mengambil apa yang memang menjadi hakku. Apa itu salah?"


"Tentu. Sebagai istri dari Praja aku pun berhak atas harta dan segala aset yang suamiku itu miliki. Dan sayangnya aku keberatan untuk bisa berbagi harta itu denganmu," sarkas Arum. Perempuan itu tak terima saat Isabel mengatakan jika rumah yang mereka tempati dan beberapa aset berharga, seharusnya menjadi hak Isabel. Arum geram, luar biasa geram dan tak bisa menyetujui begitu saja keinginan putri tirinya itu.


"Apa nyonya sadar dengan apa yang nyonya katakan?" Erich menyela.


"Tentu saja. Kami sama-sama berhak atas harta Praja, lagi pula aku pun masih menjadi istrinya." Arum masih tak mengalah. Keu keuh pada pendiriannya.


"Tapi Isabel tentu lebih berhak dari pada anda." Erich tak mampu lagi bersabar. Pria itu mulai geram.


"Apa perduliku."


"Tentu anda perduli sebab jika nyonya berniat memperumit keadaan maka saya tak agan segan membawa kasus ini ke meja hijau. Bukan hanya kasus ini tetapi ada kasus lain yang siap mengantarkan anda pada dinginnya ruang tahanan. Saya harap anda bisa berfikir dengan jernih dan tak gegabah menentukan keputusan. Sedikit saja salah melangkah, maka saya pastikan nyonya beserta putri kesayangan nyonya, akan membusuk di penjara. Permisi." Tak ada gunanya lagi berdebat. Seperti rencana awal, jika mereka menolak dengan cara halus maka cara kasar pun dimainkan. Kali ini Erich hanya memperingatkan, namun jika Arum masih abai dan berpura-pura santai, maka mau tak mau dirinya sendiri yang akan membuat kedua wanita itu keluar dari rumah Isabel tanpa membawa apa pun.


Isabel hanya pasrah saat tangan besar itu membawa tubuhnya menjauh dari hadapan Arum dan Lara. Gadis itu masih terhenyak atas segala kata-kata yang keluar begitu tegas dari seorang Erich yang notabene bukan siapa-siapa baginya. Bahkan saat kuda besi yang membawa mereka sudah memecah jalanan padat, gadis itu masih saja terdiam.


"Kau masih takut?" Pertanyaan bernada lembut serta gengaman hangat tangan pria itu seakan menyadarkan Isabel. Sumpah demi apa pun gadis itu tak pernah merasakan setenang ini.


"Terimakasih," ucap Isabel lirih seraya menatap sepasang mata elang Erich begitu lekat.


"Hemm?" Pria itu menautkan sepasang alis, bingung dengan maksud ucapan gadis di sampingnya.


"Terimakasih karna sudah berdiri di depanku, menjadi tameng sekaligus penyemangat untukku. Saya tidak pernah merasakan setenang ini, sebelum bertemu dengan anda. Terimakasih."


Tanpa dinyana, sudut bibir Erich berkedut. Dadanya berdebar kencang, serta kebahagiaan yang meluap dari dalam dirinya. Wajah pria itu masih terlihat tenang meski dalam tubuhnya tengah berpesta pora merayakan kemenangan. Ingin rasanya Erich menjerit, namun sebisa mungkin ditahan. Sebab sebagai pria yang dikenal dingin dan penuh wibawa, Erich harus bisa menjaga harga diri supaya tak tertangkap mata tengah cengengesan di depan khalayak ramau terlebih ada supir pribadinya yang sepertinya bisa mendengar dengan jelas obrolan dirinya dan Isabel dari kursi kemudi.


"Aku hanya berniat membantumu. Jangan berterimakasih sekarang. Kedepannya, tugas kita akan lebih berat. Tetapi yakinlah, jika kita berada pada pisisi yang benar, mudah-mudahan kita akan menang." Erich bahkan nyaris menjerit saat Isabel balas mengengam tangannya. Sekujur tubuhnya serasa panas, bak terbakar api asmara.

__ADS_1


Tak ada lagi yang bicara. Keduanya justru saling diam dengan tangan masih bertautan. Erich dan Isabel saling memalingkan wajah namun tak ingin melepas pertautan tangan. Keduanya sama-sama malu. Tapi mau untuk tetap mengengam tangan.


Tbc.


__ADS_2