CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Rangga Dan Anastasya


__ADS_3

Seperti terlempar ke kehidupan dua puluh tahunan lalu, Rangga yang duduk tepat berhadapan dengan Anastasya sampai tak mampu berkata-kata. Keheningan menyelimuti, bukan hanya dirinya yang tak mampu untuk sekadar memulai pembicaraan namun Anastasya pun sama.


Berada di ruangan VIP, nyatanya Ernest meninggalkan Rangga hanya berdua dengan Anastasya. Semula Anastasya dengan tegas menolak namun selepas Natasya memohon berkali-kali, dengan berat hati perempuan itu menerima atau lebih tepatnya tak kuasa menolak.


Debaran dada, bertalun tak terkira. Baik Rangga atau pun Anastasga seperti berada pada masa muda silam, di saat keduanya masih berpacaran namun ditentang oleh salah satu pihak keluarga. Pergi sakit namun bertahan pun sulit.


"Anastasya, senang sekali bisa melihatmu secara dekat seperti ini." Rangga memberanikan diri menatap wajah Anastasya lekat. Ah, wajah ini, wajah cantik yang selalu membuatnya rindu setiap hari. Wajah perempuan yang ia cinta yang tak lekang digerus masa.


"Tuan, saya pun senang bisa bertemu dengan anda, tetapi saya kecewa saat anda memilih bertemu dengan cara seperti ini. Saya sudah tak lagi muda, dan kita hanya berada di ruangan ini, berdua. Rasanya sungguh tidak pantas." Natasya duduk dengan perasaan tidak tenang. Ia heran, kenapa putrinya sepertinya mengetahui tentang hubungannya dengan Rangga di masa lalu, hingga memaksanya untuk mau berbicara dengan pria itu, dan hanya berdua seperti ini?.


Kau ini apa-apaan, Natasya.


Anastasya tentu geram, menyayangkan sikap sang putri yang tak penuh pertimbangan seperti ini.


"Mau bagaimana lagi, selama ini aku sama sekali tak diberi waktu oleh untuk sekedar berbicara atau pun bertanya kabar. Ya, mungkin kau sudah melupakanku, tak mengenaliku setelah kehidupan baru yang kau jalani. Tapi bagaimana denganku, bagaimana dengan diriku yang tak pernah bisa melupakanmu meski sekeras apa pun aku berusaha?." Biarlah, Rangga ingin membuka semuanya. Tentang dirinya yang tak bisa melupakan cinta pertamanya.


"Bukankah sama denganku, Tuan pasti menemukan kehidupan yang bahagia selepas berpisah dengan diriku, sesuai keinginan orang tua anda." Kata-kata telak yang kembali mengingatkan Rangga pada kata-kata kasar yang diucapkan Ibunya pada Anastasya dulu.


"Kau salah, Anastasya. Sampai saat ini aku masih belum menikah. Aku melajang diusiaku yang tak lagi muda." Pedih. Bukan hanya Rangga yang merasakan pedihnya hidup disaat tak mampu berpaling dari cinta masa lalu, keluarga dekat, sampai Ibunya pun memilih angkat tangan. Pasrah jika sampai menutup usia pun Rangga tetap tak ingin menikah.


Anastasya terkesiap. Ia menelan ludah dan membuang pandangan ke arah lain.


"Kenapa, kau terkejut?."


Anastasya diam, hanya pandangan matanya saja yang bergerak.

__ADS_1


"Aku dengar suamimu atau Ayah dari putrimu sudah meninggal."


Anastasya menyipitkan pandangan ke arah sang lawan bicara. Cukup terkejut dengan pertanyaan Rangga yang terasa mengusik indra pendengaran.


"Dari mana anda bisa tau, atau selama ini anda memang memata-matai kehidupan saya dan Natasya?." Anastasya menatap berang sang lawan bicara, sementara yang ditatap hanya bisa meneguk ludah. "Benar begitu, Tuan Rangga yang terhormat?."


Rangga menghela nafas dalam, ditatapnya lembut wajah Anastasya yang beberapa saat lalu sempat meninggikan suara padanya. Ya, wajar jika perempuan tersebut terlihat tidak suka.


"Ya, Kau benar. Maaf jika beberapa waktu lalu aku sempat meminta bantuan seseorang untuk mencari tau tentang kehidupanmu."


Lancang.


Anastasya memaki dalam hati, dan untuk apa pula pria itu sampai membayar orang untuk memata-matai hidupnya?.


Anastasya tersenyum mirip, cukup menyayangkan sikap Rangga yang menurutnya kelewatan.


Rangga yang semula sempat mengaku salah, mulai tersulut akibat pertanyaan yang dilemparkan Anastasya padanya.


"Jika kau tanya apa untungnya, tentu saja tidak ada, Anastasya. Akan tetapi aku rasa senang sekaligus lega, begitu mendengar hidup orang yang aku khawatirkan selama ini baik-baik saja. Kau memang selama ini tak tau tentangku juga tak bisa merasakan perasaanku. Kau boleh berfikir jika aku aneh, terlalu mengkhawatirkan atau pun terlalu perduli pada dirimu sedangkan diantara kita tak ada lagi hubungan, tetapi perlu kau ketahui, Anastasya. Dengan cara seperti inilah aku menebus segala kesalahku di masa lalu. Kesalahan yang pada akhirnya membawamu jauh dariku." Mungkin untuk saat ini menyesal pun percuma. Waktu yang keduanya lewati sudah terlampau lama. Rangga masih mengingat akan kesalahannya di masa lalu. Ketidakberdayaan untuk menolak permintaan orang tua, hingga memilih meninggalkan Anastasya.


"Ya, aku tau. Setelah menghilang kau menikah dengan pria lain, membentuk sebuah keluarga sampai mempunyai buah hati. Hidupmu bahagia, Anastasya. Kau punya segalanya. Suami, anak dan harta, kau memilikinya, tapi bagaimana dengan aku?." Rangga tertawa miris. Menertawakan nasib yang seolah mengejeknya. "Lebih dua puluh tahun berlalu nyatanya pusat hati ini tetaplah sama. Aku terkurung dalam perasaanku sendiri. Teguh menyimpan rasa untuk satu wanita yang sayangnya justru tak dirasakan wanita itu sendiri. Hatiku sakit, luar biasa sakit. Saat orang lain seusiaku sudah memiliki istri, buah hati, bahkan cucu, tetapi tidak dengan diriku yang bertahan menyendiri meski kesepian menyelimuti."


Kesepian. Itulah yang selama ini Rangga rasakan. Tak ada teman berbagi, berbicara atau pun bertukar pendapat. Hidupnya terlalu monoton, sampai ia sendiri lupa kapan terakhir kali merasakan bahagia.


Tiba-tiba Rangga tergelak. Teruntuk malam ini ia tak ingin menutup-nutupi. Biarlah Anastasya tau semua. Hal yang selama ini ia tutup rapat dan diketahui dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kau mungkin ingin tertawa, menertawakan kebodohanku yang tak bisa move on darimu. Ya, memang aku akui, aku tak bisa melupakanmu, dan sampai detik ini perasaan cintaku padamu tak pernah berubah."


Anastasya kembali menelan salivanya susah payah. Hembusan nafasnya pun terdengar memburu. Bagaimana ini, Anastasya sudah tak tahan dan ingin segera menghilang dari hadapan Rangga.


"Tuan, ketahuilah. Saya sudah mempunyai seorang putri dan saya pun masih sangat mencintai mendiang Mas Kenan meskipun sudah tiada."


Hati Rangga serasa teriris perih atas ucapan Anastasya.


"Aku tak perduli, aku juga tidak berdosa jika mendekatimu mengingat statusmu kini tak bersuami." Anastasya membuang nafas kasar. Ia seperti lelah menjelaskan dan pada akhirnya berujung perdebatan.


"Ingatlah, Tuan. Saat ini kondisinya berbeda."


"Ya, aku tau. Apa kau ingin menjelaskan tentang hidupmu, atau putrimu yang sudah mulai dewasa?. Apa yang kau lihat tadi belum cukup menjawab pertanyaanmu?. Natasya bahkan meminta, memohon padamu supaya mau berbicara denganku?. Anastasya, pasti putrimu sudah mengetahui tentang hubungan kita di masa lalu. Aku yakin, jika dia tak tau apa-apa, mana mungkin Natasya mengizinkanmu untuk berbicara denganku seperti ini?."


Hanya helaan nafas yang terdengar dari keduanya. Entahlah, rupanya mereka sepemikiran. Pasti Natasya sudah tau sesuatu tetapi memilih untuk diam.


"Ayolah, Anastasya. Aku harap kita bisa memperbaiki hubungan dan kembali bersama seperti dulu." Rangga memohon. Tangan Anastasya yang bertumpu di atas meja lekas ia raih dan digengam. Tak ada penolakan, perempuan itu tak berniat melepaskan dan hanya membiarkan. Mungkin Anastasya lelah berontak.


"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku juga butuh waktu. Banyak yang harus kufikirkan aebelum mengambil keputusan." Anastasya tak mampu berdusta. Ia akui, rasa cintanya pada Rangga masih ada meski berulang kali sempat dihempaskan bebas oleh kenyataan.


"Tidak masalah, sampai kapan pun aku masih setia menunggu. Satu tahun, lima tahun, bahkan dua puluh tahun lagi kau baru memberi jawaban, aku akan setia menunggu."


Oh, perasaan apa ini?. Anastasya tertunduk. Tangan keduanya masih berpaut di atas meja. Jika Rangga menatap penuh cinta pada sang wanita, berbeda halnya dengan sang wanita yang lebih banyak menunduk. Entahlah, diusianya yang tak lagi muda, Anastasya merasa malu bila harus dilibatkan lagi dalam urusan cinta.


"Tasya," panggil Rangga yang sontak membuat sang wanita yang semula menunduk, mengangkat wajah. "Kau masih sangat cantik, seperti saat pertama kali kita berjumpa," puji Rangga kemudian yang mau tak mau membuat wajah Anastasya merona merah, tersipu malu.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2