
Rasa lelah bercampur letih mengiring langkah kaki Erich yang baru saja menuruni kuda besinya yang kini sudah berada di garasi kediaman pribadinya.Tak seorang diri, Erich bersama seorang sopir yang selalu mengantarnya pergi kemana pun.
Malam mulai merangkak. Seorang pelayan datang menyambut. Mengambil alih tas kerja dan juga jas dari tangan Erich.
"Makan malam sudah siap, tuan."
"Ya, aku akan mandi lebih dulu."
"Baik." Tanpa dimita pelayan tersebut mengikuti langkah Erich menuju kamarnya. Menuju ke kamar mandi dan mempersiapkan air hangat untuk mandi sang tuan.
"Air hangat sudah siap tuan. Apakah ada yang tuan perlukan lagi." Pelayan bernama Inah itu masih berdiri, menunggu perintah selanjutnya sang tuan.
"Tidak, terimakasih. Setelah ini, aku akan ke bawah untuk makan malam."
" Baik tuan." Membungkukan badan dan berlalu pergi sebelum menutup kembali pintu kamar tuannya.
Erich pun mulai melepaskan satu persatu kain yang menutup tubuh kekarnya dan memasukannya ke dalam keranjang. Tubuhnya benar-benar lelah. Rasanya ia tak sabar untuk mandi dengan air hangat, untuk menyegarkan.
Guyuran air dari shower mulai menyentuh seluruh bagian tubuhnya. Pria itu terpejam, menikmati sensasi rasa seperti pijatan di bahu dan kepalanya. Terasa begitu nyaman. Terlebih saat aroma shampo dan sabun yang beradu, membuat fikiran yang semula suntuk, berangsur jernih.
Erich meraih kimono yang tergantung lantas memakainya guna menutupi tubuh. Dengan handuk kecil ia mengusap rambut hitamnya yang masih basah. Terkadang ia kibaskan dan disisirnya dengan jari.
Satu stel pakaian santai sudah membalut tubuhnya. Rasa lapar yang mulai menyerang membuatnya bergegas turun kelantai dasar untuk menikmati makan malam.
"Silahkan tuan." Inah menarik satu kursi yang sudah biasa Erich duduki.
Erich mulai menunjuk satu persatu makanan yang ia inginkan dan dengan sigap Inah melayaninya.
Denting sendok dan piring beradu. Erich menikmati makan malamnya dalam diam. Hanya seorang diri, tanpa siapa pun yang menemani.
"Bi, nanti tolong antar teh hangat dan juga camilan ke ruang kerja." Erich menyeka sudut bibir dengan tisu, dan mulai bangkit meninggalkan meja makan.
__ADS_1
"Baik tuan."
Erich merupakan pribadi yang cukup tertutup dan penyendiri. Ia tak menyukai keramaian atau pun berinteraksi dengan banyak orang. Meski kerap bertemu dengan rekan seprofesi namun Erich pun cukup menjaga jarak dan hanya membahas perihal pekerjaan saja.
Ruang kerja yang sunyi pun menyambutnya. Erich menjatuhkan bobot tubuh dikursi putar. Sudut hatinya menghangat saat memandang album foto keluarganya. Di mana ada orang tua dan kedua adiknya.
Ia rindu. Rindu untuk bersua dan memeluk orang tercinta. Akan tetapi, padatnya jadwal kerja selama beberapa minggu kedepan, membuat Erich harus bersabar untuk menunda kepulangannya.
Diusapnya album foto tersebut. Sebuah foto yang diambil saat perayaan ulang tahun ke 49 sang Ibu, Zara yang sebuah hotel milik keluarga. Semua terlihat bahagia. Orang tuanya terlihat tertawa lebar, begitu pun dengan Ernest, saudara kembarnya dan juga Emely, adik perempuannya.
Erich mengulas senyum simpul. Keharmonisan rumah tangga orang tuanya menjadi impian tersendiri untuknya. Meski kedua orang tuanya terpaut usia yang cukup jauh, namun sang ibu bisa mengimbangi pola fikir sang Ayah. Luar biasa sabar dan penuh kasih sayang. Mungkin itulah kelebihan sang ibu yang membuat ayahnya tergila-gila.
"Ck, diumurmu yang hampir berkepala lima, kau bahkan masih terlihat begitu cantik dan segar, ibu," puji Erich masih menatap foto itu begitu lekat.
Zara memang berusia matang kini. Akan tetapi kecantikannya tak memudar. Bahkan semakin mempesona juga menggoda dimata Arka, suaminya. Membuat Ayah dari 3 orang anak itu terus menempel dan tak ingin berjauhan dalam waktu lama.
"Huh, aku bahkan iri dengan keromantisan orang tuaku sendiri." Erich merasa geli dengan ucapannya sendiri. Dirinya memang ingin memiliki kekasih, namun pengalamannya di masa lalu membuat Erich tak ingin cepat menjalin hubungan khusus dengan seseorang, andaikan dirinya saja masih ragu untuk menjalankan.
💗💗💗💗💗
"Isabel, bisa bantu aku?" Starla tergopoh masuk keruang ganti khusus OB untuk mencari keberadaan Isabel dan beruntungnya gadis yang dicari pun ada di sana.
"Bantu apa?"
Setengah terenggah Starla berbicara.
"Begini, tuan Agung memintaku untuk mengambil pesanan makanan lewat kurir di lantai dasar. Kau tau jika seseorang yang tak berkepentongan dilarang memasuki lantai teratas, sedangkan aku memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku bingung, tapi aku lebih takut jika tuan Erich marah jika pekerjaanku tak selesai tepat waktu. Jadi, kau bisa membantuku 'kan?" Sepasang mata Starla mengerling, seolah begitu memohon.
"Baiklah, aku akan turun kelantai dasar dan membawakan pesanan itu untuk tuan Agung."
"Hah Isabel, kau memang gadis paling baik dimuka bumi ini." Starla mencubit gemas kedua pipi Isabel hingga membuat gadis itu meng-aduh.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Pipiku bisa kempes jika dicubit seperti itu. Lagi pula, bukankah itu memang pekerjaanku?"
Starla tergelak dengan kepala mengangguk.
"Baiklah, aku akan turun sekarang."
Starla pun mengulurkan beberapa lembar rupiah pada Isabel untuk alat pembayaran.
Hari ini Isabel memiliki waktu cukup luang. Lebih santai dari biasa sebab Erich tak memita banyak macam darinya. Kopi pun baru satu gelas yang ia minta. Dan itu terasa aneh bagi Isabel.
Isabel melempar senyuman pada siapa pun yang tanpa sengaja berpapasan. Entah itu sesama OG atau pun para staf yang bekerja pada perusahaan.
Langkahnya terasa ringan saat ini seolah tanpa beban. Saat mendekati pintu lift yang akan membawanya kelantai dasar, uang yang sedari tadi ia pegang justru tercecer. Gados itu menghela nafas dan berjongkok, memunguti lembaran uang itu satu persatu sebelum sempat beterbangan.
Lembaran uang sudah ia dapat dan erat ia gengam. Isabel berjongkok seraya meyakinkan lagi jika seluruh uang sudah ia dapat. Namun naas, tubuhnya menubruk sesuatu saat hendak bangkit hingga menyebabkannya jatuh terjengkak.
"Aw," pekik Isabel antara sakit bercampur terkejut.
"Ah maaf." Suara itu bergema seiring tubuh Isabel terjerembah dilantai, setengah terangkat.
Isabel yang masih mengumpulkan kesadaran, mulai mengerjap. Sontak terkesiap saat tubuh seorang pria tengah berlutut di hadapannya.
"Kau baik-baik saja?"
Isabel tertegun. Tangan pria itu bahkan masih menyentuh bahunya. Dan lebih terkejut lagi saat Isabel mengetahui siapa sosok pria yang berlutut dan berucap seolah tengah mencemaskannya.
Tuan Erich
"Maaf, aku tadi tidak sempat melihatmu dan aku benar-benar tidak sengaja sudah menabrakmu."
Isabel tak menjawab. Wajahnya terlihat syok juga terhipnotis. Ia justru memandang lekat sang lawan bicara, dan seakan lupa pada rasa sakit yang mulai menjalar di bagian tubuhnya.
__ADS_1
Benarkah ini tuan Eric? Tetapi kenapa dia berbeda begini? Tidak, ini terlihat aneh. Aneh tapi nyata? Apakah tuan Erich berkepribadian ganda hingga bisa menjadi lembut seperti ini dalam waktu singkat?