CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Kedekatan Ibu Dan Anak


__ADS_3

Hubungan diantara Zara dan Natasya semakin dekat selepas gadis itu mengetahui kebenaran yang ada. Tentang kehidupan masa lalu sang Ibu yang pernah memiliki kedekatan dengan keluarga Atmadja, bahkan pernah berstatus menjadi Istri dari Arkana Surya Atmadja yang merupakan pewaris dari Atmadja Group.


Meski sempat ragu untuk mengutarakannya pada Natasya, namun tak urung Zara akhirnya mengungkapkan ingin yang sudah sangat lama dipendam.


"Natasya, bisakah kau mengatur rencana untuk bisa mempertemukan aku dengan Ibumu?." Zara mengungkap inginnya pada Natasya di suatu hari melalui panggilan telefon.


Pada saat itu Natasya belum bisa memastikan. Ia ragu dan juga cemas, apakah Ibunya akan menerima atau justru menolak andai ia berkata jujur.


"Bagaimana jika kau tidak lebih dulu mengatakan padamu untuk bertemu denganku, em mungkin kau harus membuat alasan lain, seperti ingin mengajak ibumu berbelanja atau berjalan-jalan." Zara terdengar menghela nafas. "Sebab aku sendiri tak yakin jika Ibumu mau bertemu denganku andai dia tau yang sebenarnya," sambung Zara dengan suara rendah.


Natasya yang berdiri di depan kamar sang Ibu, ragu untuk mengetuk. Ini akhir pekan dan keduanya sama-sama berada di rumah. Sepertinya ini waktu yang tepat, tapi bagaimana cara mengatakannya.


"Ibu," panggil Natasya disusul ketukan pintu. Meski ragu tapi dirinya harus melakukan. Setidaknya pertemukan mereka, untuk urusan reaksi, biarlah belakangan.


Pintu terbuka, wajah cantik Anastasya terlihat.


"Tasya, ada apa?." Perempuan itu membuka lebar pintu kamar. Menatap putrinya yang terlihat aneh saat ini. Gadis itu terlihat menarik nafas dalam, kemudian tersenyum sebelum berbicara.


"Em, Ibu. Mumpung akhir pekan, bagaimana jika kita jalan-jalan."


Sang Ibu mengerutkan kening.


"Jalan-jalan?."


"Ya," jawab Natasya. Momen keluar rumah memang akhir-akhir ini jarang dilakukan sebab kesibukan keduanya.


"Kemana, kau ingin membeli sesuatu?."


Natasya mengangguk saja. Yang penting bisa membawa sang Ibu keluar dari rumah. Itu sudah cukup. Tinggal mengirim pesan dan alamat pada Ibunda Ernest, maka mereka akan bertemu.


"Oh, baiklah." Anastasya membawa tubuh sang putri dalam pelukan. "Maaf, karna kesibukan Ibu, kita jadi jarang menghabiskan waktu bersama. Berbelanja dan makan di luar, sebagai agenda rutin kita dulu disetiap akhir pekan." Anastasya menyampaikan permintaan maaf. Karna getolnya mencari uang dan semakin ramainya toko bunga, cukup menyita waktu dan perhatiaannya untuk sang putri. Berbeda saat masih ada Kenan, ia yang tak bekerja sama sekali selalu memiliki jadwal rutin bersama Natasya juga terkadang bersama sang suami untuk bersenang-senang. Jalan-jalan, berbelanja atau liburan. Tapi sekarang, ah jangan ditanya.


Selepas merundingkan tempat yang akan dituju, Ibu dan anak tersebut lekas bersiap. Natasya berlari ke kamar. Menyentuh ponsel miliknya dan lekas mengirimkan pesan pada Zara.


' Nyonya, sekitar 60 menit lagi kami akan mengunjungi pusat perbelanjaan di jalan xx. Saya memberi kabar, berharap Nyonya lekas bersiap dan menyusul ke tempat yang sama'.

__ADS_1


Pesan terkirim.


Sembari menunggu, Natasya berlari ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Pusat perbelanjaan yang dimaksud Natasya letaknya tak jauh dari rumah. Jika mengirim pesan dari sekarang, Zara pun bisa lebih dulu bersiap.


Layar ponsel sang gadis berkedip. Pesan darinya rupanya sudah mendapat balasan.


Selepas mandi, Natasya memeriksa ponsel. Jantungnya berdegub kencang ketika pesannya sudah berbalas.


"Ya, aku akan segera bersiap dan pasti akan datang." Di sana Zara juga menyebut nama cafe yang berada di dalam pusat perbelanjaan sebagai tempat pertemuan. "Bawa saja Ibumu ke cafe itu dan kita bertemu di sana. Atur semua seperti sebuah kejadian yang tak terencana."


Natasya meneguk ludah. Jujur, dirinya mulai gelisah. Terlebih saat menatap wajah berbinar yang sudah masuk ke kamarnya.


"Ya, tuhan. Kenapa kau belum siap?." Anastasya geleng kepala begitu mendapati sang putri masih belum berdandan.


"Em, tunggu sebentar, Ibu." Gadis itu meringis dan lekas duduk di kursi meja rias. Memoles wajah dengan make up tipis juga menyisir rambut panjangnya yang masih setengah kering. Sementara Anastasya, perempuan itu terlihat rapi dan cantik seperti biasa. Gaun berwarna salem sebawah lutut tampak indah membungkus tubuhnya yang masih terlihat ramping dan kecang diusianya yang tak lagi muda.


Natasya sendiri mengakui itu. Ia jadi teringat ucapan Zara yang mengatakan jika Ibunya di masa muda adalah seorang model terkenal.


"Ya, memang sesuai dengan bentuk tubuhnya yang proporsional, sih," gumam Natasya yang rupanya mampu didengar oleh ibunya.


Natasya tergelak.


"Tidak, Ibu. Aku hanya berngungam tentang sesuatu yang tak penting." Sang putri beralasan.


"Kau sudah siap." Sang putri menggangguk. "Ayo kita berangkat." Sang Ibu mengandeng tangan putrinya menuju luar rumah. Mereka tak terlihat seperti Ibu dan anak, namun lebih seperti adik dan kakak.


"Ibuku memang yang paling cantik," puji Natasya ketika sudah memasuki mobil, yang mana membuat Anastasya tersenyum dan geleng kepala. Andai Anastasy boleh jujur, paras sang putri justru lebih menawan darinya. Bukan hanya mewarisi sebagian garis wajahnya, Natasya juga mewarisi paras sempurna sang Ayah.


Ah, Kenan.... Aku rindu..


Tanpa putrinya sadari, sepasang mata Ibunya berkaca. Hati Anastasya kembali basah saat mengemudikan kendaraan menuju tempat yang diinginkan putrinya. Jika mengingat Kenan, seperti itulah suasana hati Anastasya. Terlebih perempuan berfikir jika putri mereka sudah tumbuh besar dan sudah waktunya berumah tangga.


Mas, tidak mungkin aku mampu berjalan seorang diri untuk mengantar putri kita ke altar pernikahan. Kenapa kau lebih dulu pergi, Mas. Sebelum memastikan putri kita menikah?.


Natasya masih tak menyadari perubahan ekspresi wajah sang Ibu, hingga mereka sampai ketempat yang dituju.

__ADS_1


💗💗💗💗💗


Wajah Anastasya sumringah. Rupanya berbelanja cukup membuat moodnya membaik. Ia tertawa saat putrinya melempar canda, juga antusias memilih pakaian yang sekiranya cocok untuk mereka kenakan.


"Aku yang akan mentraktir Ibu. Pilih saja, dan aku yang bayar." Natasya menganggkat dagu. Pura-pura sombong di hadapan sang Ibu.


"Memang kau punya uang?." Anastasya memasang wajah terkejut dan seketika membuat bibir putrinya cemberut.


"Ibu mengejekku rupanya," ucap sang putri tak terima. "Anak Ibu sudah bekerja sekarang, dan lihatlah." Cepat-cepat Natasya merogoh tas dan membuka dompet. "Lihat, uangku bahkan sangat banyak," sewot sang gadis merasa tak terima.


Anastasya tergelak.


"Baiklah-baiklah, putri Ibu memang sudah bekerja dan banyak uang sekarang. Jadi Ibu boleh berbelanja sepuasnya 'kan?."


"Tentu saja," jawab Natasya cepat.


"Baik, Ibu akan memilih dan kau tidak boleh protes."


Natasya melipat kedua tangan di dada. Sementara pandangannya tertuju pada sang Ibu yang asik memilah pakaian. Eh, tapi tunggu.


Kenapa perasaanku tidak enak.


Natasya merinding saat tangan sang Ibu sibuk memasukkan beberapa dres ke dalam keranjang. Hah, kenapa semakin banyak?. Sedangkan uangku?.


"Kenapa?." Mendapati wajah cemas sang putri, sang Ibu bertanya.


"Ah, tidak apa-apa. Ayo, pilih saja." Natasya menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal sebab sang Ibu masih terus mengambil pakaian yang disuka sedangkan satu keranjang belanja sudah terisi penuh dan berganti keranjang berikutnya.


*Mampus aku.


Tbc*.


Maaf lambat update. Sembari nunggu bab baru publis, mampir kecerita lain yuk.


__ADS_1


__ADS_2