
Semalam Natasya tak dapat tidur. Penjelasan Anastasya yang tak sampai tuntas, membuat rasa penasarannya kian melambung sampai memenuhi isi kepalanya. Sungguh, Natasya masih ingin tau banyak tetang masa lalu Ibunya, namun keengaan dari sang Ibu sendirilah yang membuatnya harus mengubur harapan sampai Ibunya sendiri siap untuk menceritakan.
Seperti hari-hari biasa. Natasya akan pergi bekerja sementara Anastasya mengurus toko bunga. Selepas menghabiskan sarapan, Ibu dan anak itu bersiap untuk memulai aktifitasnya masing-masing. Natasya lebih dulu meninggalkan rumah, meninggalkan sang Ibu yang kini melambaikan tangan di depan pintu utama untuk melepasnya bekerja.
Sekiranya seperti apa kehidupanmu di masa lalu, Ibu?.
Saat mengemudikan kendaraan, Fikiran Natasya masih saja dipenuhi dengan berbagai bayangan Ibunya di masa muda dulu.
Istri pertama Arkana surya Atmadmaja?. Ya, tuhan. Bahkan untuk sekedar bermimpi saja, Natasya tidak berani memikirkannya.
Beberapa puluh menit menempuh perjalanan. Berkubang dalam kemacetan bersama para pengguna jalanan lain, kini kendaraan milik Natasya sudah berada dalam basement kantor milik Atmadja group tempat dirinya bekerja.
Melirik pada arloji dipergelangan tangan, gadis cantik itu gelagapan. Pasalnya beberapa menit kedepan jam kerja sudah dimulai. Dengan secepat kilat dirinya mencari pintu masuk dan memasuki lift untuk lekas membawanya ke lantai teratas gedung.
💗💗💗💗💗
Apa Tuan Ernest juga mengetahui jika aku adalah putri dari mantan istri Ayahnya?.
Duduk di belakang meja kerjanya, Natasya masih sempat-sempatnya berfikir hal demikian.
Bagaimana kalau beliau tau, apakah beliau akan langsung memecatku atau .... Ah..
Natasya mengacak rambutnya, merasa Frustrasi dengan pemikirannya sendiri. Sementara pria yang sedari tadi ia sebut dalam batin, sudah berada di dalam ruang kerjanya. Bersemedi seperti biasa dan akan keluar begitu jam makan siang tiba.
"Ah, terserahlah. Jika Tuan Ernest sama sekali tak membahas, sudah pasti jika beliau pun tak tau perihal masalah ini. Lagi pula, kenapa juga aku yang repot." Natasya mengendikkan bahu. Ia ingin abai dan kembali melanjutkan pekerjaan.
Akibat terlalu bersemangat atau karna memang pekerjaannya yang sedang menumpuk, membuat sekretaris pribadi Ernest itu tak menyadari jika waktu makan siang sudah sampai.
__ADS_1
"Ehem."
Dari arah samping, seseorang berdehem. Sang Sekretaris berjingkat, menjatuhkan pulpen dan sontak menatap tajam kearah seseorang yang sudah mengejutkannya.
"Apa?." Seseorang tersebut balas menatap tajam Natasya.
"Ti-tidak, Tuan," jawab Natasya seraya menelan ludah. Ia tak mengira jika seseorang yang mendekat ke arahnya adalah sang atasan, Ernest sementara Langit berdiri tegap di belakang tubuh sang Tuan.
"Sekarang sudah waktunya makan siang 'kan?."
"Be-benar, Tuan." Gadis itu bangkit, sigap mengatur posisi untuk berdiri di belakang langit. Sampai kemudian Ernest memimpin langkah menuju ruang makan khusus petinggi perusahaan.
Seperti biasa, aneka macam hidangan mengugah selera sudah tertata apik di atas meja. Para pelayan bergerak sigap. Mempersiapkan semua yang dibutuhkan ke atas meja dan menyikirkan sesuatu yang tidak diperlukan.
Ernest, Langit dan juga Natasya menikmati makan siang dengan tenang. Seperti biasa pula, Natasya sesekali membantu sang Tuan. Baik sekadar menuangkan air putih, atau pun mendekatkan piring berisi potongan buah ke hadapan Ernest. Sebab hal tersebut sudah menjadi kebiasaanya selama menjadi Sekretaris pribadi CEO Atmadja group.
"Tentu, Tuan." Langit mendorong kursi, bangkit serta menundukkan kepala sebelum menjauh dan keluar dari ruangan. Natasya menatap bingung kepergian Langit tentu atas perintah Tuannya. Terlebih tak ada siapa pun dalam ruangan selain mereka berdua.
"Tidak usah bingung. Aku memang meminta Langit keluar agar bisa berbicara berdua denganmu."
"Berbicara apa, Tuan?." Bukankah setiap hari mereka selalu berbicara. Di depan langit dan staf lainya, bukankan itu tak menjadi masalah. Asalkan bukan suatu hal penting yang sedang mereka bahas.
Atau kita akan berbicara hal penting, tapi tentang apa?.
"Aku ingin mempertanyakan perihal kedekatanmu dan Ibuku akhir-akhir ini. Bukankah kalian baru beberapa kali bertemu, tetapi kenapa sudah begitu dekat jika menurut pengamatanku?."
Natasya menelan salivanya susah payah terlebih mendapati tatapan tajam sang Tuan padanya. Sejenak ia menetralkan deru nafas dan rasa tegang yang semula sempat menerjang. Ia berfikir, untuk menyusun jawaban tepat agar tak berujung salah bicara, dan jika dilihat dari pertanyaan yang dilemparkan Ernest, pria muda tersebut sepertinya masih tak tau perihal kedekatan Ibu mereka di masa lalu.
__ADS_1
"Benar, Tuan. Kami memang hanya bertemu beberapa kali. Jika ditanya dekat, Ibunda Tuan mengetahui jika saya berteman dengan Nona Emely, adik Tuan. Mungkin hal tersebutlah yang membuat Nyonya nyaman saat berbicara dengan saya." Ya, fikir Natasya mungkin itu jawaban yang bisa diterima akal oleh Ernest. Ia sendiri tak ingin menjawab yang menjurus pada kedekatan antara Zara dan Ibunya sebab itu bukanlah kapasitasnya.
"Benarkah?." Ernest masih ragu, namun pria itu seperti sedang berfikir.
"Benar, Tuan."
Meski tak yakin namun Ernest mengangguki. Terlebih menerut Ernest, jawaban Natasya memang masuk akal. Apa mungkin dirinya yang terlalu berlebihan dalam mengartikan kedekatan antara Ibunya dan sekretarisnya.
Ernest pun tak bertanya lagi. Ia hanya memberitahu pada Natasya jika bersiap untuk menyambut kedatangan Ayahandanya untuk meninjau perusahan seperti biasa.
Natasya meng'iyakan. Gadis itu lekas mengikuti pergerakan sang Tuan untuk keluar dari ruang makan khusus atasan.
Satu jam selepas pemberitahuan kendaraan yang membawa petinggi Atmadja group sudah memasuki lobi. Seluruh staf berbaris, menyambut kedatangan Arka yang saat ini memiliki kedudukan tertinggi di Atmadja group, menggantikan sang Kakek.
Di antara para Staf, Ernest pun berdiri tegap menyambut sang Ayah. Sementara Natasya dan Langit juga berdiri di sampingnya.
Derap langkah kaki Arka beserta Sam dan para pengawal terdengar serempak saat memasuki pintu utama gedung. Dua pria yang wibawa serta ketampanannya tak pudar meski termakan usia itu melangkah lebar menyusuri lobi serta melewati para staf yang berdiri di antara mereka.
Pandangan seluruh staf tertuju pada sang petinggi perusahaan. Jika yang sudah bekerja cukup lama pada Atmadja group, pastilah sudah mengetahui sepak terjang Arkana juga Samudra disaat muda sebelum digantikan oleh putra-putra mereka.
Di antara para staf, Natasya juga menatap Ayah dari atasannya tersebut dengan pandangan yang.. Entahlah. Terlebih selepas mengetahui kenyataan bila pria tersebut sempat menikah dengan Ibunya sebelum dinikahi oleh Ayahnya, Kenan.
Tatapan Natasya begitu dalam. Seolah sedang meneliti seperti apa sifat pria yang memiliki kharisma tak kalah dari putranya. Arkana surya Atmadja yang konon aset serta jumlah kekayaannya tak terhitung. Seorang Milyarder dengan kekayaan melimpah namun terkenal rendah hati. Itu kabar yang sering Natasya dengar di lingkungan perusahaan.
Natasya yang setengah melamun seraya menatap sang pemilik perusahaan, tak sadar jika dirinya pun sedang diperhatikan. Gadis itu tersentak, tersadar saat Arka menatap padanya. Sebuah pandangan yang untuk beberapa saat tak teralihkan.
Natasya lekas menundukkan kepala. Dadanya berdegung kencang. Seiring langkah Arka beserta sang pengawal yang berlalu dari hadapannya.
__ADS_1
Tbc.