
Bertemankan secangkir kopi seorang Ernest Surya Atmadja menghabiskan malam dalam keterpurukan. Kepulan asap sudah memenuhi ruangan. Ketika Ernest hendak menyulut kembali sebatang rokok di tangan, seseorang lekas merampas dan membuangnya ke lantai.
"Cukup, hentikan Ernest. Jangan rusak hidupmu hanya demi seorang gadis yang bahkan tak pantas untuk dicintai." Arka Surya Atmadja menatap sang putra dengan pandangan memohon. Sebelum resepsi pernikahan Erich berakhir Ernest sudah tak menampakkan diri dan rupanya putranya itu bersembunyi di tempat ini. Merokok dan mengonsumsi banyak kafein hingga lupa diri.
Ernest mendengus. Ia tak mengubris ucapan Arka dan lebih memilih membuang pandangan ke arah lain.
"Ernest, ayah minta maaf. Seharusnya.."
"Kenapa, Ayah? Kenapa kalian tega melakukan hal semacam ini kepadaku. Kenapa Ayah? Jawab!" Amarah tak mampu dibendung. Ernest tak tau pasti kejadian yang sebenarnya terjadi. Ia hanya ditarik paksa ke ruangan pribadi Erich bersama kedua orang tuanya yang justru menemukan Sandara, kekasihnya kedapatan sedang mencuri cincin pernikahan saudara kembarnya.
Ernest frustrasi. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Aku masih tak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi." Pada saat Sandara diintrogasi, Ernest pun ikut menyaksikan. Akan tetapi ia pun tak tau dari mana pangkalnya hingga Sandara sampai berkeinginan untuk mencuri cincin, berharap agar pernikahan saudara kembarnya itu gagal. Dan satu kebenaran yang ia terima justru membuatnya nyaris mati berdiri saat Sandara mengatakan jika mencintai Erich dan hanya berpura-pura mencintainya.
Ernest menghela nafas yang terasa sesak. Satu titik bulir bening menetes tanpa bisa dicegah. Pria itu menangis. Menangisi takdir hidupnya sendiri.
Arka bisa merasakan kesakitan yang dirasa oleh sang putra. Ia pun menarik satu buah kursi dan duduk berhadapan dengan putranya.
"Maaf, jika permasalahan di masa lalu Ayah dan Ibumu justru harus menyeret dirimu. Ada banyak hal yang sejujurnya tak kau ketahui tentang kekasihmu, Sandara. Bukan hanya ingin menggagalkan pernikahan Erich dan membuat pengakuan jika tidak mencintaimu, namun masih banyak hal lagi yang sejatinya memang sengaja gadis itu tutupi."
"Tapi kenapa harus aku yang menerimanya."
"Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu diucap Arka. Sam, memang belum menceritakan perihal penemuan bukti jati diri Sandara secara terbuka pada Ernest atau pun Erich. Dan kini mungkin akan menjadi waktu yang tepat bagi Arka untuk menceritakan semuanya, tentang orang tua Sandara dan dibalik rencana yang sudah bertahun-tahun dilancarkan.
__ADS_1
Arka menatap wajah sang putra begitu lekat. Ia tatap wajah buah hati yang memiliki paras kombinasi dirinya dan juga Zara.
"Ernest, tatap wajah Ayah." Arka sampai membingkai wajah putranya, memaksanya untuk mau menatapnya.
"Ada banyak peristiwa yang terjadi di antara Ayah, ibu dan Sandy, Ayah Sandara."
Sepasang mata Ernest memanas, ia menahan bulir bening saat kembali menerima sebuah kenyataan jika orang tua Sandara masih hidup. Gadis itu tak hidup sebatang kara. Cih, Ernest bahkan ingin meludahi wajah Sandara sekarang juga.
Menjijikkan.
Arka secara runut menceritakan seluruh kejadian beberapa tahun lalu yang terjadi diantara dirinya, Zara dan Sandy. Ernest, meskipun terlihat tak perduli, namun pria itu juga terlihat mendengarkan.
"Paman Sam menemukan beberapa bukti yang menguatkan, meski Sandara terkesan bertele-tele mengakui namun, kami yakin jika orang tua gadis itulah yang secara tidak langsung meminta pada putrinya untuk membalaskan dendam."
Ernest memejamkan mata. Bayangan wajah polos Sandara beberapa tahun lalu saat mereka pertama kali bertemu, terbayang dipelupuk mata.
Meski berbeda tempat tinggal, dulu Sandara ikut mengurus keperluan pribadinya akibat begitu dekat. Baik pakaian bahkan sampai urusan makanan Ernest, Sandara ikut mengurusnya. Hingga beberapa saat selepas Sandara menyelesaikan kuliah, Ernest langsung memintanya untuk menjadi sekretaris pribadi, mendampingi dan membantu pekerjaan dan keperluannya.
Begitulah kilas gambaran begitu intensnya hubungan sepasang kekasih itu saat dulu. Saling melengkapi dan membutuhkan, sebelum sifat Sandara yang mulai berubah dan kerap bertingkah yang membuat Ernest habis kesabaran.
"Tapi aku mencintainya, Ayah."
Arka menghela nafas. Memang tidak mudah bagi putranya untuk menghapus bayang-bayang gadis yang menjadi tempat mencurahkan kasih sayang bertahun-tahun lamanya dalam waktu cepat. Bukan hanya sehari atau dua hari mereka merajut kasih, bahkan nyaris 5 tahun mereka berpacaran. Jadi wajar jika Ernest butuh proses yang membuatnya bisa berfikir tenang kedepan dan menghapus kenangan manis dan pahit bersama Sandara secara perlahan.
__ADS_1
"Ayah tau, tapi ketahuilah, seperti yang kau dengar dari mulut Sandara jika gadis itu tak mencintaimu dan justru lebih tertarik pada Erich, lalu bagaimana perasaanmu? Bukankah rasa cintamu padanya hanyalah sebuah kesia-siaan semata?".
Ernest mengetatkan rahang. Wajahnya memerah seakan tak terima saat sang Ayah kembali mengingatkan ucapan Sandara tempo hari padanya.
"Maaf, Ayah tidak bermaksud untuk mengungkitnya, hanya saja kau perlu membuka matamu lebar-lebar. Sandara bukanlah gadis yang tepat untuk kau cintai. Lupakan dia. Bangkit dan jalani hidupmu dengan semangat. Ingat! Di dunia ini masih banyak gadis-gadis baik yang pantas untuk menjadi pendampingmu. Seorang gadis yang tentunya bukan hanya cantik paras, tapi juga hati," ucap Arka seraya menyentuh dada bidang sang putra dengan jari telunjuk.
"Maaf, jika permasalahan kami di masa lalu rupanya ikut menyeretmu untuk masuk ke dalamnya. Jujur, hal ini diluar kendali Ayah. Sebab setahu Ayah, Sandy mendapat hukuman berlapis atas kesalahan yang perbuat. Seharusnya pria bre*gsek itu masih menikmati hari-harinya di balik jeruji besi dan tak bebas seperti ini. Rupanya ada yang tak beres di sini, atau mungkin salah satu pihak sengaja membeli hukum untuk bisa membebaskan Sandy dari segala tuduhan yang memberatkan. Sia*an," desis Arka dengan menahan geram.
Sandy, Sandy dan Sandy.
Arka mengumpat dalam hati. Sandy, seseorang yang teramat ia benci, kembali datang dan seakan menyulutkan bara api yang semula sempat padam.
Sempat melupa pada kejadian yang membuatnya murka, kini biang dari masalah itu kembali datang, yang mana membuat seorang Arka mau tak mau mengingat kembali pada peristiwa di masa lalu yang nyaris membuat dirinya dan Zara berpisah.
"Ernest," panggil Arka pada sang putra.
"Ya."
Berbicara dengan jarak sedekat ini membuat Ayah dan Anak itu tak ubahnya seperti sahabat. Arka kembali mengulas senyum di bibir. Sifat Ernest cukup berbeda dari Erich yang tegas dan terkesan kaku. Ernest terkesan lebih lembut dan perasa. Ia memiliki sifat yang tak jauh berbeda dengan ibunya, Zara. Maka dalam kondisi terkhianati seperti ini, Ernest begitu mudah terpuruk dan lemah.
Arka tergelak lirih. Ernest, putranya kini lebih mirip Emely. Putri manjanya yang merajuk dan mengurung diri andai keinginannya tak dituruti.
"Kau pria yang kuat dan tegar. Ayah yakin kau mampu menjalani semua prosesnya. Bersabarlah. Bangkit, dan berjalan kedepan tanpa perlu menoleh kebelakang. Kejar tujuan hidup yang kelak akan membawamu pada kebahagiaan." Entah sudah berapa banyak kata penyemangat yang ia tujukan untuk sang putra. Dalam keterpurukan seperti ini, tentunya Ernest membutuhkan teman untuk sekedar berbagi. Agar menegaskan jika di dunia ini pria itu tak hidup sendiri.
__ADS_1
"Terimakasih, Ayah. Aku menyayangimu, sama sepertiku menyayangi Ibu." Ernest mendekap sang Ayah. Biarlah ia dikata lemah. Setidaknya di dunia ini dirinya masih punya seorang Ayah yang masih bisa dijadikan panutan.
Tbc.