CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Datang Sebagai Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Teriknya sinar mentari yang serasa menembus kulit, diabaikan oleh seseorang yang duduk di sebuah kursi taman. Pria itu abai meski tak ada selembar daun kering pun yang melindunginya dari sengatan mentari. Dalam duduknya, pria itu terpekur dengan menatap kosong ke depan.


Rangga, pria itu kini sudah mengetahui tentang kehidupan Anastasya secara keseluruhan selepas pergi darinya. Lewat seorang mata-mata berbeda dari sebelum-sebelumnya, akhirnya pria tersebut bisa menjebol dinding rapat kehidupan yang sejatinya berusaha ditutupi Anastasya dari orang lain.


"Jadi saat ini Anastasya, janda....?." Rangga bergumam dan sekali lagi mengingat akan ucapan sang mata-mata.


Nyonya Anastasya menikah dan dikaruniai seorang putri, akan tetapi suaminya sudah berpulang sekitar satu tahun lalu.


Itulah potongan kalimat dari pria bayaran Rangga. Selepas beberapa kali menyewa orang untuk mengorek informasi tentang Anastasya, akhirnya kerja keras kali ini membuahkan hasil. Tak masalah ia akan keluar uang banyak yang terpenting apa yang selama ini menjadi pertanyaan, mendapatkan jawaban. Terlebih Anastasya kini berada tak jauh darinya. Di kota yang sama dan itu artinya kemungkinan dan pelung untuk bertemu kembali dengannya cukup besar.


Rangga masih termenung meski pun bulir keringat sudah mulai keluar dan membasahi tubuh. Teriknya mentari seperti tak terasa lagi. Kebahagiaannya terasa memuncah terlebih selepas mengetahui jika Anastasya tak lagi berpendamping.


Mungkinkah?.


Hah, Rangga tak ingin berangan-angan. Selepas menghela nafas dalam dan menemukan kembali kesadaran, pria berpostur tegap itu bangkit dan meninggalkan taman untuk memacu kuda besinya menuju gedung pusat Atmadja Group. Sepertinya dia ingin menemui Arka atau pun Ernest, sekadar untuk membicarakan kerja sama kerja untuk mengurangi pening di kepala karna terlalu memikirkan Anastasya.


💗💗💗💗💗


"Bagaimana, kau beserta keluarga menerima undangan kami 'kan?."


"Tentu, Tuan. Nanti malam kami akan datang."


Rangga menghentikan langkah, berjarak beberapa meter dari ruang kerja Ernest dia mendengar permbicaraan antara putra Arka tersebut dengan Sekretarisnya. Rangga lekas bersembunyi, di balik dinding namun memasang lebar terlinga untuk mencuri dengar pembicaraan dari dua insan tersebut.


Undangan, undangan apa?.


"Jika kau kesulitan mencari alamat rumah kami, bagaimana jika sopirku yang akan menjemputmu beserta keluarga?."


Sembari mendengar, Rangga coba memahami inti pembicaraan Ernest dan Natasya.

__ADS_1


"Ti-tidak, Tuan. Maksud saya tidak usah. Terimakasih atas tawarannya tapi sepertinya saya bersama Ibu akan datang sendiri ke kediaman anda."


Apa, jadi Ernest mengundang Anastasya serta putrinya ke rumah mereka?.


"Baiklah. Aku harap sebelum pukul pukul tujuh malam kau dan keluarga sudah datang,"


Fikiran Rangga berkecamuk. Dalam persembunyian dirinya masih menerka, Kiranya untuk urusan apa Ernest sampai mengundang Sekretaris dan juga Ibunya?.


Tubuh Rangga merapat ke dinding, saat suara langkah mendekat ke arahnya. Rupanya Natasya meninggalkan ruang kerja disusul oleh Ernest. Rangga terpekur di tempatnya. Jika sampai Arka mengundang Anastasya ke rumah, bukankah sudah pasti jika pria tersebut juga akan mengundang dirinya mengingat hubungan keduanya yang sudah sangat dekat?.


Aku yakin, Arka tidak mungkin jika tidak mengundangku.


Rangga sudah percaya diri. Sampai ia pun memutuskan untuk meninggalkan pusat gedung Atmadja Group untuk kembali ke rumah.


💗💗💗💗💗


"Ini tidak bisa dibiarkan." Raut wajah Rangga menggambarka kekecewaan. Bagaimana tidak, saat dirinya secara jujur mengatakan jika dirinya melihat Anastasya pada Arka, tapi kenapa saat sahabatnya tersebut berhasil mengundang perempuan tersebut, dirinya justru tak diberi kabar.


"Seharusnya kau bisa memahami akan perasaanku terhadap Anastasya, Arka. Apa kau berniat merujuk kembali Anastasya dan berakhir mempunya dua istri?." Demi apa pun, Rangga tak terima.


Emosi dalam jiwanya bergejolak. Memikirkannya saja sudah membuatnya isi kepalanya mendidih. Rangga yang kalap, menghempaskan vas bunga yang beradi di atas nakas.


Vas bunga langka peninggalan mendiang sang Ibu itu hancur berkeping-keping. Rangga terduduk dan mereemas kasar rambutnya sendiri, melihat kekacauan yang baru saja ia perbuat.


"Aku bisa giila jika terus seperti ini," geram Rangga dengan sepasang mata mulai berkaca. Pria itu menangis.


"Tidak, ini tidak benar. Ini tidak bisa dibiarkan!." Rangga lekas berganti pakaian. Ia akan datang ke rumah Arka meski tak diundang. Toh ia sudah tau jika malam ini ada acara, entah acara apa, namun yang pasti Arka mengundang keluarga Natasya dan disitu pasti ada Anastasya.


Stelan jas lengkap sudah membungkus tubuh. Rangga menyisir rambutnya kebelakang selepas ia acak kasar. Selepas mematut diri di depan cermin dan memastikan jika penampilannya sudah rapi, Rangga bergegas keluar dari kamar untuk memacu kuda besinya menuju rumah Arka.

__ADS_1


"Jika kau berniat merujuk Anastasya, demi tuhan, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Arkana surya atmadja." Dalam perjalan pun Rangga terus berbicara seorang diri. Tak henti dirinya merutuk Arka dan mengumpatnya dengan kata-kata kasar.


"Maaf, bukan maksudku begitu, tapi kau pasti tau segila apa diriku tanpa Anaatasya." Rangga tiba-tiba menangis. Dia seperti pria labil yang tak bisa mengontrol diri jika menyangkut Anastasya.


Kendaraan milik Rangga berjalan cepat menyusuri jalanan nan pada merayap. Berkali-kali ia mendahului kendaraan lain yang ia anggap menghambat laju kendaraannya. Dia harus sampai lebih cepat sebelum Anastasya pulang.


Benar saja, kurang dari 30 menit, kendaraan Rangga sudah memasuki gerbang utama kediaman megah Arka. Beberapa pengawal memberi penghormatan, dan mempersilakan Rangga untuk memasuki halaman.


Meski dilanda amarah dan kekecewaan namun Rangga tetap memasang wajah tenang. Tenang, terlebih dirinya datang dalam posisi tak diundang.


Ruang tamu terlihat sepi. Seorang pelayan yang menyambut pun memberitahukan jika pemilik rumah beserta tamu mereka sedang menikmati hidangan di ruang makan.


Tak perlu berfikir lama, Rangga pun lekas melangkah ke ruang makan kediaman sahabatnya. Senyap, dari luar hanya terdengar suara samar dan denting piring yang beradu dengan sendok.


"Maaf semuanya, aku datang terlambat."


Rangga memasang wajah polos tanpa dosa. Ia mengabaikan tatapan penuh keterkejutan dari semua orang di meja makan, termasuk Anastasya.


Arka hanya saling melempar pandang pada Zara yang duduk di sampingnya. Mungkin keduanya merasa jika tak mengundang Rangga untuk makan malam bersama.


Ada yang lebih membahagiakan lagi bagi seorang Rangga, apa lagi jika bukan tempat duduknya yang persis bersebelahan dengan Anastasya.


Ya Tuhan, apakah aku sedang bermimpi?.


Rangga tak mampu menutupi binar di sepasang matanya. Ingin sekali ia menyapa perempuan yang sampai detik ini pun masih senantiasa bertakhta di hatinya. Akan tetapi, pria tersebut masih ragu.


"Anastasya, kau mau ini?. Atau mau aku ambilkan yang lain?." Rangga memasang wajah tak tau malu. Ia menawarkan makan ini dan itu namun Anastasya menolak. Tak apa, dengan Anastasya mau menanggapi ucapannya saja, itu sudah cukup baginya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2