CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Aku Suka


__ADS_3

Lega, begitulah perasaan Zara selepas keinginannya untuk berbicara dengan Natasya, terpenuhi. Entah seperti apa reaksi sang gadis kedepannya pada dirinya selepas pembicaraan itu, namun yang pasti ia pun berharap agar putri dari Natasya tersebut tak akan membencinya. Ia hanya ingin, Natasya menjadi jembatan untuk mengembalikan hubungan baik antara dirinya dan Anastasya seperti dulu meski pun sudah sangat lama tak bertemu.


Saat baru saja mengganti pakaian selepas membersihkan diri, Ibu dari ketiga buah hati itu mengingat tentang sesuatu.


"Baju milik Ernest, aku bahkan belum sempat memberikannya," gumam Zara. Putranya yang cukup sibuk akhir-akhir ini membuat keduanya jarang bertemu. Ernest trkadang pulang larut malam saat Ibunya sudah terlelap.


Selepas mencari keberadaan paper bag berisi pakaian sang putra, Zara pun melangkah ke kamar sang putra. Beruntung saat ini akhir pekan dan Ernest sepertinya masih berada di rumah.


"Ernest," panggil Zara diiringi dengan ketukan pintu. Belum ada sahutan dari dalam membuat perempuan tersebut melakukan hal yang sama. Memangil dan mengetuk pintu kamar sampai terbuka.


"Ibu?." Ernest membuka pintu. Pria tampan itu sedang mengusap rambutnya dengan handuk.


"Kau habis mandi, maaf Ibu mengganggumu." Zara menatap lembut sang putra. Begitu ada celah, perempuan itu pun langsung masuk ke dalam putranya. Tidak enak jika berbicara di luar.


"Bu, ada apa?." Ernest bertanya sementara kedua tangannya masih sibuk mengeringkan rambut miliknya yang memang panjang. Sebenarnya ia sempat menangkap sesuatu yang dibawa sang Ibu namun tak tau apa isinya.


"Ini, beberapa lalu ibu sempat membeli pakaian, hanya saja baru sempat memberikannya padamu."


"Pakaian?."


"Ya," jawab sang Ibu seraya mengulurkan paper bag tersebut pada sang putra. "Bukalah," titahnya kemudian.


Sang putra menerima benda tersebut diiringi dengan senyum yang terulas di bibir.


"Terimakasih, Ibu."


"Sama-sama, dan semoga kau juga menyukainya." Zara mengamati sang putra yang mulai membuka kemasan dan mengeluarkan kemeja beserta celana bahan dari paper bag.


"Ayo, coba. Ibu ingin melihat seperti apa hasilnya."

__ADS_1


Tak ingin mengecewakan sang Ibu, Ernest lekas ke ruang pakaian untuk mencoba satu stel pakaian pemberian sang Ibu. Untuk urusan style pakaian, Zara memang tak segan untuk turun tangan membantu putranya. Mereka kerab berdikusi dan Zara sendiri sudah cukup faham dengan selera berpakaian sang putra.


Sudah tak terhitung berapa pakaian yang Zara pilihkan untuk putranya, baik pakaian formal atau pun non formal. Jika dulu dirinya hanya disibukkan dengan pakaian Arka, saat putra putrinya hadir, tugas Zara bertambah. Beruntung, baik suami dan putra putri Zara tak pernah protes dan justru senang sebab mereka mengangap jika hal tersebut adalah sebagai bentuk perhatian. Lagi pula Zara memiliki selera Fashion yang berkelas. Ia mahir memadu padankan atasan serta bawahan, hingga terlihat pas dan tak terkesan norak. Dari sanalah buah hatinya seperti bergantung jika berurusan dengan penampilan dan selalu dapat mengandalkan Ibunya. Sementara Erich yang sudah mempunyai Isabel, sepertinya sudah tak lagi memerlukan Ibunya untuk urusan itu.


"Wow." Zara menatap kagum pada sang putra yang baru saja keluar dari ruang pakaian. "Sudah kuduga, dari ukuran dan motif, kemeja itu memang pas untukmu."


"Benarkah?." Begitu mendapat pujian, Ernest kembali berkaca, melihat penampilannya sekali lagi dengan stelan non formal pemberian Ibunya. Rambutnya gondrongnya yang masih setengah kering, ia ikat asal yang semakin Menambah kadar ketampanan putra kedua dari pasangan Arka dan Zara tersebut.


"Tentu saja," jawab Zara tanpa ragu. "Natasya memang pintar dalam hal memilih," sambung Zara masih menatap pada sang putra.


Ernest terkesiap begitu nama Natasya disebut.


"Natasya, maksud Ibu?."


"Ya, baju yang kau pakai adalah pilihan Natasya. Karna beberapa hari lalu kami tak sengaja bertemu di Mall, Ibu yang memang sedang kesulitan memilih baju untukmu kemudian meminta bantuan padanya, dan seperti yang kau lihat. Pilihan Natasya memang terlihat pas di badanmu."


Mendapati reaksi yang sempat dibayangkan olehnya, Zara hanya bisa mengulum senyum. Hem, apakah selama ini tanpa disadari atau pun tidak, putranya mulai tertarik dengan gadis yang merupakan sekretaris pribadinya?.


Zara sendiri tak tau pasti, namun jika dilihat dari ekspresi wajah yang terkesan berlebihan. Mungkinkah putranya tersebut memang menyukai putri dari Anastasya?.


💗💗💗💗💗


Natasya sedang merapikan map terakhir di atas meja saat seseorang dari arah belakang datang menyapa.


"Natasya, sudah waktunya makan siang?." Suara bariton yang amat familiar bagi Natasya, menyapu indra pendengaran. Gadis itupun langsung bangkit dan menundukkan kepala.


"Baik, Tuan."


Ernest, pria pemilik suara bariton itu memimpin langkah, menuju ruang makan khusus petinggi perusahaan sementara Natasya mengekor di belakang.

__ADS_1


Sudah menjadi rutinitas harian, Natasya akan menemani Ernest makan dan berbicara. Mereka pun selalu menyantap makanan yang sama. Pada awalnya, karna rasa takut Natasya memang hanya mengikuti dan memesan makan yang dimakan oleh Ernest. Akan tetapi hal tersebut tanpa disadari berubah menjadi suatu kebiasaan. Ernest tak keberatan. Toh bukankah mereka sama-sama manusia, jadi wajar saja jika Natasya menyukai makanan yang selalu sama dengannya.


"Natasya," panggil Ernest selepas beberapa menit menatap lekat kehadapan sang gadis. Sementara gadis yang dipandangi tak menyadari. Ia justru sibuk menyuap dan mengunyah makanan tanpa menatap ke sekeliling.


"Ya, Tuan." Gadis yang disebut namanya, terkesiap. Ia lekas meletakkan sendok dan garpu di atas piring dan menyeka sudut bibirnya dengan lembaran tisu.


"Hei, kenapa menyudami makanmu. Habiskan saja. Kau tau, bukankah tidak baik jika meninggalkan meja makan namun masih menyisakan hidangan di piringmu, walau pun itu hanya sebutir nasi."


Natasya menelan ludah. Ia melurik pada piring bekas makan Ernest yang terlihat, bersih. Ya, Natasya akui, Ernest memang tidak akan bangkit dari meja makan sebelum sajian di piringnya bersih tanpa sisa. Berbeda dengan dirinya yang... Huh..


"Bukan selesai, tadi saya hanya terkejut begitu Tuan memanggil," kilah Natasya seraya tersenyum kikuk.


"Ayo lanjutkan, habiskan makanmu sebelum ayah peliharaanmu menjemput ajal."


Natasya mencebik. Tidak lucu, lagi pula di rumah dirinya tak memelihara Ayam. Gadis itu kembali menghabiskan makan dengan Ernest yang kembali memperhatikan.


"Terimakasih untuk pakaian yang sudah kau pilihkan untukku."


Natasya menghentikan suapan. Ia tatapan Ernest yang rupanya juga sedang menatapnya.


"Pakaian, maksud Tuan pakaian yang dibelikan Nyonya Zara untuk anda?."


"Ya, tentu saja, bukankah kau yang memilihnya?." Jika Ernest tersenyum tipis, berbeda dengan Natasya yang terlihat gugup. Duh, dalam hati ia merutuk Nyonya Zara yang terlalu jujur pada putranya.


"Maaf, jika lancang. Saya hanya berusaha membantu Nyonya yang sepertinya kebingungan." Hadis itu sendiri tak yakin dengan pilihannya. Ia takut jika pakaian itu tak sesuai atau pun terlihat kuno di mata sang atasan.


"Kenapa meminta maaf?. Lagi pula, aku suka." Natasya terkesiap, ia kini menatap pada Ernest. Sementara yang di tatapan gelagan. Ia lekas berdehem dan membuang pandangan. "Em, maksudku, aku suka dengan pilihanmu. Pas di badan dengan motif yang sesuai dengan keinginanku." Ernest menetralkan detak jantung yang tak beraturan pun dengan deru nafas dan pandangan mata. Demi apa pun, dirinya sedang terserang gugup. Dalam hati ia merutuk. Kenapa penyakit lama itu kambuh saat dihadapkan dengan Natasya. Sudah lama sekali dirinya tak mendapat serangan seperti ini. Terakhir kali ia alami saat Sandara tiba-tiba mencium pipinya saat keduanya masih belum berpacaran.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2