CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Terasa Hambar


__ADS_3

Mendung pekat mengelilingi langit Ibukota. Seperti hari-hari sebelumnya, hujan senantiasa menguyur bumi selama di penghujung bulan Desember. Kilat dan petir sesekali menyambar. Seakan tak perduli pada penduduk bumi yang lari bersembunyi, mencari tempat untuk berteduh.


Berbeda dengan sebagian orang di luaran yang tengah berjibaku dengan payung dan jas hujan, seseorang pria muda yang kini duduk bersandar di kursi kebesarannya, fokus kearah leptop yang menyala di hadapannya.


Terlukanya Isabel membuat Arka melimpahkan pekerjaannya pada satu putra lainya yaitu Ernest. Pria yang memiliki paras begitu mirip dengan Erich itu diharuskan berada di tempat guna memegang kendali perusahan milik keluarga untuk sementara waktu hingga sang ayah kembali.


Berbeda dengan Erich yang lebih tertarik untuk membangun bisnis sendiri, Ernest justru memilih untuk bekerja di bawah bimbing sang Ayah. Ernest menjabat sebagai Direktur operasional mendampingi sang ayah di Atmadja Corp.


Pintu ruangan bergerak tanpa menimbulkan suara. Disusul langkah hells yang semakin mendekat. Pandangan Ernest tetap terfokus dilayar, namun pria itu bisa menebak siapa yang datang memasuki ruangannya.


"Bukankah kau bisa mengetuk pintu lebih dulu, San?"


Langkah kaki itu tertahan. Ruangan menjadi senyap. Sosok gadis yang baru saja disebut namanya, menelan salivanya berat.


"Maaf," ucap sang gadis yang seketika menundukan kepala. Langkah kaki yang sudah separuh perjalanan mendadak kaku. Ia ragu untuk kembali melangkah atau justu memutar arah.


"Di luar perusahaan kau memang kekasihku, tapi jika di dalam lingkup perusahaan kau tetaplah Sekretarisku. Tetap ada aturan-aturan yang perlu kau taati. Jadi aku harap kau mengerti dan mulai bisa memposisikan diri."


Sandara, gadis berparas ayu itu kembali menelan salivanya berat. Kalimat yang tericap dari bibir Ernest, kekasihnya begitu dingin. Bak gumpalan salju yang bisa membekukan tubuhnya.


Sandara masih tak bergerak. Tetap terpaku di tempat dengan posisi tepat menghadap ke arah kekasihnya, namun sayang Erich sama sekali tak melirik dirinya.


"Maaf, sekali lagi aku minta maaf. Permisi." Sandara menundukan kepala, berniat untuk segera lenyap dari hadapan Ernest dan menanggis sepuasnya di balik pintu nanti.


"San, sebentar," tahan Ernest saat tubuh Sandara sudah berbalik.


"Ada apa?" Tanya Sandara tak kalah dingin.

__ADS_1


"Tidak ada, lanjutkan langkahmu."


Sandara geram. Giginya saling bergesekan menahan muak yang tak terkira. Ia kembali memutar badan. Menatap nyalang pada Ernest yang kembali sibuk pada layar laptop di hadapannya.


"Sebenarnya apa maumu? Untuk sekedar mempermainkanku atau kembali mengingatkan siapa posisiku sebenarnya bagi dirimu?"


Erich mendongak, mengerjap mata begitu mendapati Sandara berbicara cukup keras di hadapannya dengan nafas terenggah-enggah.


"San, apa maksudmu?" Suara Ernest melembut tak sedingin beberapa saat lalu.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa maksudmu sebenarnya. Kau berubah Ernest, sangat jauh berubah." Dada Sandara naik turun seirama tarikan nafas. Wajah gadis itu bahkan memerah, menahan amarah yang bergejolak di dalam jiwa.


Ernest menghela nafas. Pria itu bangkit, mulai melangkah untuk mendekati tubuh sang kekasih yang berjarak tiga meter darinya.


"Berhenti Ernest," titah Sandara dengan mengangkat satu tangannya. "Jangan mendekat." Sambung Sandara kemudian yang spontan membuat langkah Ernest terhenti.


"Sebagai seorang kekasih apakah aku salah jika meminta sebagian waktu untukmu. Sebagai kekasih apa aku juga salah jika menginginkan perhatianmu?"


"Hanya saja apa? Keluarga dan keluarga, selalu itu yang kau jadikan alasan. Padahal aku tau, mungkin itu hanyalah akal-akalan darimu untuk menjauhiku."


Ernest yang semula sempat melunak, kini mengeras kembali begitu mendengar sang kekasih membawa nama 'keluarga' sebagai biang permasalahan.


"Coba ulangi sekali lagi? Ayo coba ulangi sekali lagi ucapanmu, Sandara? Bukankah selama ini kau juga tau jika aku pulang pergi ke kota xx untuk melindungi nyawa saudara kembarku sendiri dan kenapa saat ini kau baru mempermasalahkannya?"


Sandara melengos, membuang pandangan agar tak bersitatap dengan mata elang sang kekasih.


"Kau juga mempermasalahkan waktuku yang berkurang untukmu, Bukankah kau sendiri tau jika Ayah mempercayakan perusahaan ini padaku sementara waktu hingga beliau kembali, lalu apa yang menjadi masalahmu sekarang?"

__ADS_1


Sandara mendengus. Nampak tak suka dengan jawaban Ernest.


"Aku memang tak membatasimu untuk melakukan hal apa pun ketika beradi di luar perusahaan. Akan tetapi jika di dalam perusahaan, aku mohon dengan sangat San, patuhi protokol yang ada. Bukankah kau sangat tau jika aku menjunjung tinggi kedisiplinan. Jangan sampai para karyawan berasumsi yang tidak-tidak tentang hubungan kita. Menyebar gosip murahan, hingga berimbas pada nama baik perusahaan. Aku tak ingin hal semacam itu benar-benar terjadi San, jadi aku mohon tetaplah pada batasanmu."


Huh


Sandara tak menjawab. Ia berbalik badan dan memilih pergi. Meninggalkan Ernest yang terpaku di tempat seraya menatap punggung sang kekasih hingga menghilang di balik pintu.


Ernest meraup kasar wajahnya. Dibuat frustrasi dengan tingkah sang kekasih akhir-akhir ini.


"Bukan aku yang berubah San, tapi kau sendirilah yang sudah banyak berubah," lirih Erich seraya menatap nanar pintu ruangan yang sempat di banting Sandara saat keluar ruangan.


Tidak sekali dua kali peristiwa semacam ini terjadi. Sandara yang menjabat sebagai sekretaris pribandinya dengan sesuka hati keluar masuk ruangan tanpa lebih dulu mengetuk pintu atau pun mengucap salam. Gadis itu kerap bertingkah semaunya, hingga tak jarang para staf saling mengunjingnya di belakang.


Ernest begitu mencintai Sandara. Semua orang yang mengenal keduanya pasti tau akan hal itu. Akan tetap akhir-akhir ini Erich justru merasakan hampar pada hubungan yang sudah ia dan Sandara jalani bertahun lamanya.


Sandara yang dulu ia kenal begitu lembut dan polos, mulai berubah. Kata-kata pedas nan menghunjam kerap gadis itu ucapkan dan puncaknya kini Sandara dengan lancang memakai nama keluarga, sebagai biang dari masalah yang menimpa keduanya.


Awalnya Ernest hanya berniat untuk mengingatkan San agar tetap menjunjung profesionalisme saat bekerja. Pekerjaan yang menumpuk serta kasus Erich yang memanas membuat Ernest terbawa perasaan hingga tanpa sadar melontarkan kalimat yang sejatinya menyakiti hati Sandara.


Rupanya gadis itu tak terima, namun sayangnya kenapa harus menyangkut pautkan keluarga Ernest sebagai ujung tombak.


Ernest menjatuhkan bobot tubuh di kursi kebesarannya. Rasa lelah yang mendera disekujur tubuh semakin bertambah dengan hadirnya masalah baru dikehidupan percintaannya.


Kehidupan Asmara yang dulu meluap-luap, kini berubah hampa dengan sendirinya. Manisnya cinta yang dulu dicecap, berlahan hambar seiring dua hati yang mulai tak saling mengerti.


"Apa kau masih meragukan seberapa besar cintaku, setelah apa yang sudah aku lakukan untukmu, San." Ingin rasanya Ernest berteriak tepat di telinga kekasihnya. Memastikan jika ada kekurangan darinya yang membuat sang kekasih seakan meragukan kesungguhannya. Akan tetapi, semuanya hanyalah angan mengingat Sandara sudah pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Tbc.


Tidak melulu kisah percintaan Erich ya, di sini kehidupan percintaan Ernest pun akan dikuak. Cus, tetep pantengin terus๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2