
Rasa tidak nyaman melingkupi. Kedatangan Ernest dengan membawa serta Sandara, seketika membuat suasana hati Ernest yang semula tampak tenang, perlahan mulai memanas. Pria itu tak banyak bicara dan menanggapi caandaan saudara kembarnya yang ikut bergabung di meja makan. Sandara sendiri berusaha sebaik mungkin menutupi rasa canggung, terlebih menyadari jika kehadiran dirinya sepertinya tak diharapkan oleh seorang Erich.
Zara coba mencairkan suasana. Bagaimana pun ia lah yang cukup banyak tau tentang hubungan cinta putra kembarnya. Sejauh ini, Erich dan Ernest memang sekali pun tak pernah terlibat cekcok, apalagi perkelahian antar saudara, namun dari keterdiaman yang Erich tunjukan, jelas jika prahara beberapa tahun silam masih belum bisa Erich lupakan.
"Bu, Erich sudah kenyang. Aku akan ke atas untuk beristirahat. Permisi." Pria yang masih mengenakan pakaian formal itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan selepas mencium pipi ibunya.
"Beristirahatlah nak." Zara menjawab lembut dan tak ragu mengusap rbut lebat sang putra penuh sayang.
Ernest dan Sandara hanya menatap kepergian Erich tanpa bicara, begitu pun dengan Emely. Untuk sejenak ruang makan yang semula ramai itu berubah senyap.
"Ehem." Zara coba menetralisir keadaan.
"Ernest, San, ayo lanjutkan makan kalian." Zara sigap menganggsur beberapa piring berisi kudapan kehadapan putra putrinya juga Sandara. Sebisa mungkin mengalihkan perhatian dari Erich yang baru saja memilih pergi.
"Terimakasih ibu." Sandara menjawab cepat. Gadis itu rupanya sudah cukup dekat dengan Zara, hingga memangil paruh baya itu dengan sebutan 'Ibu'.
Ernest dan Emely pun kembali melanjutkan makan meski tak terlalu bersemangat seperti sebelumnya.
Emely menghela nafas. Gadis itu cukupi menyayangkan tindakan sang kakak yang membawa pulang kekasihnya saat Erich sedang berada di rumah. Emely tau jika kejadian itu sudah lama berlalu, namun jika menilik dari sifat sang kakak sulung, ia yakin jika detik ini pun rasa sakit itu masih tersisa dalam hati Erich dan tak mungkin hilang begitu saja.
Emely tak tau sejauh mana hubungan yang terjalin diantara kakak kembarnya dengan Sandara di masa lalu. Namun Emely meyakini jika ketiga terlibat dalam hubungan kisah cinta yang cukup rumit.
💗💗💗💗💗
Erich memilih menyepi di sebuah ruangan. Bukan menghindar, hanya saja ia masih enggan jika berlama-lama berada dalam ruangan yang sama dengan Sandara, meski sejujurnya gadis itu sudah meninggalkan rumahnya sekitar satu jam yang lalu.
Erich lebih senang menghabiskan waktu di ruang kerja sang Ayah. Meski terkadang ia hanya akan membaca buku atau pun bermain ponsel.
Zara yang sudah faham tempat persembuyian sang putra, datang dengan membawa nampan berisikan Secangkir coklat panas dan juga camilan.
"Sayang," sapa Zara begitu pintu ruangan ia buka perlahan.
Erich rupanya terkesiap. Mungkin tak mengira jika sang ibu akan mendatanginya.
"Ck," Erich berdecak. "Untuk apa ibu mencariku. Aku hanya ingin sendiri." Erich tampak tak bersemangat.
__ADS_1
Zara menautkan sepasang alisnya. Benarkah jika putranya itu sedang tak ingin digangu?
Zara mendaratkan nampan tersebut di atas meja. Lengkung tipisnya mengulas senyum termanis untuk sang putra yang terlihat muram.
"Erich, ada apa denganmu? Kau tampak tak bersemangat selepas Sandara datang atau jangan-jangan ucapan Emely itu benar? Kau belum move on?" Zara tergelak mengucap kata diakhir kalimat. Move on.
Kembali, Erich berdecak. Itu sama sekali tidak lucu dan tak perlu untuk ditertawakan.
Zara menjatuhkan tubuh langsingnya di sebuah sofa, ikut bergabung dengan sang putra.
"Minumlah. Coklat hangat buatan ibu akan membuat suasana hatimu lebih baik."
Pria itu tak menolak. Ia menyesap coklat hangat itu perlahan. Menikmati sensasi rasa manis dan menenangkan dalam setiap tegukan.
Zara membiarkan sang putra menikmati kudapan yang ia bawa dalam diam. Mungkin selepas merasa nyaman, putranya itu bersedia untuk membagi sedikit masalah pribadinya pada sang ibu.
"Erich."
"Ya."
"Ya, aku tau itu."
Jawaban datar sang putra membuat Zara menghela nafas dalam.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini saat Sandara datang."
"Maksud ibu?" Erich tak mengerti.
"Berdamailah dengan keadaan. Lupakan sesuatu yang akan membuatmu sakit saat mengingatnya."
Erich terdiam. Ia seperti enggan menjawab. Fikirannya justru melanglang buana. Kenapa hingga dirinya terkesan tak menyukai dengan hubungan yang terjalin di antara saudara kembarnya dan Sandara.
Sandara. Siapa sandara? Erich mengingat sebuah panti asuhan di mana ia dan Sandara untuk pertama kalinya dipertemukan. Erich dan Ernest memang dibatasi untuk masalah pergaulan. Akan tetapi sedari kecil pun Zara sudah mengarahkan keduanya untuk saling berbagi dengan memberikan bantuan ke yayasan amal atau pun tempat ibadah.
Erich yang merupakan donatur tetap di sebuah panti asuhan tak sengaja menabrak seorang gadis yang merupakan salah satu utusan dari sebuah universitas untuk menyerahkan dana bantuan yang kerap mahasiswa kumpulkan untuk disumbangkan.
__ADS_1
Awalnya Erich acuh, namun diluar dugaan rupanya mereka dipertemukan kembali di tempat yang sama beberapa minggu kemudian. Pada akhirnya keduanya pun berkenalan, Erich yang memang tak memiliki banyak teman, rupanya dibuat cukup nyaman dengan seorang Sandara yang periang dan mudah bergaul dengan siapa saja.
Seiring berjalannya waktu Erich dan sandara mulai dekat. Keduanya bertukar nomor ponsel dan kerap berbagi kabar lewat alat komunikasi pintar itu. Selayak seorang teman juga sahabat, Erich juga memperkenalkan Ernest pada Sandara saat mereka bertemu di suatu tempat untuk makan siang.
Erich menghela nafas dalam. Mengingat semuanya justru membuat hatinya terasa perih.
Sang Ayah memang tak melarangnya untuk berteman dengan siapa pun termasuk Sandara. Hingga sebuah uangkapan yang terlontar dari bibir Sandara malam itu, menghancurkan segalanya.
"Erich, jujur aku menyukaimu. Aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Aku mohon, terimalah cintaku." Sandara berdiri tepat di hadapan Erich. Gadis itu bahkan menggengam kedua tangan Erich dengan sorot mata penuh pengharapan. Demi apa pun Erich terperanggah. Ia bahkan hanya menggap Sandara seorang sahabat, tidak lebih. Tetapu kenapa....
Erich tertegun. Ia bahkan tak bisa berkata-kata. Sampai keduanya terpisah pun, tak ada kata yang terucap dari bibir pria itu sebagai jawaban. Entah itu sebuah penolakan atau pun penerimaan.
"Kau tau Erich, sepertinya aku jatuh hati pada San." Ernest kini yang memberi pernyataan mengejutkan. Sekali lagi, keterkejutan kembali dirasakan Erich. Ernest tertarik pada Sandara, bahkan ia memiliki sebutan tersendiri untuk gadis itu. SAN..
Erich tak tau hendak menanggapi apa. Lagi pula ia pun tak memiliki peasaan khusus untuk Sandara, murni hanya hubungan pertemanan untuk saat ini.
Waktu berjalan, Ernest sepertinya kian gencar untuk mendekati Sandara dengan berbagai cara. Erich Acuh. Dan pernyataan cinta Sandara pada malam itu pun sudah ia lupakan. Ia tak menganggapnya serius dan menganggapnya hanya angin lalu.
Saudara kembar itu memang masih baru saja menapaki dunia bisnis mengikuti jejak sang ayah juga merupakan warisan turun temurun dari keluarganya. Keduanya diminta untuk fokus pada bisnis lebih dulu dan mengesampingkan urusan asmara.
Erich yang memiliki sifat tegas seperti sang Ayah, begitu antusias dalam mendapatkan bimbingan juga arahan dari pihak pengajar yang merupakan seorang pakar bisnis.
Sandara berangsur hilang dalam fikirnya, bergantikan dengan dunia bisnis yang selama ini menjadi impiannya. Akan tetapi, semua mendadak oleng saat Sandara kembali datang dengan membawa sepasang kalung dengan liontin separuh hati.
Erich masih kebingungan untuk menelaah maksud tindakan gadis itu. Memang tak banyak kata yang terucap dari bibir San, namun satu yang Erich ingat, jika rasa yang dimilik Sandara untuknya tak akan berubah. Sampai kapan pun.
Ketegujan Erich perlahan oleg. Terlebih beberapa hari kemudian Ernest memberi pernyataan jika Ia sudah mengutarakan perasaan cintanya pada San dan gadis itu menerimanya.
Erich tertegun. Bahkan ucapan San yang mengatakan jika akan menyimpan rasa untuknya sampai kapan pun, masih jelas terngiang di telinga, namun didetik ini Ernest justru mengungkap hal yang jauh berbeda.
Sebenarnya hatimu untuk siapa, Sandara.
Kedua tangan Erich mengepal. Ia memang tak menaruh rasa pada San, tetapi ia juga tidak mengira jika gadis itu berniat untuk mempermainkan perasaanya.
Kau munafik, San.
__ADS_1
Bahkan hingga detik ini pun Ernest tak pernah tau jika San pernah menaruh hati pada Erich sebelumnya.