
Semalaman Isabel tak mampu tidur dengan lelap. Selepas mengetahui jika mendiang ibunya masih meninggalkan sebagian harta untuknya, gadis itu memutar otak, menyusun strategi untuk lebih dulu mendapatkan tempat tinggal yang layak sebelum keluar dari rumah ini.
Isabel sadar, jika tidak akan semudah itu untuk bisa keluar dari jeratan sang ibu dan saudara tirinya. Isabel layaknya seorang psakitan yang hidup terikat dan dikendalikan oleh mereka.
Satu-satunya orang yang berpihak padanya di rumah ini hanyalah Ratih. Baik pelayan atau pun pengawal yang digaji Arum, berada dalam kubu perempuan baya itu.
Isabel tersenyum getir. Mungkin benar jika uang bisa membeli segalanya, termasuk harga diri seseorang. Orang-orang yang dulunya berpihak, kini justru berkhianat. Harta yang kini berhasil direbut Arum, sengaja digunakan perempuan itu untuk senjata untuk mencari dukungan.
Sayang, sebagian orang-orang terbaik Praja tak kuat mental. Hanya berimingkan jabatan, mereka berbalik arah. Tak ada lagi dukungan atau sekedar ucapan simpati untuk seorang Praja yang kini hanya mampu terbaring di atas ranjang.
Arum berhasil mengantikan kedudukan Praja di perusahan. Isabel sendiri tak yakin jika sang ibu memiliki kepintaran yang mempuni untuk bisa mengendalikan bisnis properti yang dikembangkan sang Ayah belasan tahun lalu. Akan tetapi, lagi-lagi uang seolah menjadi sumber penyelesaian masalah.
"Ck, bahkan Ayah Steven yang tangan kanan Ayah pun kini menjadi tamengmu. Kau benar-benar hebat, ibu tiriku," gumam Isabel ditengah keterputusasaan.
Lalu pada siapa lagi gadis itu akan meminta bantuan?
Pusing. Isabel mengacak rambutnya, frustrasi. Sebelum pagi kian merangkak naik, gadis itu memutuskan untuk cepat keluar kamar dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang selama ini memang sudah dilimpahkan padanya.
Di kediaman ini memang ada beberapa pelayan perempuan yang bertugas untuk membersihkan rumah. Akan tetapi mereka hanya dikhususkan untuk membersihkan lantai dasar. Sedangkan lantai kedua, Arum memberikan tugas khusus itu untuk Isabel.
Isabel hanya pasrah. Terlebih ia melakukan semuanya hanya untuk mendapatkan uang saku sebagai imbalan.
Semenjak laura meninggal, Arumlah yang bertugas mengendalikan semua keuangan di dalam rumah, termasuk uang saku Isabel.
"Hadapi semuanya dengan senyuman Isabel. Bukankah kau sudah sering melakukannya." Mungkin terdengar seperti kalimat penyemangat. Namun gadis itu justru menitikan air mata saat kain lap sudah dalam gengamannya. Setiap kali ia membersihkan sudut rumah, ia selalu teringat akan mendiang sang bunda yang seakan masih menampakkan diri di mana-mana.
Sang ibu meninggal secara perlahan akibat sakit hati yang terus ia tahan. Tubuh sintal itu perlahan mengurus, bahkan tinggal tulang saat menjemput ajal. Pengkhianatan sang suami bagaikan hantaman besar, yang mampu menghancurkan hidup bahkan perasaannya. Sang ibu pergi, pergi membawa luka tanpa ada penawar.
💗💗💗💗💗
"Nona, ayo ikuti bibi." Setengah berbisik Ratih memberi isyarat pada Isabel lewat gerakan tangan. Isabel yang masih terengah selepas beberapa saat merampungkan pekerjaan itu dibuat kebingungan.
"Ada apa?" Jawab Isabel ikut setengah berbisik.
"Ikut bibi ke kamar. Kita harus mulai mengatur strategi sebelum semuanya terlambat."
Isabel mengangguk. Gadis itu mempersilahkan Ratih untuk memasuki kamar lebih dulu agar tak mengundang kecurigaan.para pelayan yang memang sudah dijadikan mata-mata oleh Arum.
Beruntung kamar Ratih berada di ruangan paling ujung dan belakang. Akan jarang sekali orang melintas membuat kedua perempuan berbeda generasi itu bisa berbicara cukup leluasa.
Ratih mengunci pintu kamar rapat setelah lebih dulu memeriksa keluar kamar. Aman, fikirnya. Isabel yang masih berdiri tak jauh dari pintu, ia bimbing untuk duduk di atas ranjang sempitnya.
"Apa bibi bisa memastikan jika semuanya aman?" Sejujurnya Isabel pun tak memiliki nyali sebesar itu untuk keluar dari rumah tanpa prahara.
Ratih menggeleng samar. Paruh baya itu pun memasang raut cemas.
"Entahlah. Namun hanya inilah satu-satunya cara untuk nona dan tuan besar pergi dari rumah ini."
__ADS_1
"Tapi mustahil kita bergerak tanpa bantuan orang lain. Sedangkan ibu Arum begitu memperketat penjagaan dan membatasi kita untuk berinteraksi dengan dunia luar. Bibi pasti tau jika tak mungkin ada orang lain yang mau membantu kita, terlebih dengan kondisi ayah saat ini, pasti akan sulit." Pasrah, mungkin itu menjadi satu-satunya pilihan. Tetap terkurung dalam istana serasa neraka, dalam batas waktu yang tak diketahui.
"Sejak kapan nona berubah menjadi sosok yang pesimis, kita bahkan belum memulai tetapi nona sudah menyerah."
Gadis itu tertunduk. Benar ucapan Ratih. Semangatnya yang dulu berkobar, kini seolah meredup bahkan nyaris padam. Mungkin lelahnya hidup membuat gadis itu tak yakin bisa keluar dari rumah dalam keadaan selamat.
"Entahlah, bi. Aku pasrah. Mungkin kita tetap tak bisa melawan Ibu Arum seperti sebelum-sebelumnya."
"Nona, sadar, kita harus bangkit. Setidaknya ini demi kesembuhan tuan besar. Apa nona bisa membayangkan jika kita keluar dari sini, maka kita bisa membawa tuan besar untuk berobat di rumasakit mana saja dengan uang yang nona miliki."
Benar juga. Fikiran Isabel mulai terbuka sekarang. Jika berhasil keluar dari rumah ini, maka ia akan pergi sejauh-jauhnya ke tempat yang tak terendus oleh Arum dan para anteknya. Akan tetapi bagaimana caranya.
"Tapi bagaimana caranya?"
Keduanya saling pandang, seraya berfikir rencana apa yang akan mereka jalankan.
"Em, sebentar." Isabel berfikir dalam. Seperti ada beberapa ide yang bermunculan dibenaknya.
"Apa nona?"
"Em, untuk meminta bantuan para pengawal, sepertinya tidak mungkin. Mereka pasti lebih dulu memberi hukuman bahkan sebelum kita mencapai pintu gerbang."
Ratih memijat pelipis. Fikiranya benar-benar buntu.
Ayo berfikir Isabel. Gunakan waktumu dengan sebaik mungkin.
Sebentar. Bukankah mereka membutuhkan bantuan dari orang-orang yang berpihak. Lalu siapa? Arum bahkan mencuci otak orang-orang terdekat praja untuk balik berpihak padanya. Dan kini tinggal...
Kesalah pahaman membuat Praja dan seluruh keluarga Laura berdebat. Hingga pada puncaknya Praja memutuskan hubungan begitu pun dengan Isabel yang sama sekali tak diperbolehkan untuk menemui saudara-saudari dari mendiang ibunya.
Dan hingga beberapa tahun berselang akankah mereka masih mengingat Isabel? Bagaimana jika mereka menolak untuk memberi bantuan?.
"Nona yakin?"
"Tidak ada salahnya untuk mencoba."
Ratih mengangguk. Paruh baya itu bangkit dari bibir ranjang menuju kearah lemari pakaian. Isabel menatap punggung Ratih yang bergerak. Paruh baya itu seperti mencari-cari sesuatu dalam lipatan pakaiannya.
"Syukurlah, bibi fikir jika sudah hilang." Ratih berbalik badan dengan buku catatan di tanangan.
"Bibi, itu apa?" Isabel dibuat penasaran. Ratih duduk ditempatnya semula. Mulai membuka lembaran buku dan memperlihatkannya pada Isabel.
"Ini buku catatan nomor telepon keluarga Nyonya dan Tuan. Bibi memang sengaja tidak menyimpannya di dalam ponsel. Takut ketahuan nyonya Arum, maka lebih aman jika bibi menulisnya di sini."
Sontak senyum tipis bercampur hari terpancar pada paras Isabel. Ia tidak mengira jika Ratih akan berfikir sejauh ini.
"Lalu siapa dulu yang akan kita hubungi?"
__ADS_1
Ratih seperti menimang. Membaca seksama barisan nama dan juga nomor kontak keluarga laura.
"Bagaimana jika tuan Leon?"
"Paman leon?"
Ratih mengangguk, meski tak seratus persen yakin. Sedangkan Isabel sendiri sudah hampir lupa seperti apa waja adik dari ibunya itu dulu.
"Kita coba."
Isabel lekas merogoh ponsel miliknya yang tersimpan dalam saku pakaian. Menekan beberapa digit angka lantas menghubunginya dengan perasaan luar biasa berdebar.
Beberapa detik kemudian masih tak terdengar jika panggilan tersambung dan terputus tiba-tiba. Begitu pun seterusnya.
"Mungkin nomor kontaknya sudah tak bisa dihubungi." Isabel kecewa, tentu saja sebab gadis itu sudah menaruh harapan besar pada adik bungsu ibunya itu.
"Sebentar nona, bagaimana jika kita hubungi tuan Thomas?"
Thomas? Gadis itu coba mengingat-ingat.
"Paman thomas? Bukankah dulu beliau tinggal di luar negeri?"
"Benar juga."
Keduanya menghela nafas. Kiranya rencana yang coba mereka susun dipastikan tak akan pernah terealisasi, bahkan sampai kapan pun.
"Nona, tidak ada salahnya untuk mencoba." Lagi, Ratih masih terus menyemangati.
"Baiklah." Jemari gadis itu bahkan sudah melemah dan tak bertenaga. Ia seperti tak punya lagi harapan.
Ia tekan kembali beberapa digit angka diponsel. Menekan tombol panggil seraya merapalkan doa.
Tutt
Tutt
Tutt
(Panggilan tersambung ya guys, bukan suara kentut 😅)
Tersambung, namun tak ada jawaban. Isabel tak patah arang, ia coba lagi dan lagi hingga panggilan ke 5.
"Baiklah, ini usaha terakhir. Setelah ini, aku menyerah."
Tutt
Tutt
__ADS_1
"Ya, hallo. Dengan siapa di sana."
Isabel tersentak. Rasa terkejut dan senang bercampur menjadi satu. Begitu pun Ratih. Ya, setidaknya mereka masih punya harapan.