
Sepasang mata elang itu tengah menatap sendu seseorang yang kini duduk di sampingnya. Air hujan yang turun, rupanya bukan hanya menyirami bumi tetapi juga hatinya yang sekian tahun ini terasa gersang, setelah dapat menatap seraut wajah perempuan yang selama ini amat ia rindukan.
Rangga tak mengalihkan pandangan dari wajah Anastasya yang justru tertunduk dan enggan untuk menatapnya. Sang pria hanya bisa menghela nafas. Akan tetapi di balik semua sikap yang perempuan itu tujukkan, Rangga tetap bersyukur sebab Anastasya sudi untuk memberinya waktu bicara.
"Apa kabar?." Masih berbasa basi. Rangga pun masih kesulitan untuk merangkai kata. Melemparkan banyak tanya yang sekiranya tak membuat gadis di depannya ini jengah.
"Baik." Hanya satu kalimat sebagai jawaban dari pertanyaan Rangga.
Lagi, Rangga menghela nafas. Ia bisa merasakan jika saat ini Anastasya seperti tak nyaman duduk di sampingnya. Mereka berbicara masih di sekitar toko bunga, hanya saja menjauh dari pandangan para karyawan dan pelanggan.
"Maaf jika kedatanganku membuatmu tidak senang."
Anastasya menelan ludah. Sesungguhnya ia ingin memaki pada takdir yang kembali mempertemukan mereka berdua setelah sekian lama berpisah. Ah, bukan itu yang menjadi masalahnya sekarang, tetapi untuk apa Rangga menemuinya. Terlebih saat pertama berjumpa, pria itu sama sekali tak terkejut ketika melihatnya. Sungguh berbanding terbalik dengan reaksi dari dirinya.
"Maaf, kiranya untuk keperluan apa anda datang ke mari. Jika ingin memesan bunga atau apa pun yang berhubungan dengan toko, anda bisa tertanya langsung pada karyawan."
"Tapi aku ingin berbicara denganmu, Anastasya. Tolong, jangan menghindar." Rangga memohon, pria tampan itu sampai menangkupkan kedua telapak tangan. Meminta pada Anastasya untuk tak terus menghindar dan mencari alasan untuk pergi.
__ADS_1
Anastasya menelan ludah. Baiklah, dirinya hanya bisa pasrah. Sementara Rangga, pria itu masih sibuk menata kalimat. Entah ia akan memulainya dari mana. Bersikah dan berbicara sehati-hati mungkin agar Anastasya mau berbicara padanya.
💗💗💗💗💗
"Ibu?." Siang ini Rangga menatap penuh tanya pada sang Ibu yang datang menemuinya di kantor dengan membawa kotak bekal.
"Ernest, kau belum makan siang 'kan?." Perempuan itu bertanya pada sang putra selepas menutup kembali pintu ruang kerjanya.
Pria tersebut pun menggeleng.
"Belum, Ibu."
Ernest mengernyit.
"Tumben."
Zara berdecak. Memang dirinya jarang sekali datang ke kantor untuk membawakan bekal suami atau pun putranya, akan tetapi ia tak pernah absen memasak jika sedang berada di rumah. Terlebih jika makan siang pun, Arka yang lebih senang pulang dan makan bersama dengannya. Jadi untuk apa lagi dirinya ke kantor?.
__ADS_1
"Kau ini ya, bukannya senang tapi malah heran," gerutu Zara pura-pura marah.
"Loh, bukannya ini memang kejadian langka?. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali Ibu datang dan membawakanku bekal sebelum hari ini." Ernest tergelak melihat wajah mendung sang Ibu jika diungkit masalah yang menyentil jiwa ke ibuannya. "Maaf, Ibu. Aku hanya bercanda." Ernest menghampiri sang Ibu yang sedang merapikan kotak bekal di meja. Ia usap bahu perempuan itu sebagai permintaan maaf.
"Ayo, makanlah," titah Zara. Perempuan itu duduk, namun seperti sedang memikirkan sesuatu.
Ernest menatap makanan yang dibawa sang ibu penuh minat. Wow, masakan sang Ibu memang tak pernah mengecewakan lidah.
"Em, Ernest. Bagaimana jika kita ajak Natasya untuk makan siang bersama?." Begitu pandangan keduanya bertemu, Zara sontak membuang wajah. Perempuan itu seperti salah tingkah. "Lagi pula, bukankah setiap makan siang kalian selalu bersama?."
Ernest terdiam. Sungguh, ia terkejut dengan ucapan sang ibu yang meminta Natasya untuk ikut bergabung. Akan tetapi, ada angin apa hingga sang Ibu sampai terfikir oleh Natasya yang saat ini sedang berada di luar ruangan dan mungkin saja sedang menyelesaikan pekerjaannya.
"Boleh," jawab Ernest pada akhirnya.
"Baiklah, biar Ibu yang panggilkan sekarang. Kau makan saja, Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu." Zara tersenyum senang dan beranjak. Sementara Ernest, pria itu berfikir dalam. Kenapa akhir-akhir ini sikap sang Ibu cukup aneh. Jika semalam dirinya sempat melihat Ibunya dan Natasya berpelukan saja sudah membuatnya heran namun tak ingin membahasnya. Lalu apa yang terjadi sekarang?.
Andai Natasya masuk, melihat kami makan dan Ibu menawari, itu tentu dikatakan wajar. Tapi ini, Ibu bahkan mencarinya keluar. Ada apa ini?.
__ADS_1
Tbc.