
Suasana hangat masih begitu terasa di kediaman Erich. Kedua orang tua Erich dan lainnya masih bertahan. Menginap beberapa malam kedepan untuk melepas rindu sekaligus membereskan masalah yang tanpa sengaja menyeret sang putra.
Jika para pria memilih menghabiskan waktu santai mereka untuk membahas bisnis di taman belakang. Berbeda halnya dengan Zara yang memilih menyibukan diri di dapur mempersiapkan hidangan untuk makan malam.
Paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar itu begitu cekatan mengupas dan memotong sayur-sayuran ditemani oleh Retno dan bibi pelayan. Isabel yang masih merasa asing, memilih mengintip dari sekat dinding dapur. Isabel tak punya keberanian juga kepercayaan diri untuk ikut bergabung dengan Ibundanya Erich. Gadis itu cukup tau diri. Dikediaman mewah ini status dirinya hanya seorang tamu yang mungkin saja tak mereka inginkan.
Beberapa saat Isabel terpaku di tempatnya. Melihat aktifitas Zara secara diam-diam, layaknya pengintai. Gadis itu menghela nafas, mungkin kakinya cukup lelah setelah cukup lama berdiri hingga berniat untuk kembali ke kamar tamu. Memutar tumit, kaki jenjang itu hendak melangkah namun sapaan seseorang menghentikan langkahnya.
"Isabel, apa yang sedang kau lakukan?" Zara, Retno juga bibi pelayan sontak menatap Isabel. Gafis itu menelan ludah, medadak gemetar seolah tertangkap basah kedapatan tengah mencuri.
"Sa-saya hanya sedang.."
"Ayo, kemarilah," pinta Zara dengan suara begitu lembut beserta lambaian tangan.
Ragu namun Isabel pun mulai mendekat. Setidaknya ibu dari Erich masih memperlakukannya cukup baik, begitu fikir Isabel.
"Em, Isabel," pangil Zara pada Isabel yang kini sudah memposisikan tubuh berdiri di sampingnya. Menghadap meja di mana Zara mempersiapkan bahan-bahan masakan.
"Iya, nyonya."
"Hust. Jangan panggil aku nyonya, pangil saja Ibu Zara. Terdengar lebih santai 'kan?"
Isabel tersenyum kikuk. Ucapan Zara seolah mampu memusnahkan kecanggungan yang melanda. Perempuan ramah itu begitu supel dan cepat akrab. Maka tak urung segala bentuk perhatian juga kebaikan Zara, mampu membuat seorang Isabel nyaman dan betah berlama-lama berada di dekatnya.
__ADS_1
"Aku juga punya putri seusia denganmu. Jadi, kau juga jangan canggung memanggilku ibu," tegas Zara.
Isabel mengangguk pasrah. Sepasang matanya bergerak mengamati pergerakan tangan Zara yang disibukan dengan aktifitasnya mengupas dan mengiris beberapa macam sayuran.
"Isabel, kau bisa memasak?"
Gadis itu berfikir sejenak lantas menjawab, "Sedikit."
"Hem, benarkah?"
Lagi-lagi Isabel menganggukan kepala.
Zara lekas meraih sebuah pisau dapur dan memberikannya pada Isabel, dengan perlahan perempuan itu mengajarkan cara-cara mudah seperti mengupas sayur kemudian memotongnya. Isabel sendiri yang sebenarnya sudah mahir memasak, mengikuti setiap perintah Zara. Jemari lentiknya nampak cekatan dan sama sekali tak kaku hingga Zara pun dapat menilai jika sebenarnya gadis di sampingnya itu tak berucap jujur dengan menutupi kebenaran yang ada.
Isabel tentu hanya bisa tersenyum tipis. Ia tak berani menjawab apalagi menyangkal.
"Baiklah, aku tau jika sedikit banyak kau pasti bisa memasak. Maka dari itu, bantulah aku." Zara meminta pada bibi pelayan dan Retno untuk beristirahat. Hingga kini Zara dan Isabel-lah yang sibuk berkutat dengan bahan masakan di dapur. Coba mengakrabkan diri sekaligus berkolaborasi dalam menyajikan menu makan malam yang nikmat untuk dinikmati bersama.
💗💗💗💗💗
Sepanjang makan malam terdengar beberapa kali pujian dari para penikmat hidangan untuk koki cantik yang sepertinya tak pernah absen menyajikan santapan nikmat saat berada di meja makan, Zara.
Arka begitu lahap menyatap sup daging yang memang menjadi masakan favoritnya. Begitu pun dengan putra kembarnya yang sepertinya begitu banyak mewarisi gen sang ayah sekaligus makanan kesukaannya.
__ADS_1
Sam dan langit putranya pun juga terlihat lahap. Sepasang ayah dan anak itu memilih menu lain, hingga pilihannya jatuh pada salmon saus krim dan tumis brokoli jamur.
Disudut lain Zara juga mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Mengikuti selera sang suami dan putranya, Zara juga menyantap sup daging untuk mengisi perutnya.
Di antara beberapa insan yang begitu lahap menikmati makan malamnya, di sebuah kursi seorang gadis tampak tertunduk menahan tangis selepas menyuapkan nasi dan pesmol ikan ke dalam mulutnya.
Rasanya, hampir sama.
Dada Isabel bergemuruh. Rasa dari masakan yang ia suapkan kedalam mulut seakan membangkitkan memori masalalunya dengan mendiang ibunya, Laura.
Pesmol ikan memang menjadi makan favoritnya sedari kecil. Laura dengan senang hati membuat begitu sang putri menginginkannya. Dan beberapa saat lalu saat Zara menawarkan padanya untuk dibuatkan masakan, entah mengapa dengan begitu ringannya Isabel mengucap pesmol ikan. Hingga berakhir seperti inilah. Kerinduan yang sekuat tenaga ia kubur, kini berkobar kembali bahkan semakin membara. Akan tetapi gadis itu sadar, di mana posisi dirinya sekarang. Air matanya tak boleh keluar di hadapan banyak orang. Ia tak ingin terlihat lemah dan dikasihani.
Isabel lekas menyeka lelehan bening yang baru saja mengalir dari sudut mata. Cepat-cepat, agar tak ada seorang pun yang melihat. Akan tetapi, naas. Erich lebih dulu menangkap basah dirinya. Pria dengan pakaian santai itu mengalihkan pandangan, menurunkan sendok dan garpu dari gengaman kemudian menyeka sudut bibirnya dengan tisu.
"Erich, habiskan makanmu," titah Zara saat mendapati sang putra menghentikan aktifitas makannya saat makan di piringnya masih tetsisa separuh.
"Maaf ibu, aku sudah kenyang."
Zara hanya terdiam seraya menghela nafas dalam.
"Maaf, aku harus ke kamar sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku cari dibsana." Erich beranjak meninggalkan meja makan. Jujur, rasa lapar yang beberapa saat lalu sempat melanda, sirna seketika begitu Isabel menitikkan air mata di depan sepiring nasinya. Perasaan Pria itu tak karuan. Kiranya beban seberat apa yang tengah dipikul oleh gadis muda itu bahkan di saat makan pun bukanlah senang yang ia dapat namun justru tangis yang gadis itu hadirkan.
Tbc.
__ADS_1
Tetap beri dukungan kakak😍