
Kicau burung bersahutan. Mentari dengan sinar keemasan, malu-malu menampakkan diri dan bersembunyi di balik awan. Pagi diakhir pekan yang banyak ditunggu sebagian besar penduduk bumi untuk beristirahat. Merelaksasi fikiran sejenak dari rutinitas pekerjaan.
Di salah satu apartemen seorang gadis masih bergelung di bawah selimutnya. Ia masih tertidur pulas di atas ranjang king size yang begitu nyaman.
Empuk dan hangat membuat sepasang mata gadis itu masih terpejam rapat meski mentari terus merangkak.
Suara bising yang berasal dari ponsel di atas nakas rupanya mengusik tidur lelap sang gadis, hingga mulai menggeliat. Nada ponsel kembali terdengar selepas beberapa detik terhenti. Gadis itu merasa terusik. Mata yang masih terpejam ia paksa untuk sedikit demi sedikit terbuka begitu pun dengan tubuhnya yang masih lemas ia paksakan untuk bangkit. Mengumpat, gadis itu mengarahkan satu tanggannya untuk bergerak mengapai benda pipih yang terus menciptakan suara bising yang mengganggu tidur lelapnya.
"Huh." Helaan nafas terdengar saat ponsel pintar itu sudah dalam gengaman. "Rupanya hanya alarm," gerutu Sandara nyaris melemparkan kembali ponselnya ke tempat semula saking geramnya. Ia pun kembali menjatuhkan tubuh di tempat tidurnya semula.
Sandara fikir jika Ernest_lah yang menghubunginya sepagi ini, tapi nyatanya peringatan alarmlah yang membuat tidur cantiknya sudah terusik.
Sepasang mata indah itu enggan untuk terpejam. Terlebih sinar mentari dari luar sudah memasuki celah jendela kamarnya yang sedikit terbuka.
Sandara memutuskan untuk bangun, dalam posisi duduk punggung ia sandarkan ke kepala ranjang. Sepasang mata itu benar-benar terbuka, kantuknya sudah menghilang sekarang. Gadis itu melirik ke arah ponselnya yang tergeletak kemudia menghela nafas. Kekecewaan mulai mendera saat beberapa saat lalu tak menemukan jejak panggilan atau pun pesan dari kekasih tercinta, Ernest.
Akhir-akhir ini memang sepasang kekasih itu kerap terlibat adu mulut. Masalah yang bertubi-tubi datang seakan menguji kokohnya hubungan yang sudah bertahun lamanya dibina. Sandara pun menemukan satu ide cemerlang. Sebuah ide yang diyakini bisa menghangatkan kembali hubungan cintanya dengan Ernest.
Sandara bersiap, membersihkan diri kemudian berpenampilan serapi mungkin untuk berkunjung ke rumah keluarga Ernest. Sepertinya sudah cukup lama ia tak bersua dengan Orang tua dan adik Ernest. Bergegas ia menaiki kuda besi miliknya dan singgah sebentar untuk membeli buah tangan sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang.
Beberapa pelayan rumah Ernest tersenyum lebar begitu Sandara keluar dari pintu kendaraan. Tentu para pelayan sudah mengenal tamu yang datang berkunjung.
"Selamat pagi," sapa Sandara pada pelayan yang menyambutnya hangat.
"Selamat pagi, Nona San," jawab beberapa pelayan serempak.
Satu pelayan mengikuti langkah Sandara yang mencari keberadaan kekasihnya. Nihil, gadis itu tak menemukan pria yang dicari, namun bertemu dengan Zara yang duduk santai sembari membaca majalah di ruang keluarga.
"Bibi." Sandara setengah berlari untuk memeluk Zara, hingga Zara yang belum sadar dengan kedatangannya dibuat terkesiap.
"Aku rindu Bibi Zara. Sudah lama kita tidak bertemu, kan?" Bukan hanya memeluk, Sandara juka mencium kedua pipi Zara.
Zara tersenyum lembut. Ia membalas peluk serta ciuman Sandara dengan usapan di puncak kepala.
"Duduklah," titah Zara. "Bibi juga merindukanmu, San. Em, apa kau sudah menemui Ernest?" Zara meminta Sandara untuk duduk sementara pandangannya menyebar kesegala penjuru, mencari keberadaan Ernest, namun putranya itu seperti tak terlihat.
__ADS_1
"Belum. Aku sudah mencari tetapi belum menemukannya." Setengah cemberut, gadis dengan rambut tergerai indah itu berpura merajuk.
Zara berfikir sejenak. Mengingat di mana terakhir kali ia melihat Ernest.
"Em, apa mungkin Ernest masih berada di ruang gym?" Beberapa jam lalu Zara memang melihat putranya memasuki ruangan tersebut. Begitulah rutinitas Ernest saat akhir pekan yang akan ia habiskan waktu paginya untuk berolah raga.
"Benarkah?"
"Ya, coba saja kau lihat untuk lebih memastikan."
Sandara tersenyum tipis kemudian mengeleng.
"Biarkan dia berolah raga. Aku akan menemani Bibi di sini saja."
Zara tentunya tersenyum senang. Cukup lama mengenal Sandara membuat hubungan kedua perempuan itu terbilang cukup dekat. Meski tak sedekat Emely, putri bungsunya, namun Zara menghargai dan menyayangi Sandara yang merupakan kekasih dari putranya.
Lama menunggu kemunculan Ernest, Sandara memilih mengikuti aktifitas Zara di dapur, memasak untuk makan siang keluarga dibantu oleh koki.
"Bibi, biar aku bantu," tawar Sandara saat melihat Zara sibuk memotong berbagai macam sayuran untuk dijadikan salad.
Seorang koki tampak begitu cekatan, begitu pun dengan Zara. Sementara Sandara lebih banyak mengamati atau pun membantu hal-hal yang terbilang mudah saat memasak seperti memotong bawang atau pun cabai. Zara sendiri sempat mencegah, namun Sandara tampak ngotot dan terus meminta bagian. Alhasil gafis cantik itu pun harus menangis saat pedasnya kupasan bawang merah menyapa kedua mata beningnya.
"Bukankah sudah Bibi bilang, San. Ini akan membuat matamu pedih dan berair," terang Zara saat melihat Sandara menangis dan sibuk mengipasi matanya dengan kedua tangan.
"Tapi aku hanya bisa membantu di bagian ini, Bibi. Aku tak mahir memasak," keluh Sandara seraya menikmati penderitaannya. Mata pedih dan berair, sungguh menyiksa.
"Sekarang duduklah. Cukup perhatikan kami dari kursimu. Kau bisa mengamati dan mempraktekannya lain kali. Ok?"
Pasrah, Sandara hanya bisa menganggukkan kepala. Ia menepi, duduk di sebuah kursi dengan wajah tertekuk.
Zara kembali melanjutkan aktifitas yang sempat terjeda. Sudah terbiasa berkutat dengan alat dapur dan seperangkatnya membuat Zara bisa menyajikan berbagai hidangan lezat dalam waktu singkat.
Sandara sendiri masih terpaku di tempat. Bola matanya ikut bergerak seiring tubuh Zara yang terus bergerak, kesana kemari tak kenal lelah. Rasa haus mulai menyiksa tenggorokan. Tak tahan, gadis itu bangkit untuk mencari tempat penyimpanan air.
"Bibi, aku haus." Sandara mendekati Zara.
__ADS_1
"Kau haus? Biarkan Bibi pelayan yang akan membuatkannya." Zara hendak memangil seorang pelayan namun Sandara mencegah.
"Tidak usah, biar aku buat sendiri saja."
"Baiklah."
Sandara pun mengungkap jika ingin membuat Teh hangat untuk dirinya. Seorang koki memintanya untuk lebih dulu menyeduh air panas dalam sebuah wadah. Gadis itu mengikuti intrupsi yang ada. Memasukan air dalam sebuah wadah dan memanaskannya di atas api kompor.
Zara mengernyit namun membiarkan Sandara untuk berbuat sesuka hatinya. Bukankah pagi menjelang siang seperti ini lebih enak jika meminum sesuatu yang segar?. Akan tetapi tak berguna bagi Sandara yang menginginkan teh hangat.
Sanda mempersiapkan satu buah gelas dan satu kantong teh celup yang hendak ia seduh dengan air panas, hingga saat air yang ia panaskan mendidih ia pun lantas mengangkatnya dan akan ia tuang ke dalam gelas.
"Aw.." Suara teriakan mengejutkan koki yang sedang membuat puding untuk hidangan penutup makan siang. Lekas menoleh ke arah sumber suara, koki itu terkesiap saat melihat sang nyonya meringis kesakitan dengan tangan memegang lengan.
"Bibi, maaf."
Suara Sandara kembali mengejutkan sang koki saat melihat wadah yang beberapa menit lalu digunakan gadis itu untuk merebus air sudah tergeletak dengan air yang menggenang di lantai.
"Nyonya!" Sang koki berteriak hingga mengejutkan para pelayan lain. Mereka tergopoh, lekas mengerubungi sang nyonya yang meringis seraya memegangi lengan.
"Bibi, aku minta maaf. Demi tuhan, aku tidak sengaja menumpahkannya." Sandara mengiba. Wajahnya pucat, ketakutan. Sementara koki dan para pelayan sigap bergerak. Memberikan pertolongan pertama pada sang Nyonya dan membereskan kekacauan yang ada.
Tbc.
Salam termanis untuk pembaca setia. Dimohon dengan sangat kakak² pembaca untuk tidak meng Skip/ melewati setiap part yang ada. Sebab kalau bacanya cuma buka tutup aja, itu tidak terhitung dalam jumlah pembaca alias 0. Sedih sangat🤧 Sebenarnya mau ngasih tau ini dari beberapa waktu lalu karna sempet syok dengan sistem otomatis NT yang sering berubah-ubah. Bayangin aja, Kakak² pada like bahkan komen di novel, tapi dicek dijumlah pembaca angkanya 0, pastinya nyesek 'kan?🤧
Lah jadi curhat kan😅
Intinya, ya ga papa sih. Hanya saja sekedar ingin mencurahkan uneg-uneg yang sempat terpendam kurang lebih satu bulanan ini. Malas nulis? Pernah😅 Lebih tepatnya bukan malas tapi syok dan kecewa dengan sistem, tentu saja. Bukan dengan kakak² pembaca loh ya.
Aku selalu berterimakasih pada pembaca atas dukungan like bahkan komentarnya. Sungguh, setiap like dan komentar yang aku dapat seperti hal yang begitu berharga untukku. Aku selalu berterima kasih untuk itu.
Aku menikmati setiap proses yang ada saat menulis. Dalam kisah sederhana yang kurangkai sendiri. Meski cukup banyak kendala saat memprosesnya disela kesibukan dunia nyata yang semestinya tapi aku selalu menikmati karna aku menyukainya.
Semoga otor abal-abal ini bisa menulis cerita ini sampai tamat, tentunya seiring dukungan dan semangat dari Kakak² semua. Sekian uneg-uneg plus curhatan dari aku 😂 Sekali lagi mohon jangan di skip ya akak² kece. Trimakasih. Aku padamu💗
__ADS_1