
"Paman, benarkah?."
Seperti berada dalam alam khayal yang dipaksa kembali ke alam nyata, Zara seolah berada dalam kegamangan. Di satu sisi ia percaya namun di sisilain dirinya masih belum percaya seutuhnya. Memang dirinya memiliki keyakinan besar tentang seseorang gadis yang begitu mirip dengan Anastasya, akan tetapi tidak menjadi kemungkinan jika paras keduanya hanya kebetulan mirip dan bukan karna keturunan.
Pagi ini, dirinya bersama Pram kembali memilih tempat sepi untuk bertemu dan berbicara, dan pagi ini pula Pram membawa kabar yang begitu mengejutkan bagi Zara.
"Benar, Nyonya." Pram menjawab seraya mengulurkan beberapa lembar foto dari hasil pengintaiannya di kediaman Anastasya dan juga di toko bunganya. "Dengan terpaksa saya bekerja sama dengan pengawal keluarga Nyonya Anastasya untuk mempermudah," sambung Pram.
Tangan Zara bergetar bahkan sebelum menyentuh foto-foto pemberian Pram. Kini sepasang matanya mulai memanas dan siap meluruhkan bulir bening ketika wajah-wajah Anastasyalah yang benar-benar terlihat dari sebagian lembaran foto yang merupakan hasil bidikan dari pengawalnya tersebut.
"Pa-paman, i-ini foto Kak An--" Zara membekap mulut, tak sanggup menyebut nama Anastasya. Tangisnya pecah. Begitu selembar foto Anastasya ia tatap lekat.
"Benar, Nyonya. Gadis yang merupakan Sekretaris dari Tuan Ernest, memanglah putri kandung dari Nona Anastasya."
Zara kembali membekap mulut. Tangisnya benar-benar pecah. Pram yang menyaksikan, ikut merasakan haru. Sejatinya memang sudah sejak lama sang Nyonya mencari keberadaan Anastasya akan tetapi tak pernah menemukan hasil, dan pada hari ini semua seolah terbuka tanpa diduga.
"Sekian tahun Nyonya Anastasya seperti menghilang memang kenyataannya beliau tidak tinggal di indonesia, Nyonya Anastasya diboyong oleh suaminyake negara XX hanya selang beberapa hari setelah menikah." Pram mengingat kembali ucapan seorang pria yang semasa dulunya merupakan orang kepercayaan Kenan. Memang cukup sulit untuk meyakinkan pria tersebut untuk mengungkap jati diri Anastasya pada awalnya. Akan tetapi setelah Pram memberi alasan tentang tujuannya, maka pria tersebut mulai menguaknya.
"Awalnya, sangat sulit untuk bernegosiasi dengan para pengawal Nona Anastasya. Akan tetapi saya terus berusaha meyakinkan sampai mereka mau buka suara."
__ADS_1
"Lalu siapa suami Kak Anastasya?." Zara tau, Anastasya menolak kembali pada Rangga selepas perceraian waktu itu. Dan jika melihat dari hasil kerja Pram, bisa dikatakan jika hidup Anastasya pun tak jauh darinya. Bergelimang harta.
"Tuan Kenan Syailendra atau lebih tepatnya mendiang Tuan Kenan sebab beliau sudah meninggal sekitar satu tahun lalu."
Lagi, sebuah kenyataan seakan menghunjam dada Zara selepas beberapa kenyataan yang masih membuatnya kesulitan bernafas. Dadanya terasa sesak, seperti terhimpit benda besar ketika membayangkan kehidupan Anastasya selepas berpisah dari suaminya.
"Suami Kak Anastasya su-sudah meninggal?."
"Benar, Nyonya. Dan hal tersebutlah yang menjadi alasan Nyonya Anastasya kembali menetap di Indonesia."
"Ya, Tuhan." Zara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Berfikir, jika suami Anastasya telah tiada itu berarti jika Natasya hanya memiliki Ibu tanpa adanya ayah.
💗💗💗💗💗
Selepas bertemu dengan Pram, Zara bergegas menuju gedung Atmadja group, namun bukan ingin menemui Arka atau pun Ernest akan tetapi ingin menemui Natasya. Entah untuk tujuan apa, namun satu yang pasti jika Zara begitu ingin melihat wajah putri dari Anastasya tersebut meski hanya sebentar.
"Selamat siang, Nyonya."
Zara yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai ruang kerja sang putra, tiba-tiba disambut oleh Langit. Perempuan itu pun tersenyum, meski pandangannya liar, mencari keberadaan Natasya.
__ADS_1
"Selamat siang, Langit."
Langit sendiri cukup heran dengan kedatangan Istri dari pemilik perempuan, mengingat Arka sendiri pada saat ini sedang tidak ada di tempat. Arka sedang melakukan kunjungan rutin anak cabang di kota sebelah dan dijadwalkan selama dua sampai tiga hari. Lalu tujuan Zara datang sekarang apakah untuk menemui putranya?.
"Nyonya ingin bertemu dengan Tuan Ernest?." Sesungguhnya Ernest hanya menebak namun begitu sang Nyonya menganggukkan kepala, pria tersebut pun menjelaskan.
"Sebelum datang, apakah Nyonya tidak menghubungi Tuan Ernest lebih dulu?."
Zara menggeleng kemudian menjawab, "Karna terburu-buru aku tidak sempat untuk menghubungi Ernest lebih dulu."
"Tuan Ernest sedang ada meting dengan Tuan Rangga. Tuan Ernest menggantikan Tuan Arka untuk sementara waktu."
Penjelasan Langit membuat Zara menghela nafas. Pantas saja di meja kerja yang berada di depan ruang kerja Ernest, kosong. Jika Ernest keluar bukankah Natasya juga ikut bersamanya?.
"Apa Ernest keluar bersama Sekretarisnya?."
"Tentu saja, Nyonya." Langit menjawab cepat. "Natasya akan selalu menemani Tuan dalam berbagai kesempatan, apalagi yang bersangkutan dengan pekerjaan." Langit masih menjelaskan, namun fikiran Zara justru berlarian ketika mengingat bahwa Ernest dan Natasya sedang meting bersama Rangga.
Jadi, Natasya bertemu dengan Rangga?.
__ADS_1
Tiba-tiba Zara menelan salivanya susah payah. Perempuan itu membayangkan banyak hal. Apa mungkin setelah melihat wajah Natasya, Rangga juga berfikir sama seperti dirinya?. Dan apa Rangga pun menyadari jika wajah Natasya sangat mirip dengan Anastasya?.
Tbc.